Menyusuri Lingkaran Paskah: Tri Hari Suci – Jumat Agung

“Ibu, inilah anakmu…Anak, inilah Ibumu”

            Hmm, ketika membaca sepenggal kata tentang ibu dan anak di atas, kita akan langsung mengasumsikan bahwa Jumat Agung berkaitan dengan ibu dan anak. Tapi, apakah Jumat Agung itu, dan apa kaitannya dengan kalimat di atas?

Jumat Agung, ketika Yesus Kristus wafat di salib…

Dari sejarahnya, setelah Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama para rasul, ia segera menuju ke Taman Getsemani untuk berdoa. Di taman itu pula,Ia ditangkap. Lalu dibawa ke Imam Agung saat itu, Herodes (Raja wilayah daerah Yerusalem), pengadilan Pilatus (Gubernur pada waktu itu), dan akhirnya dijatuhi hukuman mati di salib setelah di dera.

Jumat Agung sebagai hari khusus untuk memperingati wafatnya Yesus Kristus, atau rekan agama lain menyebutnya, Nabi Isa Almasih. Di dalam ritus Katolik sendiri, dan dari beberapa Jumat Agung yang telah saya ikuti dalam hidup ini, pada pagi hari sekitar pukul 07.00 – 10.00 diadakan kegiatan Jalan Salib. Seperti dijelaskan pada artikel sebelumnya, Jalan Salib merupakan suatu devosi atau doa khusus untuk memperingati kisah sengsara dan wafat Kristus yang diwujudkan dalam 14 stasi. Dewasa ini, ibadah Jalan Salib dibuatkan visualisasi agar supaya umat lebih memahami esensi dari Jalan Salib itu sendiri, ujar seorang Romo yang memimpin ibadah Jalan Salib di Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya (22 April 2011).

Hal-hal teknis menyangkut Ibadah Mengenangkan wafatnya Tuhan Yesus Kristus

Setelahnya, pada jam 15.00 akan diadakan ibadah mengenangkan wafatnya Tuhan Yesus Kristus. Secara teknis, ada beberapa hal yan berbeda disini, pada awal masuk ibadat, Romo atau Pastor didampingi para misdinar masuk dan langsung mengadakan tiarap di depan altar. Hal ini untuk mengenangkan wafat Tuhan Yesus yang dipercaya wafat tepat pada pukul 15.00. setelahnya dilanjutkan dengan Liturgi Sabda.

Di dalam Liturgi Sabda, bacaan Injil yang digunakan adalah kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus yang dinyanyikan oleh petugas. Sangat megah!!!….tapi, ada pula gereja-gereja yang melakukan visualisasi saat Liturgi Sabda, seperti di paroki Raja Damai, Manado. Yang menarik di Liturgi Sabda adalah doa umat meriah. Doa umat meriah merupakan doa umat yang kira-kira berjumlah 10 (biasanya 4-5 doa) dan ada bagian-bagian tertentu umat diharuskan untuk berlutut, lalu berdiri, lalu berlutut lagi. Tapi, dalam praktek nyatanya, sudah kadang orang mempraktekkan doa umat meriah seperti itu.

Dilanjutkan dengan upacara penghormatan salib. Salib yang pada awalnya ditutup dengan kain berwarna ungu diarak dari belakang Gereja dan Imam akan menyanyikan, “Lihat kayu Salib, disini tergantung Tuhan, penyelamat dunia, mari kita sembahkan.” Akan diadakan tiga kali nyanyian dan per tiga kali itu, akan dibuka kain ungu tersebut. Setelah itu, Romo dan para pendampingnya, biasa juga dengan para misdinar akan mengedarkan salib ke depan umat, dan sama seperti waktu komuni, umat akan maju dan mencium salib sebagai tanda penghormatan kepada Yesus Kristus. Perlu ditekankah disini adalah, ini hanyalah sebuah lambang untuk menghormati Yesus yang wafat di kayu salib.

Masuk ke bagian selanjutnya, namun tidak dapat dikatakan Liturgi Ekaristi, karena setelah prosesi penghormatan salib, diadakan komuni.

Loh, komuni kok tidak ada perayaan Ekaristi? Bagaimana dengan hostinya?

Pertanyaan di atas akan menjawab juga tentang mengapa perayaan Jumat Agung tidak disebut sebagai misa Jumat Agung. Konsep dasarnya adalah, jika disebut misa maka ada perayaan Ekaristi dimana ada Doa Syukur Agung, yang secara khusus mengubah roti dan anggur menjadi lambang tubuh dan darah Kristus sendiri (konsekrasi). Sedangkan pada perayaan Jumat Agung, tidak ada konsekrasi. Hosti yang digunakan dalam komuni telah dikonsekrasikan pada malam Kamis Putih dan disimpan dalam tabernakel. Oleh sebab itulah, perayaan Jumat Agung tidak disebut sebagai Misa Jumat Agung.

Lalu, apa kaitannya dengan penggalan kata di atas?

Yap, sebelum Yesus wafat, di dekat salibnya berdiri Ibu Maria, beberapa Maria lainnya, dan Yohanes (murid yang paling dikasihi Yesus), dan itulah perkataan Yesus kepada Maria dan Yohanes. Tidak ada unsur apa-apa disini. Disini hanyalah pandangan subjektif dari saya. Perayaan Jumat Agung selalu terkait dengan kegigihan dan ketabahan Bunda Maria ketika melihat Yesus, putra tunggalnya tergantung di salib. Hal ini seringkali membuat saya begitu emosional karena teringat akan ibu saya. Hmm, di salah satu perhentian Jalan Salib, yaitu perhentian ke-5, Yesus berjumpa dengan ibuNya. Yang paling mengharukan buat saya adalah ketika mereka tidak saling berbicara namun dengan pandangan ibu Maria, Yesus mendapatkan tambahan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan salibNya yang kian berat. Begitu pula dengan ibu ketika saya mulai jatuh, hanya lewat pesan singkat di telepon genggam membuat saya kuat dan tidak berhenti untuk melanjutkan karya saya. Terima kasih mama. Artikel ini saya persembahkan untukmu, untuk semua semangat yang mama beri…tapi saya yakin, ketika ia membaca artikel ini, hanya satu kalimat yang akan ia berikan sebagai tanggapan, “Jangan terlalu emosional!”…thank’s mom!

Selamat menyambut pesta Paskah, Yesus telah wafat di salib kini Ia bersiap untuk bangkit dengan mulia!!!

Bersambung…..

6 thoughts on “Menyusuri Lingkaran Paskah: Tri Hari Suci – Jumat Agung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s