Fenomena “Keautisan”

 Ada suatu trend sekarang dimana orang cenderung berkomunikasi dengan cara ini, chatting. Baik tua maupun muda menggunakan berbagai aplikasi teknologi yang berkembang seperti YahooMessanger!, Blackberry Messanger, atau pun fasilitas chatting di jejaring sosial seperti facebook.com.

Namun, yang kian berkembang sekarang adalah penggunaan Blackberry Messanger yang merupakan salah satu aplikasi Blackberry smartphone buatan Research in Motion. Banyak yang menggunakan aplikasi ini untuk sekedar bertegur sapa, ataupun membangun komunikasi antar sesama pengguna BBM (singkatan dari Blackberry Messangger) serta berbagi informasi antar pengguna. Inilah fenomena menarik yang muncul, hingga di kaula muda khususnya, muncul istilah “autis”.

Ketika Anda memiliki Blackberry smartphone yang pada umumnya memiliki aplikasi BBM, anda akan disebut “autis”. Mengapa? Ya, karena pada umumnya, tiap saat, bahkan tiap detik, Anda akan selalu memencet-mencet telepon genggam Anda itu dan yaaa, pada umumnya menggunakan BBM untuk chatting. Menurut hasil diskusi saya dengan rekan-rekan khususnya bagi yang menggunakan Blackberry smartphone, fasilitas BBM ini sangatlah menarik. Hal ini menjadi salah satu alternatif untuk tetap berkomunikasi dengan rekan secara intens ataupun mendapatkan berbagai informasi dari salah satu fasilitas di dalamnya yaitu sharing message via broadcast message.

Tapi, inilah yang terjadi bahwa fenomena individualitas makin muncul. Dalam arti, kehidupan manusia yang notabene adalah makhluk sosial dan berinteraksi dengan sesama secara langsung mulai sedikit terkuras. Mungkin Anda akan bertanya,

“Emang semuanya? Trus, kan chatting, jadi gak mungkin donk interaksi dengan sesama berkurang. Yang pake BBM juga kan komunikasi dengan orang.”

Ya, tapi disini yang dimaksud adalah komunikasi langsung. Saya setuju dengan pendapat Thorndike dengan teorinya tentang Belongingness, dimana ia menolak teori proximity Gestalt. Ia menyatakan bahwa, meskipun individu kelihatan dekat, belum tentu memiliki kualitas hubungan yang dekat. Berbeda dengan pendapat proximity Gestalt yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang berdekatan adalah dekat.

Contohnya, dua orang mahasiswa duduk bersebelahan. Ketika kita melihat dari belakang, keduanya tampak dekat, tapi ketika kita melihat dari depan, mereka berdua tidak dalam suatu hubungan kualitas yang dekat, tapi sibuk dengan gadget masing-masing. ketika dari belakang kita mendengar mereka tertawa, bukan berarti mereka tertawa karena candaan dari salah satu pihak, melainkan dari pihak yang berada “diseberang” sana.

Tidak hanya itu, fenomena ini juga makin menguatkan teori pengkondisian dimana individu yang telah terbiasa dengan menggunakan BBM, pada umumnya akan terkondisikan bahwa salah satu bagian dari hidup mereka adalah BB. Bahkan, dari beberapa hasil diskusi dengan rekan-rekan saya, mereka menyatakan,

“Mendingan aku lupa bawa buku daripada bawa BB.”

“loh, kok bisa gitu?” tanyaku.

“ya iya. Kan kalo ketinggalan buku tapi bawa BB bisa calling orang rumah untuk mengambilkannya.”

Ya, masuk akal sih pikirku. Tapi apakah memang demikian, atau masih adakah hal-hal yang lain yang menjadi alasan klasik mengapa BB menjadi salah satu “kebutuhan” manusia yang memilikinya.

Tapi, memang kehadiran gadget ini tidak bisa terlepas dari berbagai benefit  yang ditawarkan. Selain sebagai telepon genggam biasa dengan multifungsi komunikasi, gadget ini bisa menjadi alat sederhana untuk mengetahui tentang dunia. Sebagai contoh, salah satu jejaring sosial yang ter-aplikasikan di gadget ini dapat membantu para pembaca berita untuk mengetahui bahwa Jepang sedang mengalami tsunami, atau Libia sedang perang serta berbagai informasi lainnya.

Penggunaan gadget ini sendiri tidak dapat terlepaskan dari, ya, kembali lagi seperti yang di atas, trend. Orang dikatakan trendy bila menggunakan Blackberry smartphone atau gadget sejenis. Ya, stereotypenya seperti itu. Sehingga, fenomena menghadirkan banyak motivasi bagi para peneliti muda, seperti para mahasiswa untuk mengadakan penelitian tentang ini. Berbagai hasil didapatkan dari pembahasan fenomena ini. Tapi, yang pasti, ini hanyalah sebagian kecil fenomena yang hadir di tengah-tengah perkembangan telekomunikasi dan teknologi yang makin hari makin deras arus perkembangannya.

Ketika kita dihadapkan kepada fenomena ini, sikap dan cara menghadapi kita pun berbeda-beda. Tapi yang pasti, filterisasi dan sikap kritis perlu ada disini, sehingga teknologi serta globalisasi yang mengarus deras sampai ke Indonesia ini bisa berguna bagi kita semua demi peningkatan kualitas sebagai manusia. Toh tujuan dari teknologi adalah membantu hidup manusia, bukan???

Selamat siang kawan-kawan

Salam Brillian!!!

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s