Temukan Kesenangan dalam Bermain

Kelas sudah usai. Mereka sudah turun duluan, sementara saya masih sibuk membuat laporan tentang keadaan kelas tadi. Ada Rico, ivana, Alan, Nico dan Alex yang telah menyelesaikan berbagai pelajaran. Mereka mengajakku agar segera turun ke bawah untuk beraktivitas bersama mereka. Ya, setelahnya, saya pun membereskan barang-barang, dan segera menemui mereka. Di lantai bawah ternyata mereka sedang bermain gasing modern atau yang dikenal dengan nama beyblade. Terakhir kali saya memainkan permainan ini ketika saya masih duduk di bangku SD sekitar tahun 2002. Ya, sudah hampir 10 tahun saya tidak memainkan itu lagi. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan bagaimana kegembiraan mereka saat bermain itu. Bagaimana mereka begitu lepas ketika bermain, dan bagaimana mereka begitu asyik saling bermain bersama.

Perkembangan teknologi membawa kita ke sebuah fenomena yang, ya, bisa digolongkan sebagai fenomena klasik dewasa ini. Perkembangan teknologi berimbas kepada perkembangan di seluruh bidang kehidupan termasuk permainan. Berbagai permainan diciptakan sebagai salah satu sarana “rekreasi” bagi tiap individu dalam menjalani kehidupan mereka.

Huizinga mengatakan bahwa Manusia adalah Homo Ludens, makhluk bermain. Makhluk yang suka dan menciptakan permainan. Tujuan dari bermain adalah untuk mendapatkan kesenangan. Dan ia juga mengatakan tentang permainan itu akan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Tertarik dengan artikel yang saya baca, dan dihadapkan pada kenyataan, ternyata muncul gap disini. Pada artikel itu tertulis,

Fenomena pergeseran jenis permainan dalam masyarakat menjadi penting untuk dicermati mengingat pergeseran ini merupakan cermin dari perubahan sosial budaya masyarakat itu sendiri. Ada semacam kegelisahan mengenai punahnya berbagai macam permainan tradisional. Tidak ada lagi kita lihat sekarang ini terutama di masyarakat kota, dan mulai terjadi juga di masyarakat desa, anak-anak bermain “patek lele”, “gobak sodor”,”gatengan”,”petak umpet”, dan sejenisnya. Berbagai permainan tradisional itu berganti dengan permainan modern seperti “game komputer/online”, “Play Station”.

Jika kita cermati, pada permainan tradisional cenderung melibatkan banyak orang sedangkan dalam permainan modern tidak. Bahkan pada permainan modern, satu orang manusia bisa menjalankan permainan, karena lawannya adalah mesin, komputer. Pola permainan tradisional yang melibatkan banyak teman sebaya merupakan sarana sosialisasi yang baik: bagaimana mereka memahami karakter lingkungan sosialnya dari karakter masing-masing mitra bermain dalam permainan itu. Pola permainan tradisional mengandaikan interaksi dan interelasi antar manusia, sedangkan pada permainan modern interaksi dan interelasi itu disubtitusi dengan mesin. Ini kondisi yang banyak disebut dengan kondisi post-human.( http://filsafat.kompasiana.com/2010/06/16/homo-ludens/)

            Ya, aku setuju dengan penggalan artikel di atas. Tapi, di lapangan, Ahhh, tidak juga. Pada kenyataanya, memang bentuk mainan itu sendiri baik secara fisik dan cara memainkan tidak seperti petak umpet, dimana harus berlarian kesana kemari, atau seperti gobak sodor yang harus memiliki lahan yang luas. Memang, teknologi informatika sebagai salah satu penyumbang terbesar hadirnya permainan-permainan berbasis komputer rada “meng-a-sosial-kan” anak-anak, tapi, ada juga permainan-permainan modern yang ya, bahkan membuat perkembangan sosial anak itu menjadi baik.            

Pengalaman saya di tempat kerja membawaku hingga ke pemahaman seperti ini. Memang, zaman telah berubah, tapi, memang, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Dari kecil pun ia telah hadir sebagai makhluk yang membutuhkan orang lain. Ketika mereka tertawa bersama dalam memainkan gasing itu, atau ketika mereka serius bermain permainan kartu yang dinamakan UNO ataupun saat mereka asik membicarakan game-online (meskipun secara teknis memang game-online bermain secara individual), tapi relasi, komunikasi dan kemampuan penerimaan orang lain lewat bahasa yang dimediasi oleh permainan tetap saja ada. Tidak hilang. Mereka memerlukan orang lain untuk bermain. Mereka bermain bersama dalam ceria dan rasakanlah kemampuan komunikasi terbangun satu sama lain.

Ya, tentu saja. Kembali ke prinsip bahwa semua makhluk manusia adalah homo ludens, saya pun tidak mau ketinggalan dengan mereka. Mengambil gasing, memutar pelatuknya dan bermain bersama adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kita tidak akan mengerti apa itu permainan dan apa itu kepuasan dalam permainan apabila kita tidak terjun langsung ke dalamnya. Esensi permainan apa yang kita mainkan dengan apa yang kita lihat akan sangat berbeda. Mereka pun demikian. Begitu senangnya hingga saja melupakan waktu dan lupa apabila sudah di jemput atau belum. Yang pasti pada intinya, perkembangan teknologi memang membawa arus perubahan yang sedemikian kuatnya di seluruh kehidupan. Tidak tepat juga ketika ktia mengatakan sekarang makhluk hidup lebih ke arah individualitas. “lw ya lw, gw ya gw.” Ya, emang kebanyakan seperti itu. Tapi, itu tidak bisa menjadi peng-generalisasi-an bagi kita untuk menghujamkan pernyataan bahwa semua permainan modern atau pada umumnya permainan modern membawa dampak un-sosial bagi anak-anak sekarang. Gak semua. Ada beberapa permainan yang ya, mungkin di desain secara khusus agar supaya anak juga sebagai “pasar” dari permainan itu sendiri mengembangkan berbagai kemampuannya terutama yang diperlukan dalam hidup dengan orang lain.

Selamat malam teman, sudahkah Anda bermain hari ini???Saya bermain, dua kali…

Salam Brillian!!!

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s