Hi, Guthrie!

Hari ini saya berkenalan dengan Guthrie, seorang yang katanya assosianisme tapi setelah saya dalami, ia juga tidak terlepas dari prinsip S-R yang selalu melingkar pada behaviorisme. Ia merupakan salah satu ahli psikologi aliran behavioristik yang juga menjelaskan tentang belajar.

“belajar adalah hal yang sederhana. Cukup bisa mengasosiasikan stimulus-respon, ya dia sudah dikatakan belajar. Selain itu, kehadiran sign atau cues itu yang akan memberikan alasan mengapa individu itu berperilaku. ”

Law of contiguity merupakan teori utama dari behaviorer yang memiliki nama lengkap Edwin Ray Guthrie ini. Ia menyatakan bahwa individu akan mendapatkan suatu hal dan hal itu memberikan pengaruh ke lainnya dan itu terjadi secara terus menerus. Simpelnya, A ada karena –A, dan A akan mengadakan B, lalu B mengadakan C, dan seterusnya.

Saya sependapat tentang beberapa teori yang ia kemukakan, seperti teori Movement Produced Stimuli. Di dala teori itu dikemukakan bahwa di tiap proses belajar individu terdapat chaining atau proses berantai. Sebagai contoh adalah sebelum kita belajar di dalam kelas, ada beberapa kegiatan yang kita lakukan, dan itu akan saling berpengaruh. Misalnya, sebelum kelas, kita makan siang di kantin lalu berjalan ke kelas, dan akhirnya belajar di dalam kelas. Ataupun dalam teorinya tentang forgetteness bahwa jika informasi yang didapatkan individu ketumpuk dengan informasi lain, maka inforasi pertama tadi akan cenderung lupa. Sehingga dapat dijelaskan disini bagaimana kita bisa melupakan suatu hal. Contoh paling konkrit adalah ketika kita akan belajar tentang pengalian pada minggu lalu, dan pada minggu ini belajar pengurangan, sehingga pada saat di ujikan kita akan cenderung untuk mengingat yang pengurangan. Ya, mungkin memang kita pun akan berpikir, “loh, gak bisa digeneralisasi seperti itu. Bukannya kita saat belajar juga akan mengalami peningkatan pengetahuan, atau apalah?” ya, memang benar, untuk itulah juga Guthrie melanjutkan bahwa ada teori tentang peningkatan performansi lewat pengulangan.

Namun, itu hanya sebatas memandang inidividu secara satu bagian. Untuk itulah, saya pun kurang setuju dengan konsep Guthrie secara umum yang memandang bahwa proses belajar ketika hanya individu mampu mengasosiasikan S-R. Lalu bagaimana dengan trial-error ataupun ketika kita baru mencoba-coba dalam melakukan sesuatu? Apakah itu juga bisa di sebut belajar? Bagaimana ketika kita akan melaksanakan sesuatu dan tidak dilaksanakan akan alami kekecewaan? Ataupun proses belajar cara shortcut???

                Saya malah lebih setuju dengan Hull dengan segala ke-kompleksitasnya postulat dan berbagai teori-teori mini di dalamnya namun setidaknya ada titik terang untuk menjelaskan bagaimana manusia itu berperilaku dan dimana didalam postulat yang ribet itu dapat dijelaskan setidaknya lebih detil bahwa manusia itu punya potensi untuk melakukan sesuatu tapi bisa saja tidak dapat melaksanakannya karena satu dan lain hal (hambatan atau kelelahan). Tapi sebelumnya, ya, apabila kita mendalami tentang proses belajar, pasti kita hanya bisa dapat menjawab sejauh “how” tidak sampai “why”, karena, ya memang, belajar lebih ke perilaku-perilaku bukan menjelaskan mengapa perilaku itu muncul dan sebagainya. Sehingga, behavioristik yang sangat berperan penting dalam proses belajar disamping aliran psikologi lainnya pun lebih cenderung ke “how”.

Disini saya tidak akan membahas Hull secara mendalam, tapi saya hanya ingin menyatakan ketidaksetujuan saya tentang teori Guthrie yang memandang segala sesuatu itu sederhana atau simple. Contohnya, di desa gorden di buka hanya dengan menarik gorden tersebut, tapi di kota, harus seperti ditarik, nah, orang dikatakan belajar ketika ia berhasil membuka gorden tersebut dengan cara ditarik ketika ia berada di kota. Wow, berarti hanya melihat hasil donk? Bagaimana dengan beberapa proses yang terjadi sebelumnya? Tadi katanya ada proses chaining, atau paling tidak teori utamanya adalah Law of Contiguity, mengapa dalam contoh konkrit orang dikatakan belajar hanya dilihat dari hasilnya???

Namun, disini memang kita tidak dapat mengatakan bahwa ada teori yang sempurna ada teori yang tidak sempurna. Kesemua teori itu setidaknya adalah berasal dari satu yang sama, pemikiran manusia. Entah teori itu diterima atau tidak, setidaknya juga satu teori mendukung teori lainnya meskipun ada hal-hal yang bertentangan. Itulah keunikan bagaimana kita memandang dan mencoba masuk ke manusia. Lebih kompleks dibandingkan teori e=mc2 ataupun rumus luas persegi adalah panjang kali lebar. Pemaknaan yang mendalam serta pengkritisan akan suatu teori yang dikesinambungkan dengan teori lain sangatlah penting, terutama bagi kita yang bercokol dengan teori-teori itu sendiri.

Satu hal disini, teori bukanlah harga mati yang harus kita pegang teguh, karena biar bagaimanapun teori adalah hasil manusia bukan saklek hukum alam semesta yang tidak bisa diubah. Guthrie, dalam segala kesetujuan dan ketidaksetujuan saya terhadap teorinya membawa saya ke suatu perefleksian bahwa perlu kita mengkritisi teori-teori yang ada dan akhirnya, kita yang akan menentukan sendiri, I’m in or not.

Selamat malam rekan-rekan

Salam Brillian!!!

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s