Ketika Kegiatan dihadapkan pada Teori…

Gak bisa bilang kalo menghafalkan seluruh Postula Hull adalah sesuatu yang mudah, menyenangkan, dan yaaa, sekalipun bagi mereka yang suka dengan sih Hull. Begitu pula tidak dapat pipungkiri bahwa teori khususnya teori ilmu sosial adalah sesuatu yang secara fisik mengandung banyak kata, membentuk paragraf-paragraf bahkan buku. Lihat saja teori Freud tentang seksualitas. Buku tersebut belum pernah dipegang secara fisik, namun diperlihatkan oleh rekanku, Verdiyan yang berjudul “La Sexuaale”. Sangat tebal, banyak, terdiri dari tumpukan kertas, yang pada intinya adalah it’s heavy to memorize (in the most of people).

Saat kita berhadapan dengan teori yang begitu banyak tentu yang paling pertama adalah, “Duh, teori…teori…teori…” banyaklah alasan-alasan yang seringkali kita kemukakan, bahkan sebelum kita melihat apakah teori tersebut mudah atau sulit.

Berpijak dari alasan-alasan itu, kita seringkali berpendapat begini,

“yang penting kita ngerti teori. Yang penting intinya kita mengerti kalo Freud berbicara tentang pengalaman masa lalu pengaruhi perilaku atau Phytagoras ngajarin bahwa a2 + b2 = c2.” Dan biasanya, yang paling penting, banyak yang bilang,

“yang penting, kita banyak kegiatan, dan kegiatan itu akan membentuk softskill dan softskill itu kepake di kerjaan nanti.”

                        Menjadi salah satu alasan bagi kita, lebih baik terlibat dalam kegiatan yang benar-benar menghadirkan pengalaman penting buat kerja nanti. Sofskill adalah penting.

Yap, emang benar. Aku sangat setuju bila kegiatan itu sangat membentuk softskill kita, seperti tme management, stress management, kerja sama, bahkan ada materi-materi mata kuliah yang tidak diajarkan di dalam kelas tapi didapat dari kegiatan-kegiatan tersebut.

Apa sih bentuk nyata dari kegiatan itu? Yaaa, kita bisa tahu lah apa saja kegiatan itu. Sofskill , sangat aku sadari emang sangat penting. Kita tidak bisa bekerja dalam dunia pekerjaan pada umumnya apabila tidak punya kemampuan kerja sama ataupun interpersonal yang baik.

Tapi, teori itu penting. Itu pijakan buat kita dalam melangkah khususnya dalam level profesional. Kita tidak bisa mengemukakan suatu pendapat tanpa ada jutifikasi jelas apalagi menggunakan sense kita meskipun ya kadang-kadang perlu adanya rasionalitas sih. Pegangan teori yang telah didapat di perkuliahan ataupun di institusi pendidikan resmi yang telah kita peroleh jangan sampai terlepas setelah toga dikenakan dan mendapat salam pelepasan dari rektor. Pegangan teori tetap akan terbawa sampai kapanpun. Itulah hardskill. Itulah yang menjadi pegangan kita. gak usah jauh-jauh dunia kerja, bukankah dalam kegiatan kita seperti organisasi juga kadang ada teori yang digunakan???hehehe…

Hehe,,,yaaa, kembali lagi, keseimbangan itu adalah hal normatif yang perlu, dan disini kita bisa melihat tentang normatifnya keseimbangan antara hardskill dan softskill. Kembali ke pribadi antar pribadi mana prioroitas kita, karena untuk berbicara tentang keseimbangan itu, secara asumsiku berkata, yaaa, rada sulitlah memunculkan keseimbangan antara pengembangan hardskill dan softskill. Namun, apabila ada dari rekan-rekan yang berbagai how to make it real, why not. Namun, semua itu akan kembali ke prioritas antar pribadi. Mana yang menurut kita paling perlu, bukan perlu (karena kalau perlu ya keduanya perlu), pegang teori yang mantap, saklek, hafal titik koma, atau ikut berbagai kegiatan, banyak pengalaman, dan bisa belajar teori dari situ…

Prioritas perlu, pelaksanaan pun perlu. Prioritas tanpa eksekusi = 0, eksekusi tanpa prioritas = 0

Selamat sore The Brilliers!!!

Salam Brillian!!!

GBU

2 thoughts on “Ketika Kegiatan dihadapkan pada Teori…

  1. Kan, cm perhatiin penulisan ya…
    soalnya aku lihat masih banyak penulisan..

    but, it’s not the point…
    Menurutku kalau kita ngomong sesuatu tapi tidak ada data maka akan sama saja bohong.. karena hanya asumsi…
    Untuk itu kadang tau teori boleh-boleh saja, namun tidak harus sampai mati menyebah teori kalau dilihat tidak semua teori di pakai dalam aplikasinya😀

    Nice post kan…

  2. yes. bener. kita tidak boleh sampai menyembah teori. teori bikinan orang, bahkan kita pun bisa membuat teori…hehehe…sama saja dengan postulat. dengan begini saja kita sudah buat postulat saya pikir. tapi, disinilah keseimbangan perlu. kita harus sadar bahwa dunia kerja dan dunia sekolah adalah hal yang sama tapi beda. mungkin kita akan mengalaminya nanti. tapi, sejauh ini, yang saya rasakan, memang, dunia kerja mmbutuhkan paling tidak asupan teori yang telah dipelajari…^^

    Salam Brillian kawan!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s