Pelampauan Demon and Angel Cycle: Ketika Spiritual Berbicara

Pada pembahasan sebelumnya mengenai Demon and Angel Cycle terhenti sampai munculnya pertanyaan yang belum dapat saya jawab, yaitu, apakah manusia hanya sebatas hubungan Stimulus-Respon-Konsekuensi saja? Apabila hanya sebatas itu, dimanakah manusia dikatakan sadar, dimanakah manusia dikatakan eksis apabila hanya sebatas lingkaran itu yang membatasinya.

Dari kecil, bahkan saat kita masih di dalam kandungan, kita telah mempelajari konsep itu. Kita belajar lewat pengkondisian tersebut. Dalam suatu diskusi dengan Ibu penulis, beliau menyebutnya sebagai Nature Law. Hukum alam yang, ya, memang kita dari dulu, dari sananya akan tetap dihadapkan pada pilihan dan konsekuensi serta berbagai stimulus penyerta.

Tapi, dalam suatu diskusi dengan salah dosen penulis, menghadirkan sebuah insight bahwa ternyata ada yang melampaui  lingkaran setan dan malaikat itu. Sesuatu yang melebihi hukum stimulus-repson-konsekuensi menghantarkan saya pada pengetahuan bahwa ada adanya. Dalam belajar, tentu saja S-R-K tetap ada, tapi sikap, keputusan diri manusia tidak hanya dari situ saja.

Spiritualitas

Berasal dari kata spirit, spiritualitas mampu melampaui apa yang dinamakan pengkondisian stimulus-respon-konsekuensi yang hadir di dalam diri manusia semenjak ia masih menjadi bakal. Tidak peduli akan konsekuensinya, apapun itu di dalam spiritualitas, kita berbicara, “saya sadar maka saya…” Hal ini mungkin pernah saya bahas di dalam artikel saya yang berjudul, “Belajar dari Samurai” dimana dari idealisme yang ada di tiap diri disesuaikan dengan fleksibilitas kita, akan terlahir sebuah pertanyaan, “who Am I?” eksistensi. Ya, keberadaan. Tentang mengapa kita disini, mengapa kita ada dan berkarya, dan siapakah saya?

                Ernst Cassirer pun pernah mengatakan tentang hal ini bahwa manusia adalah suatu misteri yang menandaskan tentang adanya krisis pengenalan diri. Archimedes juga yang selama ini kita kenal sebagai tokoh yang ahli di bidang fisika berbicara mengenai hal ini, bahwa suatu problem terbesar manusia adalah ketika ia akan berhadapan dengan dirinya sendiri dan mencoba mengenali siapakah saya?

Kita lepaskan dulu semua teori yang telah dipelajari. Dalam spiritual kita akan banyak bicara tentang kesadaran. Mindfulness. Mengapa kita memilih agama A? Mengapa kita kuliah disini? ADA…Ya, konsep tentang ADA. Dalam spritual kita berADA. Disini, di waktu ini, here and now. ADA di tiap gerak, sikap, keputusan. Kita sadar bahwa terik matahari itu panas, atau angin berhembus dapat dirasakan oleh kulit, sadar bahwa kita menghembuskan napas, dan napas dapat membentuk embun ketika dihembuskan pada sebuah gelas. Itulah ADA. (salah satu pernyataan dari Dosen tersebut)

Seperti contoh, saya ingin mendapatkan nilai baik, oleh sebab itu saya akan belajar dengan tekun, menghafalkan semua teori, mengerjakan soal latihan, dan akhirnya akan mendapatkan nilai bagus. Apabila pada kenyataannya saya tidak mendapatkan nilai yang bagus, mungkin ada suatu hal yang di dalam diri saya yang akan menghambat. Yap, itu adalah bentuk pengkondisian sederhana, tapi ditambahkan juga dengan unsur ke-ADA-an itu bahwa, “Ya, aku sadar sekarang aku mau belajar, aku mau berusaha, agar supaya pada saat ujian nanti akan mendapatkan nilai baik. apapun nanti hasilnya aku akan belajar dan aku sadar bahwa aku ada dan belajar.”  Contoh yang begitu menjelimet dan memusingkan ketika kita harus berrefleksi tentang ke-ADA-an itu. Hal ini bisa saja jauh melampaui alam batas pemikiran kita namun pada intinya hal itu sangat dekat dengan kita. kesadaran. Ya, kita perlu sadar dalam arti kita tahu keberadaan kita dan kita tahu tentang bahwa kita ada.

Lalu, yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh kita sadar tentang ADA? Segimananya kita terhadap konsep ADA itu di dalam diri kita?…suatu pertanyaan yang akan membentuk pernyataan filsafat yang mungkin kian akan membentuk sikap reflektif kita terhadap ADA sehingga, kita tidak lagi terjebak dalam, yaaa, Demon and Angel Cycle karena kita tahu, kita sadar bahwa kita sadar, kita berperilaku seperti ini. Setidaknya kita tahu, bahwa semua pilihan kita, apapun konsekuensinya itu berdasarkan pada pilihan kita sendiri, bukan pada konsekuensi itu.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk masuk dalam spirtualitas kita. berbagai metode, atau sarana yang ya, semua telah kita ketahui bahkan sering kita praktekkan. Meditasi, taizei, Zen dan berbagai mmetode lainnya dapat membantu kita mengungkap sesuatu dibalik kesemuanya hukum alam stimulus-respon-konsekuensi itu.

Nah, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, lalu, ketika apa ketika kita sadar bahwa kita sadar? Pertanyaan filosofi yang tidak akan pernah berhenti terpacu dan terangkai dalam benak kita sebagai individu yang selalu mencari eksistensi dan dalam perwujudannya menuju estetika, sebuah nilai yang dipandang sebuah nilai keindahan bagi individu, yang membuatnya bermakna dan indah. Ya, indah, eksistensi itu indah, dan manusia itu pun adalah indah adanya…

Selamat siang rekan-rekan,

Selamat Beraktivitas…

Salam Brillian!!!

GBU

7 thoughts on “Pelampauan Demon and Angel Cycle: Ketika Spiritual Berbicara

  1. Filsafat eksistensialisme ya bro?. kadang inilah yang menjadi pro dan kontra. apakah ke-ADA-an itulah yang merupakan bentuk nyatanya? apakah itu yang sesungguhnya?

  2. hmm, yap. eksistensialisme…memang masih ada pro-kontra dan emang akan selalu ada, karena berbicara eksistensial tidk semua orang dapat memahaminya secara utuh, bahkan jarang orang memahaminya secara utuh,,,ke-ADA-anya akan selalu menjadi bentuk ketika kita memaknainya sebaai sesuatu yang ada. tapi untuk mengatakan apakah itu sesungguhnya, saya tidak begiotu yakin, sehingga di akhir artikel saya mencatumkan pertanyaan juga, bahwa apabila kita telah mengtahui ttg ADA, apa selanjutna???

    nah, bila orang tidak merasakan ADA, mungkin dia akan selalu terjbak pada Demon and Angel Cycle tadi…ketika seseorang pun terjbeak dalam ke-ADA-anya itu, ia akan selalu yaaa,,merasa selalu ada, dan mungkin saja, tingkat ke-ADA-annya akan lebh tinggi dari kita…hmm,,,balancing lah

  3. menurutku ya spiritual itu hanya ilusi saja jadi itu tidak nyata dan pembuktiannya untuk menyadari sebuah keADAan itu.
    Karena jika secara ilmiah kita tahu bahwa manusia sadar akan dirinya seperti bentuk tubuh, anggota tubuh, dia siapa.
    Bagaimana godzila?

    1. untuk spiritual yaaa, terserah kita emang mau dianggap ilusi atau tidak. tapi, apa itu ilusi sebenarnya???ketika kita sampai titik dimana kita tidak bisa menjelaskannya dengan akal, apa yang dapat melampauinya??spiritual…nahhh, berbicara spiritual juga mengandung arti kesadaran. saat kita sadar kita bisa mengerti, saat kita sadar kita tidak akan menjadi lupa…hmmm…untuk memahami lebih dari sesuatu, kita perlu spiritualitas ketika logika ilmiah tidak lagi berjalan, tapi tentu saja dalam menafsirkannya perlu ada pertimbangan logika yang matang….^^

  4. Menurutku kamu ada baiknya memahami tentang fase2 perkembangan kesadaran dalam pembahasan psikologi transpersonal.

    Pertama-tama, manusia memahami kenyataan sebatas realitas fisik/indrawinya saja. Tahap ini disebut tahap prepersonal.

    Setelah mulai memahami realitas itu lebih luas dari sekedar rangsang yang ditangkap kesan indrawinya, muncul dan berkembanglah rasio dalam diri manusia.

    Namun ternyata pikirannya itu juga tidak dapat memberikan pemahaman akan kebenaran yang utuh dan lengkap, makanya manusia mulai mencari itu di luar dirinya.

    Hal itulah yg menjadi cakupan bahasan psikologi transpersonal.

    Mengenai topik ini mungkin kamu bisa browsing sendiri, terus kita bahas kapan2. Gimana?

    1. manusia menggunakan common sense ketika ia tidak memiliki kecukupan pengetahuan ilmiah atau apalah itu. setelah itu, manusia akan mencapai tahapan pemahaman selanjutnya lebih ke spiritual, kesadaran ketika ilmiah tidak berhasil lagi jelaskan. tapi setelah itu apa? lalu apa? dan apa? berbagai pertanyaan muncul ketika kita mencapai tahap eksistensial apalagi ketika kita masuk ke eksistensialisme. akan sangat menarik diskusi ini bila jg kita bahas ttg ini mon…ide menarik…let’s find the right time with the right place…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s