Mencoba Masuk Lewat Psikolentertainment

Masuk dalam dunia psikologi meskipun belum terlalu mendalaminya membawaku kepada sebuah refleksi dengan pengandaian, aku masuk ke dalam pemikiran awam. Psikologi dipandang sebagai ilmu yang mempelajari tentang orang gila. Orang gila datang aja ke psikolog. Atau gak, psikologi merupakan wadah untuk kalo ada orang yang ada masalah, “silahkan datang kepadaku kamu yang berletih lesuh dan berbeban berat.” Atau sama seperti tempat buat curhat. Ya, berbagai pandangan awam muncul bagi suatu kajian ilmu ini yang notabene masih sangat hijau khususnya di Indonesia meskipun psikologi ada sejak manusia itu ada. Dari hasil perbincangan dengan rekan-rekan penulis, bahkan kami menyepakati, dimana ada manusia disitu ada psikologi.

Seiring perkembangan waktu ke waktu, psikologi pun makin berkembang. Tidak hanya menjadi science semata namun juga menjadi suatu media baru. Ya, entertainment. Sekali lagi, ini adalah pandangan aku terlepas aku berkecimpung di dunia ini atau tidak. Berbagai acara di televisi dapat kita lihat mengambil unsur psikologi sebagai bumbu di dalam entertainment itu. Ambil saja acara, “Masihkah Engkau Mencintaiku?” yang memang senyatanya ada psikolog disitu. Atau acara yang menjadi populer sekarang adalah acara-acara hipnotis, “Emang Kuya-Kuya”. (jika terjadi kesalahan penulisan judul, aku mohon maaf. Dan ini bukan untuk ajang promosi. Minta ijin untuk menggunakan kedua nama acara tersebut sebagai contoh konkrit dari artikel ini.).

Pasti kita bertanya, mengapa hipnotis menjadi unsur psikologi? Menelusuri kajian sejarah, sejarah hipnotis berasal dari guru Bapak Psikologi Sigmund Freud, yaitu, Jean Martin Charcot. Ia bukan psikolog namun ia adalah seorang neurolog dan mendirikan klinik pengajaran Charcot, dan Sigmund Freud berguru disitu, hingga pada akhirnya, Freud menelurkan aliran psikoanalisis sebagai usaha awal mewujudkan bahwa manusia dalam hidupnya ada unsur yang bukan hanya fisik terkait, yaitu, psikologisnya juga. Konsep dasar hipnotis ini pun digunakan untuk menangani pasien histeria.

Tapi bukan itulah yang akan kita bahas. Bukan tentang sejarah tapi, bagaimana unsur-unsur dalam psikologi itu sendiri masuk ke bidang-bidang kehidupan khususnya di Indonesia yang salah satunya lewat entertainment. Konsep hipnotis secara awam aku pahami sebagai suatu intervensi masuk ke alam bawah sadar dan dapat membuat klien mengangkat alam bawah sadarnya itu. Itulah yang dipraktekkan di dalam salah satu entertainment di atas. Hal ini memang menarik, terlepas apakah orang yang dihipnotis itu benar-benar terhipnotis atau hanya based-on-scene. Banyak rumor yang mengatakan hal itu, tapi tidak usahlah kita memusingkan hal itu. Karena yang jelas, hipnotis dapat digunakan sebagai “alat pengungkap kejujuran.” Apabila kita pernah menonton acara itu kita akan lihat bagaimana orang yang dihipnotis bisa secara jujur mengungkapkan apa yang, yaaa, mungkin selama ini ditutupi.

Pada awalnya mereka menutupi apa yang tidak mereka kehendaki untuk diungkapkan, seperti rasa suka terhadap seseorang atau kasus perselingkuhan yang mereka lakukan, atau bahasa simpelnya, “hipnotis digunakan untuk keluarin uneg-uneg.” Ya, emang seperti itu bukan?

Menjadi semakin menarik untuk direfleksikan dan memunculkan pertanyaan buat aku. Apabila, hipnotis dapat digunakan dan konsisten terhadap istilah “alat pengungkap kejujuran”, mengapa hipnotis tidak dipergunakan dalam penanganan kasus-kasus di pengadilan? Kasus besar maupun kecil kan bukannya dapat diaplikasikan?

Begini, aku tidak mengetahui secara pasti sistem atau ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam persidangan atau suatu tindakan hukum apalagi di Indonesia. Sekali lagi hanya pandangan awam yang aku lakukan disini. Tapi, secara logika, okelah ada jaksa penuntut umum, ada jaksa pembela, ada hakim ketua atau pihak pertimbangan lainnya. Sidang dengan kasus yang berat dapat memakan waktu beberapa kali seperti menunggu kehadiran saksi atau dan lainnya. Itu semua memakan waktu, biaya, tenaga, dan lainnya.

Lalu, bagaimana apabila hipnotis itu menjadi salah satu cara untuk dihadirkan di persidangan? Aku sih tidak tahu secara pasti atau tidak bagaimana dengan ketentuan penggunaan unsur psikologi di dalam persidangan. Tapi bukankah itu akan menghemat waktu, tenaga dan biaya atau mempercepat proses menuju pengambilan keputusan oleh hakim??? ketika kita berkaca pada entertainment yang menghadirkan salah satu unsur psikologi itu yang yaaa, paling tidak secara kasat mata hipnotis dapat digunakan sebagai “alat penentu kejujuran”, hipnotis bisa juga mengungkapkan kejujuran dari subjek yang di adili dalam perkara tersebut.

Ya, kita semua tahu bahwa, orang ketika dihadapkan ke sebuah stressor, cara responnya kan berbeda-beda. Terlebih dalam kasus persidangan. Bisa saja dia mengatakan bukan hal yang sebenarnya karena berbagai alasan dan pertimbangan. Aku bukan orang hukum, tapi setidaknya aku sebagai manusia, mengerti bahwa tujuan diadakannya hukum itu adalah keadilan. Dan untuk memperoleh keadilan hakim harus secara bijaksana menentukan pilihannya. Darimana itu semua? Statement atau berbagai instrument yang dihadirkan di dalam persidangan. Lalu, apa yang akan terjadi bila hal itu semua adalah palsu? Bagaimana seorang hakim dapat membuat keputusan yang adil? (ini tentu saja terlepas apakah hakim itu sendiri “main” dalam kasus tersebut atau tidak. Anggap saja, ia adalah bijak dan adil secara normatif.)

Mungkin metode hipnotis dapat digunakan. Hmm, emang sih, justifikasi mengapa hipnotis itu bisa digunakan dalam proses persidangan untuk mengetahui kebenaran belum terlalu kuat. Tapi, kalo kita main logika, alur berpikirnya akan seperti ini.

  1. Hipnotis dalam dunia entertainment digunakan sebagai alat pengungkap kejujuran biarpun bersifat populer
  2. Kasus persidangan rada ribet dalam arti makan banyak waktu, tenaga dan lainnya berdasarkan proses didalamnya. Tunggu saksi, pertimbangan-pertimbangan dan sebagainya.
  3. Hipnotis bila digunakan, dapat berguna untuk tahu apakah subjek itu berkata jujur atau tidak

Oleh sebab itu, aku bisa menarik sebauh kesimpulan bahwa, unsur psikologi dapat dimasukkan ke dalam acara hukum dan salah satunya hipnotis. Ini dapat menjadi media untuk tahu tentang kebenaran dan kejujuran yang notabene ketika dalam persidangan kebanyakan sisi benar terendap dalam ketidaksadaran apalagi hal ini menyangkut kepentingan pribadi atau banyak pihak.

Ya, memang sangat menarik untuk dikaji dari sisi psikologi. Banyak sekali hal yang dapat dipraktekkan dengan menggunakan unsur-unsur psikologi di dalamnya. Karena, berdasarkan prinsip awal tadi, dimana ada manusia disitu ada psikologi…pemaparan di atas adalah salah satu konsep pengaplikasian psikologi di dalam hukum. Bagaimana dengan rekan-rekan lainnya???

Sangat senang belajar psikologi. Sangat bahagia psikologi menjadi bagian dari hidupku, tapi tantangannya, bagaimana peran psikologi terhadap diri kita dan apa yang telah kita aplikasikan di dalam lingkungan kita???

Selamat siang Kawan,,,

Salam Brillian!!!

GBU

2 thoughts on “Mencoba Masuk Lewat Psikolentertainment

  1. dulu ketika mengambil makul psi hukum q baru tau secara real ttg peran psi dalam pengadilan.. semua bisa dikaji tergantung sudut pandang kajian yang ingin dimasukan.

    kalau hipnotis segampang alur berpikirmu, lalu kenapa kok semua orang tidak mempelajari hipnotis??
    sepengetahuanq hipnotis tidak akan berhasil kalau yang dihipnotis tidak mau.
    *tp untuk teknis dll lebih lanjut ttg hipno q juga masih belum tau.

    1. yes, itulah mengapa aku menyebutnya di atas pemikiran awam…karena kalo kita melihat aplikasinya langsung, kan gampang tinggal di hipno aja. atau pun teknik2 gendam yang sering dipraktekkin maling. kenapa mereka gak cari duit saja dengan cara halal seperti itu. bahkan kalo mereka bisa ungkap kasus besar kayak korupsi gitu dengan teknik gendam yang mereka biasa praktekkn di atas bis kota kan bakal hasilin duit banyak…

      tapi ya itu, kembali ke teknki, kita juga belum terlalu mendalami…huhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s