Belajar dari Samurai

The Last Samurai, film kolosal Jepang yang menjadi salah satu film favorit saya selain Kingdom of Heaven dan Troy. Di film ini menceritakan bagaimana seorang “pahlawan Amerika” akhirnya menjadi pahlawan “Jepang” berkat samurai. Ketika kita mendengar kata samurai, akan terlintas di benak kita, sebuah pedang bermata tajam, dengan bermotif gambar naga dan berbagai kata-kata motivasi terbalut menjadi satu. Tapi, sama dengan kata-kata Kapten Algren di film itu, “Aku tidak pernah mengenal kaum dengan budaya seperti ini. Bangun pagi-pagi dan siap melaksanakan aktivitasnya dengan disiplin serta senyum apabila bertemu. Saya kaget ketika mengetahui bahwa arti samurai adalah pelayanan.” Ya, bahkan di pedang samurai Algren San pada saat akan menghadapi pasukan modern Jepang blasteran Amerika, di pedangnya tertulis, “disinilah, penggabungan unsur tradisional dan modern menyatu” menggambarkan bahwa samurai adalah sesuatu yang memiliki esensi lebih daripada sebilah pedang.

Pada suatu ketika, salah seorang pemimpin kaum samurai, Katsumoto, pun pernah berhadapan dengan kaisar, dan kaisar tidak menggubrisnya karena berbagai perpaduan budaya tercampur di dalam kerajaan di masa itu. Pengaruh barat bahkan membuat nilai-nilai samurai waktu itu hampir musnah. Tapi bukan itu yang saya ingin soroti.

Idealisme.

Ketika kita mendengar itu, kita semua akan memikirkan tentang segala sesuatu yang strict, punya aturan-aturan yang jelas, terkotak-kotak dan tidak dapat keluar dari situ. Jangan pernah melanggar aturan, dan dalam bertindak dan berperilaku kita harus begini-begini-begini dan tidak boleh begitu-begitu-begitu. Ketat. Ya, apalah esensi dari idealisme itu sendiri tergantung pemaknaan kita tiap individu per individu.

Plato, dari beberapa artikel yang saya baca mengemukakan bahwa idealisme adalah ide yang lahir dari persatuan jiwa dan cita. Sehingga segala sesuatu yang nyata adalah idea. Plato melanjutkan bahwa, idea atau idealisme dapat membentuk masyarakat menuju kestabilan. Namun, disini, kestabilan tersebut hanya dapat terbentuk apabila individu dalam masyarakat menyesuaikan penempatannya terhadap kualitas dan kemampuan diri yang ia punya. Sehingga, dalam kata lain, idealisme inilah yang melahirkan strata atau tingkatan dimana manusia diklasifikasikan ke dalam kelompok sesuai yang ia miliki.

Secara teoritis demikian, namun, saya juga memiliki pandangan tersendiri mengenai hal ini. Idealisme seperti yang saya katakan di atas adalah sesuatu yang strict yang tidak dapat diidahkan fleksibilitasnya dan bahkan membentuk pengotakan. Saya menginterpretasikan pendapat Plato bahwa pengotakan tersebut adalah strata yang ia bentuk dalam pemahamannya tentang ide.  Saya menemukan sebuah statement yang, ya, lumayan bagus menurut saya, “Idealism, Something you have until you actually start paying attention.” Ya, ke-seharusan. Itulah yang menjadi filosofi dasar saya mengartikan idealisme. Seperti film The Last Samurai diatas, meskipun secara mendasar, Katsumoto hanya tidak ingin kebudayaan asli Jepang terpupus oleh budaya barat, Katsumoto sangat menghadirkan idealismenya terlebih dalam hal “pelestarian” samurai itu sendiri. “Anda adalah sang terang. Berikanlah kepada kami suara Anda, hai Kaisar.” Ucap Katsumoto saat ia sedang berdialog dengan kaisar. Pedoman yang ia pegang dalam hidupnya ia jadikan sebagai suatu idealisme dalam dirinya. Ia ingin itu semua hidup dan merasuk di tiap diri rakyat Jepang. Ya, semangat Samurai, semangat Bushido. Tapi, lihatlah yang terjadi, pergolakan zaman memang sangat menuntut adanya keserasian antara idealisme dan fleksibilitas. Sesuatu yang terkotak-kotak haruslah dipecahkan.

Menanggapi hal ini, banyak pendapat yang menyatakan bahwa idealisme adalah sesuatu yang tidak dapat membuahkan hasil ke depannya. Terlalu strict pada suatu aturan ataupn tata cara dapat menjadikan seseorang selalu terpaku dan tidak terbuka pada pandangan lain. Ya, memang benar. Tapi, sejauh apakah itu berpengaruh? Lalu apakah benar idealisme semata-mata hanya akan merusak diri orang yang menganut hal itu?

Gak juga ahhh. Dalam suatu acara seminar tentang Radio Broadcasting dengan tema kovergensi media Radio, pembicara utama, Bapak Errol Jonathan mengatakan bahwa, perkembangan radio yang digelutinya sekarang serta berbagai kesuksesan yang diraih adalah berkat idealismenya dari dulu hingga sekarang dan itu tetap bertahan terus, mengalir ke dalam tiap filosofi hidup dari salah satu radio yang ia kelolah. Selain itu, meskipun pada akhirnya harus meninggal di medan pertempuran, Katsumoto berhasil menunjukkan karena berkat idealismenya itulah masyarakat Jepang waktu itu tidak terbawa arus budaya Barat namun meng-asimilasikannya dengan budaya asli Jepang berlandaskan semangat samurai. Hal ini nampak dari Kaisar mengambil keputusan penting dimana ia menolak kerja sama dengan pihak Amerika dalam hal pembelian senjata dan pada akhirnya berbalik pada idealisme asli jepang, semangat Samurai. Ataupun di suatu pertemuan, saya bertemu dengan orang yang begitu idealisme tinggi, Mr. Gabriel Hiroshi, kepala Language Center De La Salle University of Das Marinas, gaya ajar konvensional serta idealismenya dalam bahasa inggris memang sangat strict, tapi dari semua guru bahasa inggris yang pernah saya temui (tanpa mengurangi rasa hormat), dia sangat membantu saya mendapatkan roh bahasa inggris lewat idealismenya dalam mengajar itu. Tapi disini pula saya sangat menyadari dampak negatif ketika kita terlalu pro dengan idealisme dan tidak mengindahkan lainnya.

Ya, dari sini, bukannya saya pro atau kontra terhadap idealisme itu sendiri. Menilik ke atas, saya mungkin dapat salah dalam mengilhami makna dan esensi idealisme itu sendiri. Tapi yang pasti, semua hal di atas ini akan menjadi sangat bermakna ketika kita tahu terlebih dahulu siapa diri kita. siapa diri yang sesungguhnya bukan hanya sebagai formalitas, “Saya bernama X.” Memegang teguh pada eksistensi diri kita saya yakin akan membuat kita ke pilihan apakah tetap berpegang teguh pada idealisme hasil bentukan dalam diri kita, mengagungkan fleksibilitas, atau meng-stimulasikan keduanya menjadi suatu hal yang fleksidealitas.

Selamat sore rekan-rekan…Selamat Belajar Psikologi Abnormal dan selamat ujian…

Salam Brillian!!!

GBU

4 thoughts on “Belajar dari Samurai

  1. hmm, idealisme menurut saya adalah paham dimana kita harus selalu ikuti apa yang menjadi standar kita pak…A ya A, gak boleh B…atau mungkin lebih ke sesuatu yang dikatakan ideal tuh seperti apa sih. cth paling konkrit yang aku rasain, adalah idealismeku saat LKMM, kan waktu itu disuruh untuk cari data ke penduduk, tapi kami hanya memperoleh sedikit data, dan akhirnya tim kami tidak mau lanjutkan proyek karena kekurangan data. karena menurut idealisme kami, proyek tersebut akan nemu akar masalahnya kalo ada data yang bnyk..bener gak pak idealisme tuh kayak gt??

    saya pake nama menurut account facebooknya…heheh

      1. tidak saklek ke kekakuan tapi lebih ke arah prinsip. dengan itu kita berperilaku. sehingga seperti contoh di atas, pernah saya berprinsip, data yang kurang tidak bisa diolah. nah, sangat mungkin idealisme gagal dalam dunia penuh perubahan, buktinya, data yang ada kemarin, kan harusnya bisa diolah bukan kita memerlukkan waktu lagi untuk mencari data dsb…mungkin itu refleksi langsungku ketika bermain dengan idealisme…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s