Menyusuri Lingkaran Paskah: Hari Rabu Abu

Tanpa menonjolkan suatu kepercayaan tertentu, disini saya ingin membahas tentang salah satu lingkaran tahun Liturgi di Gereja Katolik. Tujuan dari penulisan sekuel ini adalah untuk membagikan informasi kepada khalayak ramai, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui tentang salah satu bagian besar dari lingkaran tahun Gereja Katolik yaitu, Paskah. Selain itu pula, artikel-artikel ini khususnya saya dedikasikan untuk Cecilia A Vicky Alexander Liem, Floretta Pio, dan Budi Santoso serta seluruh rekan-rekan saya khususnya Putra-Putri Altar Paroki Raja Damai, Manado…

Sebelum menuju ke Paskah, ada beberapa rangkaian perayaan yang tersusun dalamnya yang biasa disebut pra-paskah. Pra-paskah merupakan masa dimana  kita, sebagai umat Katolik, mempersiapkan diri untuk menyambut pesta terbesar di dalam ritus ajaran agama Katolik, yaitu Paskah. Masa Pra-paskan berlangsung selama kurang lebih 40 hari dan dimulai dengan Hari Rabu Abu.

Rabu Abu

Rabu abu adalah awal dimulainya masa pra-paskah, atau masa sebelum paskah. Untuk sejarahnya, saya mencoba mengambil dari salah satu sumber yaitu dari artikel Romo William P. Sanders, yang berjudul “Rabu Abu:  Asal Mula Perayaan dan Penggunaan Abu”.

“Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya. Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21). Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan. Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.”

Lalu, darimana abu itu berasal?

Di artikel selanjutnya akan dijelaskan tentang perayaan Minggu Palma yang secara garis besar adalah menyambut Nabi Isa Almasih ketika masuk ke Yerusalem. Disitu, Ia disambut bak raja dan dieluk-elukan dengan menggunakan daun-daun palma. Perayaan itu masih ada hingga sekarang, yaitu menggunakan daun palma. Bekas daun palma di tahun sebelumnyalah yang akan dibakar lalu dijadikan abu.

Abu disini akan melambangkan pertobatan kita sebagai manusia. Kita adalah berasal dari abu dan akan kembali kesana pula. Sebelum menyambut pesta Paskah, haruslah kita mempersiapkan diri secara lahir batin dengan bertobat. Oleh sebab itu, hari rabu ini adalah awal dari serangkaian devosi tobat kita sebelum menyambut pesta Paskah.

Secara teknis, perayaan hari rabu abu ini sama seperti perayaan Ekaristi atau misa seperti biasa yaitu dengan urutan, pembukaan – liturgi sabda – liturgi Ekaristi – penutup. Tapi, pada liturgi sabda ditambahkan upacara penerimaan abu yang didalamnya terdiri dari pemberkatan abu, serta pemberian abuu terhadap umat. Umat akan maju satu per satu atau berbaris, untuk mendapatkan abu dari pemimpin misa ataupun petugas lainnya yang ditugaskan. Mereka saat akan menerimakan abu akan mengatakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Engkau berasal dari abu maka engkau akan kembali kepada abu.” Abu ini akan dikenakan pada dahi umat dengan cara membuat tanda salib di dahi.

Jadi, perayaan hari rabu ini lebih memiliki esensi akan mulainya masa pertobatan secara khusus dari tiap umat manusia. Entah siapapun dan kapanpun itu, Tuhan maupun Allah akan memberikan pengampunan bagi yang bertobat, hanya saja, perayaan hari rabu abu ini lebih dikhususkan dalam liturgi Gereja Katolik sebagai awal masa pertobatan dan persiapan diri untuk Paskah, yaitu, pra-paskah.

            Bersambung …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s