Berbicara Soal Abnormalitas…

Saat belajar psikologi abnormal, aku tertarik pada pengertian atau definisi dari psikologi abnormal itu sendiri. Individu atau kelompok dikatakan abnormal apabila memenuhi kriteria-kriteria seperti perilaku yang tidak biasa dan tidak dapat diterima secara sosial atau bahkan melanggar norma sosial dari konsep lingkungan masyarakat. Selain itu, bahkan abnormalitas bisa didefinisikan berdasarkan kuantifikasi. Dari 10 orang, 3 orang berperilaku yang tidak sesuai dengan 7 orang lainnya akan disebut tidak normal.

Wooow…gampang sekali ya menilai sesuatu atau seseorang menjadi abnormal.

Suatu fenomena pun seringkali terjadi di negara kita yang di seru-serukan Bhineka Tunggal Ika, biar berbeda-beda tetap satu juga. Apa iya demikian???…apabila ada sesuatu yang dianggap melawan kaum dominan atau mayoritas, pasti langsung dilarang. Gak Cuma itu, anarkis, kekerasan sepertinya menajdi bumbu biasa terjadi dalam menghadapi ke-abnormalitas-an suatu kelompok atau individu tertentu. Kawan, apabila dari sini, bisakah kita melihat gap yang muncul yang sekiranya menjadi tanda tanya besar apakah kita tetap ber-Bhineka Tunggal Ika atau tidak. Atau mungkin pandangan serta esensiku terhadap Bhineka Tunggal Ika itu yang salah? Bagiku sih, esensinya adalah kita semua adalah berbeda. Kita adalah unik, satu sama lain tentu saja sekalipu identik adalah tetap berbeda, tapi, kita tetap satu. Paling tidak, secara religius kita tetap satu ciptaan Allah.

Gak usah jauh-jauh. Beberapa waktu lalu, ada pertemuan suatu kelompok waria yang ingin melakukan kongres. Lalu apa yang terjadi? Penolakan besar-besaran terjadi. “dilarang!” “tidak boleh!” “haram!”

Disini kita anggap gak usahlah main kepercayaan atau yang berhubungan dengan religius atau apalah. Coba kita lihat dari sudut pandang bisnis. Mereka melakukan kongres, mereka perlu tempat. Tempat itu adalah ball-room. Apakah ball-room itu gratis???helooowww…mana ada sekarang yang gratis? Kan sih pemilik ball-room bisa untung. Yauda, mungkin ada sanggahan lain, ya kan bisa mereka secara pendidikan menggangu. Hmm, coba kita pikirkan lebih dari itu, bukankah dengan mereka membuat kongres, kita bisa belajar juga dengan mereka?  Bukankah kita bisa belajar apapun dari semuanya, apa saja? Atau gak, dari hak asasi manusialah, bukankah mereka memang dasarnya punya hak untuk bebas. Lebih konkrit lagi, berdasarkan undang-undang negara kita sendiri saja, bukankah ada undang-undang yang mengatur bahwa bebas untuk berserikat???dari pandangan logikaku pun, yasudah, mereka kan tidak mengganggu, tidak merusak, kenapa harus dipermasalahkan???mana yang lebih mengganggu, mereka atau yang senyata-nyatanya sering dimuat di media massa melakukan anarkisme???

Dari penjabaranku di atas tampak sekali aku sangat pro ke mereka. Tapi tidak juga. Aku hanya ingin melihat sisi lain dari itu semua yang berhubungan dengan tema besar blog ini, EKSISTENSI.

Kelompok LGBT atau kelompok minoritas lainnya seperti etnis, kepercayaan atau apalah merupakan kelompok-kelompok “kecil” yang seringkali dipandang sebelah mata, bahkan di palingkan wajah dari para mayoritas. Mereka adalah notabene bangsa ini juga. Aku tidak tahu apakah mereka bayar pajak atau tidak. Tapi asumsikanlah tiap dari mereka punya KTP dan membayar pajak. Apa yang membuat mereka berbeda dengan kita? orientasinya? Yauda kalo gitu, tapi apakah mereka menggangu kita???

Beda halnya mereka mengganggu kita, melakukan aksi anarkis atau apalah. Itu beda soal. Tapi senyatanya apakah seperti itu? Nah, jadi pertanyaan lagi, okelah mereka mengganggu, tapi bukankah ada kelompok mayoritas yang bahkan lebih mengganggu dengan melakukan tindakan anarkis?kok kelompok yang sok benar tapi anarkis itu “dibiarkan? Takut ya?ckckck…

Dari hasil omong-omongan dengan rekan-rekan baik yang dianggap kelompok minor tersebut dan kelompok mayor, mereka mengemukakan bahwa, eksistensinyalah yang dituntut. Kehadirannya lah yang mereka minta untuk diakui. Tidak perlu hak istimewa bagi mereka. Cukup kaum mayoritas terima, dan tahu, “Oh, mereka adalah ada.” Atau setidaknya, “Oh, mereka itu manusia. Oleh sebab itu mereka adalah sesama kita yang perlu dihargai biarpun sedikit kehadirannya.” Apakah itu suatu hal yang sulit??? I don’t think so. Tapi perlu dibatasi bahwa yang aku bicarakan disini bukan semata-mata kaum LGBT tapi semua kaum yang seringkali dipandang minoritas.

Dalam bidang pekerjaan pun di seluruh bidang kehidupan, aku ingin bermain asumsi disini. Katakanlah mereka eksis, nah, mana yang lebih baik,

Pemerintahan dipegang oleh kaum tersebut namun bersih dan tidak memberikan pengaruh tentang ke abnormalitasan itu kepada masyarakat (tetap profesional dalam bekerja) serta tujuannya mereka murni untuk rakyat atau pemerintahan yang normal, pintar, ber-IQ 350 tapi korupsi???

Manakah lebih baik, mereka diakui keberadaannya dan mereka membantu dalam tugas sosial seperti apabila ada korban bencana alam jadi sukarelawan, atau orang normal yang pas bencana coba selamatkan harta bendanya lebih dahulu daripada menyelamatkan seorang nenek tua yang terjebak di dalam rumahnya akibat banjir bandang???

Atau lebih konkrit lagi, mana yang lebih preferable, mereka yang dianggap tidak normal namun sangat menghargai keadilan hukum berdasarkan etika dan moral, atau mereka yang normal yang sekolah sampai ke Den Haag di Law Centernya PBB tapi untuk mengadili pencuri ayam dan cokelat saja banyak unsur ketidakadilan???

Menghadapi itu semua tentu saja aku pernah ditanya, “loh, emang kamu gak takut jadi salah satu dari mereka?” aku jawab,”Gaklah. Kita prevent diri kita. emang lingkungan itu sangat berpengaruh, tapi ingat juga kita punya akal, budi, logika, bahkan di dalam etika sosial pun diajarkan kita punya suara hati untuk menentukan apa yang harus kita lakuin dan tahu akan eksistensi kita.” Terus bagaimana dengan mereka yang gampang terpengaruh atau yang masih anak-anak? Kan bisa sangat gampang terpengaruh?…itu adalah dua pertanyaan yang berbeda. Untuk yang gampang terpengaruh, kita harus cari tahu, kok dia gampang terpengaruh, kenapa? Lalu untuk yang anak-anak, siapa sih yang paling penting dalam menghadapi perkembangan anak kalo bukan orang tua dan guru? Tapi, kedua sistem itu pun harus dikaji, apakah orang tua dan gurunya itu sendiri sudah bisa menghadapi situasi seperti ini dengan terbuka, tapi bijak, waspada tapi sopan…

Halah, mereka kan itu apalagi yang kaum LGBT secara kepercayaan atau religius adalah dosa. Hmm, aku tidak berani membahas yang ini, tapi aku cuma pengen sharing tentang suatu ajaran. Ada Seorang berkata, “Apabila kamu tidak memiliki dosa satu pun, silahkanlah dia yang melemparkan batu terlebih dahulu pada pelacur ini.”

Disini aku tidak mengajak kita sekalian untuk terbuka pada semua hal minoritas. Dari pribadiku pun, memang tidak dapat dipungkiri stereotype masyarakat kepada mereka sangat pengaruhi kognitifku, tapi, disinilah aku belajar untuk terbuka tapi cerdik, belajar untuk menerima secara tulus tapi tetap waspada…berarti, tidak berlebihan ada sebuah kata-kata yang bagus, “cerdiklah seperti ular, tapi tuluslah seperti merpati.”

Bagaimana dengan kalian? Terwujudkan Bhineka Tunggal Ika itu???

Selamat Siang dan met makan siang…gue uda lapeeer…bye bye

Salam BRILLIAN dan GBU!!!

4 thoughts on “Berbicara Soal Abnormalitas…

  1. Well, sangat menarik…
    Pertama tentag pendapat apakah gay itu dosa. klo kiat berpikir secara lbh mendalam lagi…

    Manusia bilang Tuhan itu adil, kalo gay itu dosa kenapa Tuhan menciptakan hetero dan homo, kalau yang homo dianggap dosa…berarti Tuhan sudah gak adil dong sama yang homo, padahal mrk yg homo ga perna request sama Tuhan buat jadi gay…
    Suatu penelitian bilang kalo Genetika spt DNA dan Hormon mempengaruhi orientasi seks seseorg, n kita udh tau yg namae genetika itu ga bisa kita request, gen itu ada dalam tubuh kita sejak kita lahir

    Cb tanya sama mereka yang gay, Kapankah kesadaran mereka ttg selera mereka muncul, jawabannya macem2 ada yg pas remaja, pas udah merid ada juga yang pas masi kecil…dan menjadi gay adalah suatu hal yang tidak pernah mereka rencanakan…

    kalo jadi gay adalah hal yang mereka rencanakan berarti ibarat kita bercita-cita mau jadi A, B ato C pas masi kecil, pdhl klo kita tny mrk, mrk pas kecil ga ada perna bercita2 jadi gay…

    Sebenernya yg bedain gay ma str8 tu cm seleranya tok, secara fisik mereka ya sama, mata dua, gigi mreka 32, punya dua lubang hidung n telinga, lidah mereka panjang gak kerucut…so secara fisik gay n str8 sama aja

    Menjadi gay sebenernya bukan alasan utk tdk bs berprestasi ^^ banyak gay yg bs achieve something yg ga bs dilakuin org2 str8

    Well, aku rasa suatu ironi bagi mereka2 yg harus berjuang di sepanjang hidup mereka utk menjadi org terhormat di mata masyarakat, dan dengan itu mereka harus membunuh cinta mereka…

    1. yes. bener banget HD…yang penting sekarang gimana kita mau open tapi waspada. kita kita cerdik seperti ular tapi tulus menerima seperti merpati. perbedaan itu adalah sesuatu yang indah. tentu kita akan bosan dengan namanya kesamaan terus menerus
      tapi, inilah Indonesia. negara yang katanya multi segalanya, tidak bisa menerima perbedaan itu sendiri

      akan semakin menarik jika didiskusikan tenatng berbagai hal ekstrim, tapi tentu saja tidak dalam open-link seperti ini…hehehe

  2. Menurut saya, Perbedaan itu pasti terjadi. Muncul anarkis, Demo, dan sebagainya itu pasti terjadi juga. Walaupun kelihatannya mereka tampak baik-baik saja dengan perbedaan itu, berarti ada politik yang menyelubungi.

    Toh, bila tidak ada perbedaan maka tidak akan muncul yang namanya kreatifitas. kreatifitas juga diambil dari perbedaan itu. orang yang berbeda itu contohnya seperti Albert Einstein.🙂

    1. yap…ada unsur politisasi dibalik semua ini. tapi untuk tujuan apa, who knows ko???emang semuanya adalah bahasa politik. ketika mereka melarang, pasti ada maksud tujuan…hehehe…ya, konsep ini seringkali hadir ditengah masyarakat…ckckck…

      yes, aku setuju dengan itu. kita ada karena perbedaan bahkan suatu peradaban dan kebudyaan lahir dari sebuah perbedaan yang dijadikan satu dan banyaklah hal yang yang lain…

      it is called unique…^^, tapi sayangnya di Indonesi, segala sesuatu yang berbeda adalah treat bahkan trigger…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s