Menyusuri Lingkaran Paskah: Masa Pra-Paskah

Setelah dibuka dengan perayaan hari Rabu Abu, masa prapaskah pun dimulai. Lama dari masa ini adalah 40 hari (tidak termasuk hari minggu di dalamnya).

Mengapa 40 hari?

Angka “40” mempunyai makna spiritual khusus sehubungan dengan masa pra-paskah tersebut. Di Gunung Sinai, untuk menerima Sepuluh Perintah Allah, “Musa ada di sana bersama-sama dengan Tuhan empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air” (Kel 34:28). Elia berjalan selama “40 hari dan 40 malam” ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (= Sinai) (1 Raj 19:8). Dan yang terutama, Yesus berpuasa dan berdoa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum Ia memulai pewarataanNya di hadapan banyak orang (Mat 4:2) – www.pondokrenungan.com

Dari sini saya mencoba merefleksikan, bahwa ada keseuaian antara latar belakang pemilihan 40 hari dan tujuan dari masa prapaskah ini. Dari asal mula sejarah di atas, 40 hari selalu berkenaan dengan persiapan atau penantian ataupun sebuah perjalanan. Yaaa, sekiranya itu yang saya tangkap disini. Begitu pula dengan 40 hari di dalam masa pra-paskah ini. Kita pun sebagai orang Katolik khususnya berada di dalam masa penantian dan di dalam penantian itu kita pun senantiasa berjalan lebih menuju kepada terang pertobatan, yaitu lewat jalan pertobatan itu sendiri. Kita sedang melangkahkan kaki kita untuk menyambut Kristus Yesus yang akan menyalibkan dosa kita bersama-Nya dan bangkit dengan kemuliaan. Meskipun inti yang sering kita tahu tentang masa ini, yaitu pertobatan, tetapi menurut saya, lebih kepada kita yang sedang menanti Kristus dan yang akna berjalan bersamanya. Pertobatanlah sarana utamanya bukan “the main essence”

Itulah kira-kira esensi dari masa pra-paskah ini. Namun, tidak hanya itu. Ada dua hal yang mewakilli secara nyata bentuk dari penantian dan perjalanan kita di dalam masa ini yaitu, puasa pantang dan aksi puasa pembangunan. Di dalam ritus Gereja Katolik, di dalam masa pra-paskah ini diharapkan untuk berpuasa dan berpantang

Puasa dan Pantang

Berpuasa dalam arti makan kenyang satu kali dan menurut budaya di dalam keluarga saya, berpuasa itu dilakukan pada hari Rabu Abu, dan setelah perayaan Kamis Putih yang diakhiri setelah menerima komuni di misa Jumat Agung. Yang berkewajiban untuk puasa menurut hukum Gereja Katolik yaitu, semua orang yang berusia 18 tahun ke atas – 59 tahun. Sedangkan berpantang adalah tidak menggunakan atau apa saja yang menjadi suatu kesenangan di dalam diri kita. Dalam arti, seperti rekan saya, ia menyukai yang manis-manis seperti minuman manis, oleh sebab itu, selama masa pra-paskah ini ia berpantang terhadap hal itu. Pantang ini tidak tentu akan harinya. Tetapi di dalam ritus Gereja Katolik yang saya kenal adalah setiap hari rabu dan jumat. Namun, ada pula yang tiap hari melakukan pantang.

Aksi Puasa Pembangunan

Lalu setelah pantang dan puasa, diadakan pula Aksi Puasa Pembangunan atau APP. APP khususnya di Indonesia selalu memiliki tema-tema yang disesuaikan. Tema-tema inilah yang menjadi dasar permenungan di dalam masa pra-paskah ini. Namun, selain itu, bentuk konkrit dari APP adalah dengan menyisihkan materi dalam bentuk uang atau apapun untuk disumbangkan. Teringat pada zaman SD hingga SMA, setiap kali ada APP, pasti kita akan melakukan permenungan bersama lalu tiap hari kotak APP dijalankan.

Seperti itulah masa pra-paskah dan juga dasar warna liturgi selama masa ini adalah ungu yang tetap melambangkan pertobatan, penyesalan, dan mencoba melakukan pembaharuan hidup.

Jalan Salib

Salah satu yang paling berkesan dimasa ini adalah devosi Jalan Salib atau via dolorosa. Di dalam devosi ini, diadakan jalan salib untuk mengenang kembali kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus. Di dalam jalan salib ini terdapat beberapa perhentian yang terdiri dari 14 perhentian. Di tiap perhentian ini kita diajakn untuk mendengar dan mengetahui tentang perjalanan salib Yesus dari Ia dijatuhi hukuman mati hingga Ia dimakamkan. Selain itu, di dalam ibadah jalan salib ini ada renungan-renungan serta doa yang digunakan. Jalan salib biasanya dibuat visualisasi atau drama pada saat ibadah Jalan Salib pada Jumat Agung atau pada saat Misa penghormatan Salib pada Jumat Agung juga. Apa bedanya? Akan saya bahas di “Menyusuri Lingkaran Paskah: Tri Hari Suci – Jumat Agung”

Bersambung ……

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s