Demon And Angel Cycle: Suatu Perpaduan dalam Konsep Stimulus-Respon-Konsekuensi

Saat sedang mempelajari Psikologi Belajar, tertanam konsep di dalam pikiran saya bahwasanya dua konsep utama yaitu, classical dan operant conditioning. Yang pada intinya, manusia berperilaku karena adanya hubungan antara stimulus dan respon serta adanya konsekuensi. Entah ada stimulus duluan sehingga muncul respon, atau kita memunculkan sebuah respon dulu baru diikuti konsekuensi.

Tampaknya jika mengkaji dan merefleksikan lebih dalam, kasarannya, kok kita, sebagai manusia, (maaf), hanya seperti anjing Pavlov atau burungnya Skinner ya? Ketika kita akan bertindak, kita akan berdasarkan pada pengalaman belajar kita, atau pengalaman akan konsekuensi yang akan diterima ketika melakukan sesuatu, ataupun kita seringkali hidup dalam pengkondisian. Kita makan karena kita lapar, kita sekolah agar pintar, kita lari ketika ada gempa, kita mencari uang karena kita perlu kebutuhan lain, bahkan sampai kebutuhan paling dasarpun ada unsur hubungan stimulus-respon, yaitu, kita perlu napas agar supaya kita hidup.

Wow, menjadi suatu pertanyaan dan dapat menjadi kecaman apabila saya terlalu menjelaskan tentang contoh terakhir, karena itu adalah memiliki keterkaitan dengan transenden. Tapi, disini saya ingin memberikan gambaran bahwa, kita, sebagai manusia, entah sadar atau tidak akan eksistensi dari hidup sebagai manusia itu sendiri kadang terjebak di suatu lingkaran yang saya namakan lingkaran setan malaikat.

The Demon and The Angel Cycle

Mengapa “demon” yang saya dahulukan? Mengacu pada prinisip demon itu sendiri adalah destruktif, ketika kita tidak bisa penuhi asosiasi antara stimulus-respon itu, cenderung manusia akan memberontak. Apa yang akan terjadi ketika kita tidak makan padahal lapar? Menggerutu, marah, atau bahkan berbagai tindakan lainnya yang, ya, bisa dikatakan destruktif. Namun, ketika itu semua dipenuhi, kita akan bagaikan malaikat, menjadi “damai”, tenang, tenteram, dan, hal ini akan membentuk sebuah siklus. Terjadi di tiap detik kehidupan dan aktivitas kita.

Eksistensi manusia saya pikir melebihi dari itu. Lebih dari sekedar manusia bertindak karena adanya hubungan stimulus respon yang hadirkan konsekuensi.

Tapi apa???apa yang melebihi itu???

Bahkan Saya berpikir aliran-aliran psikologi besar kurang dapat menjelaskannya. Lihat saja aliran behavioristik yang senyatanya mengatakan tentang manusia berperilaku karena adanya belajar. Belajar itu sendiri diperoleh dari 2 hal besar, operan dan classical conditioning. Senyatanya di dalamnya terdapat proses stimulu respon. Ataupun psikodinamika yang pada dasarnya alam bawah sadar, pengalaman masa lalu, dan pengalaman psikoseksual akan berpengaruh terhadap tindakan seseorang, bukankah itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon?

Mari kita petakan tentang psikodinamika dan konsep S-R tersebut. Masa lalu merupakan stimulus yang hadir bagi individu, individu akan “terpengaruh” dan berperilaku sesuai dengan masa lalunya itu, dan karenanya individu akan melakukan respon. Yes, berdasarkan dari indikator bahwa esensi stimulus-respon itu sendiri adalah konsep dimana ada stimulu ada respon, atau ada respon ada konsekuensi, aliran psikodinamika memenuhinya.

Ataupun aliran humanistik. Tentang free-will. Sejauh apakah manusia itu free-will? Tetap ada saja konsekuensi yang akan mengikutinya. Misalnya, bunuh diri adalah pilihan bebas bagi inidividu. Tapi, apakah konsekuensinya? Ya, tentu saja kematian. Atau, tentang perceraian. Seseorang jika dihadapkan pada aliran humanistik tentang bercerai, “ya terserah, Anda mau bercerai atau tidak. Tapi, mungkin pertimbangannya seperti ini, jika Anda bercerai akan…blablabla, dan jika anda tidak bercerai akan…blablabla.” meskipun kembali ke keputusan individu, aliran ini pula akan menghadirkan suatu konsekuensi yang pada dasarnya menghadirkan lingkaran setan-malaikat tersebut.

Lalu, apakah manusia hanya akan terjebak dalam lingkaran itu? Tidak bisakah ia keluar dari lingkaran yang serta merta akan lahir turun temurun di tiap generasinya? Ya, pemeliharan generasi pun adalah bentuk dari lingkaran itu. Saya ada karena orang tua saya ada. Anak saya ada karena saya bereproduksi dengan pasangan saya. Bangsa saya ada bahkan peradaban saya ada ketika kami membentuknya. Sehingga, peradaban ada karena kami ada. Kami bangsa kami beradab (untuk kategori beradab atau tidak bukan menjadi fokus pada tulisan ini.)

Apakah manusia dalam eksistensi yang didalam hidupnya selalu mencoba mencari estetika hidup hanya akan terjebak pada stimulus-respon-konsekuensi hingga pada akhir hidupnya? Lalu, sejauh apakah manusia itu dikatakan eksistens dan otentik di dunia ini? Seberapa besar perannya dalam ke-otentikan-nya di dunia ini?

Hmm…

Ya sudah. Selamat sore rekan-rekan sekalian…

Selamat lanjutkan aktivitas, dan

Salam Brillian!!!

GBU

3 thoughts on “Demon And Angel Cycle: Suatu Perpaduan dalam Konsep Stimulus-Respon-Konsekuensi

  1. Yup, manusia memang akan terjebak dalam dua pilihan. tetapi ada satu hal yang saya masih bingung Kandy, Saya sendiri menulis mengenai “Angel? and Demon? from yourself : always trying manipulating yourself” adalah suatu bisikan yang ada di dalam diri kita tanpa kita mengerti apakah itu buruk atau tidak. Karena saya sendiri lebih menyorot pada apa yg trjd slnjtnya adalah ketidakpastian (walaupun kita bisa memprediksinya.

    Lalu yang kedua, menurut saya manusia itu sangatlah kompleks karena dari adanya stimulus-respon-konsekuensi yang seperti kamu bilang. maka manusia sangatlah terbatas untuk bertindak, lalu gimana dengan orang yang kreatifitas tinggi????. Tetapi menurut saya yang menjadi lingkaran setan adalah kompleksnya manusia itu sendiri, yaitu tidak mau berubah-berubah-tidak mau berubah kembali.

    Inilah menurut saya eksistensi kita sebagai manusia🙂 How ’bout you, my friend..

  2. hmm….menanggapi dari Ko Nielsen dan Janice, mungkin bisa kita lihat pada article saya yang kedua tentang bagaimana lingkaran Setan Malaikat itu terlampaui…hehe…
    mungkin juga nbisa menjawab pertanyaan ko NIelsen tentang oran gyang brekreatifitas tinggi…hehee…
    mungkin di visit yang artikel ke dua…lalu kita dapat mendiskusikannya…^^

    Salam Brillian!!!
    GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s