Menyusuri Lingkaran Paskah: Tri Hari Suci – Kamis Putih

“Inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu. Inilah darahKu yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini akan peringatan kepadaKu”

“Jika Aku, guru dan Tuhanmu membasuh kakimu, demikian pula kalian saling membasuh satu sama lain – Yesus”

Penggalan mazmur yang dinyanyikan saat perayaan malam Kamis Putih ini membawa umat semakin hanyut dalam persiapan menyambut sengsara Tuhan Yesus Kristus di keesokkan harinya. Setelah diawali dengan Hari Raya Minggu Palma, pekan suci memasuki inti dari Pekan Suci itu sendiri, Tri Hari Suci, yang terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Ketiga hari ini merupakan rangakaian hari inti dimana dari masa pra-paskah kita mempersiapkan diri untuk mengenangkan kisah sengasara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Tri Hari Suci diawali dengan perayaan Kamis Putih

Kamis Putih

            Inti dari perayaan Kamis Putih ini adalah mengenang perjamuan malam terakhir (The Last Supper) Yesus Kristus dengan para sahabatnya (para rasul). Namun, esensi dari perayaan ini adalah Yesus sendiri secara nyata mengajarkan dua hal, yaitu, mengenangkanNya lewat perayaan Ekaristi dengan menyambut roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya, serta melayani sesama.

Jelas sekali terlihat bahwa sebelum Yesus mengadakan perjamuan terakhir, ia membasuh kaki para muridnya. Dari sini ia mengajarkan kepada kita tentang arti pelayanan sekalipun kita adalah guru, bos, tuan, atau apalah petinggi yang diselendangkan di pundak kita. we are still a servant, whatever who we are. Namun, memang kita tidak bisa secara gamblang langsung mengartikan sebagai pelayan dalam arti sesungguhnya. Kita memiliki prosi masing-masing atau saya lebih menyukai menggunakan kata “peran “. Di dalam peran itu, kita memiliki tanggung jawab masing-masing, dan disitulah kita mewujudkan karya pelayanan yang Yesus ajarkan. Kita semua tanpa terkecuali!!!

Lalu, yang kedua, ia melaksanakan perjamuan malam terakhir dengan melambangkan roti dan anggur yang mereka santap sebagai lambang tubuh dan darah Yesus sendiri. Makanan rohani itu seakan dan bahkan harusnya menjadi kekuatan bagi diri kita untuk melaksanakan karya pelayanan di dalam tiap tugas dan tanggung jawab kita masing-masing.

Secara teknis di dalam misa, perayaan ini terbagi menjadi Pembukaan, Liturgi Sabda (tanpa “Aku Percaya”, salah satu doa di dalam Liturgi Sabda sebelum doa bersama), Upacara Pembasuhan Kaki, Liturgi Ekaristi, dan Penutup. Untuk acara pembasuhan kaki, setelah renungan, para “rasul” biasanya berasal dari kaum bapa yang ditunjuk secara khusus sebagai wakil dari “rasul” yang sebenarnya, berjumlah 12, dan mereka akan di basuh kakinya oleh Imam sebagai lambang Yesus mengajarkan kepada kita, even God want to serve us!

Setelahnya dilanjutkan dengan acara perarakan Sakramen Mahakudus ke dalam tabernakel lain. Sakramen Mahakudus adalah hosti yang telah diberkati dan dimasukkan ke dalam Mosntrans (alat atau sarana untu pentakhtaan Sakramen Mahakudus) atau Sibori (sejenis piala untuk perjamuan). Lalu disepanjang perarakan ini, Monstrans atau Sibori tersebut akan didupai oleh wirug. Dilanjutkan dengan acara Tuguran, atau berjaga semalam suntuk bersama Yesus. Di dalam acara Tuguran ini, bisa saja umat secara pirbadi atau berkelompok baik di gereja maupun di rumah berdoa bersama-sama, seakan menjadi seperti tiga murid Yesus yang menemani Yesus di taman Getsemani ketika Ia berada dalam Sakratul Maut.

Kamis Putih memberi kesan sangat mendalam buat saya. Pada saat akan bertugas untuk mendupai perarakan Sakramen Mahakudus, wirug yang hendak saya gunakan bermasalah (rantainya putus), alhasil, kami tidak menggunakan wirug namun diganti dengan alat seperti perapian. Hal ini membuat saya cukup kecewa, karena tugas ini adalah tugas terakhir dalam ritus pelayanan sebagai misdinar diumur saya semakin senja (lebay!!!)….tapi, itu begitu adanya. Di saat kita telah menyatu dengan komunitas terlebih menyatu dalam tugas dan pelayanan, tiap tugas dan pelayanan itu akan menjadi sangat berarti dan bermakna.

Mengapa disebut kamis putih? Untuk hal ini, saya belum mendapat informasi yang pasti tentang ini. Tapi, sejauh perjalanan di dalam misa Kamis Putih selama bertahun-tahun, kebanyakan orang menggunakan baju putih serta altar dan sekitarnya dihiasi dengan serba putih.

 Bersambung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s