Menyusuri Lingkaran Paskah: Minggu Palma

           

 “Dikala Yesus disambut di gerbang Yerusalem. Umat bagai lautan dengan palma di tangan.”

Kalimat di atas merupakan penggalan dari lirik lagu yang dinyanyikan pada awal perayaan misa hari raya Minggu Palma.

Setelah memasuki masa pra-paskah selama 40 hari, umat Katolik di seluruh dunia akan memasuki minggu sengsara atau juga biasa disebut Pekan Suci. Pekan Suci ini ber-esensikan tentang pengenangan kembali kisah perjamuan malam terakhir, sengsara, wafat dan Kebangkitan Kristus Yesus. Pekan Suci ini dimulai dengan perayaan Minggu Palma

Apa itu Minggu Palma?

            Menyusuri sejarah, sebelum Yesus wafat di salib, Ia kembali ke Yerusalem meskipun Yesus mengetahui bahwa ia akan memasuki masa-masa penderitaanNya. Ia begitu dielu-elukan saat memasuki Yerusalem. Dengan menunggangi seekor keledai, ia memasuki kota Suci itu (Pengen kesana!!!…huhuhu) dan orang-orang menyambutnya bak seorang raja!

            “Hosana, Hosana, Hosana bagi Allah di tempat yang tinggi! Inilah Dia, sang raja!”

Teriakkan sorak sorai dari rakyat Israel menemani Yesus memasuki kota itu. Mereka tidak hanya berteriak, ada yang menanggalkan pakaian atau jubahnya dan diletakkan di lantai sebagai jalan agar Yesus lewat. Ada pula yang menggunakan daun-daun palma dan bersorak-sorai.

            Perayaan itu diperingati hingga sekarang dan dijadikan sebagai awal dari Pekan Suci ini. Secara teknis, di dalam misa atau perayaan Ekaristi, Imam akan memberkati palma dengan dupa dan air setelahnya akan mengarak ke Altar, lalu memulai perayaan Ekaristi seperti biasa, yaitu, Pembukaan, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Penutup.

Kenangan Akan Daun Palma…

            Saya mengetahui bahwa hidup itu tidak akan pernah berhenti di suatu perputaran waktu atau mungkin simpelnya, waktu tidak akan diam. We must move on! Kenangan menjadi misdinar dalam pelayanan terakhir di Paroki Raja Damai, Manado membuatku bangga. Kala itu, bertugas sebagai pembawa wirug (alat yang digunakan untuk mendupai), kami melakukan perarakan dari SD RK 16, Kota Manado menuju gereja. Perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit, dan kami pun berarak dengan kusuknya! Lalu, misa berjalan seperti biasa.

            Beberapa tahun telah terlewati, masa-masa pelayanan itu, menghantarkanku sekarang ke depan altar Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya. Dengan menggunakan baju kebesaran misdinar yang berwarna merah, mereka berarak menuju altar untuk melaksanakan tugas misdinar itu. Sungguh, ketika kita memang benar-benar menyadari tugas dan tanggung jawab yang di dalamnya terdapat penghayatan penuh, itu akan terekam di memori kita, mungkin dan semoga hingga akhir hayat agar mengenangnya sebagai kenangan yang terindah…tapi, sudahlah, we must move on!

Bersambung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s