More Than a White Day…That’s Why 14 is Important

Kalo menilik dalam kenyataan sekarang, emang bener, waktu gak pernah berhenti, and dunia gak  pernah berhenti berotasi. Semua kejadian yang terlewati terekam di dalam memori otak ataupun perasaan. Yaaa, emang rada melankolis kalo kita “kembali” ke brankas otak memori itu. Tapi, lebih jauh dari itu, hari ini adalah hari yang sangat spesial yang emang bener-bener spesial. Lebaynya sih, bisa aja dimasukin dalam sejarah…(sangat subjektif ahhh)…

14 Maret. Yaaa, emang sih, banyak yang tau ini adalah White Day…tapi lebih dalam dari itu, ada sebuah esensi yang kalut yang sangat dalam di hari ini. Tapi, ini hanya spesial bagi dia yang pernah sharing pengalamannya ke aku…dia pun uda aku mintain Informed Consent…jadi aman…hehehe…

Ia pun mulai bercerita bahwa 14 Maret, ia “bertemu” secara intim dengan seorang gadis, yang berperawakan kurang tinggi, rambut lebih dikit dibawah bahu dan mengenakan baju pink. Saat itu mereka bersama mengadakan persiapan acara tahunan Paskah bersama dan kebetulan mereka terlibat dalam kegiatan itu. Yap, pendek cerita, mereka akhirnya memulai sebuah buku,  yang secara subjektif aku intrepretasikan buku yang begitu berharga bagi mereka berdua, dengan judul “Ketika Bintang Laut itu Bercahaya”…

Setelahnya, berbagai melodi beralun mengantarkan mereka menulis buku itu besama. Berbagai warna menghiasi tepian maupun tengah dalam buku tersebut. Berbagai coretan tangan dan font kreatif disusun ke dalam suatu untaian cerita yang sangat bermakna yang mungkin kesemuanya itu tidak akan dimengerti oleh para pembaca yang tidak mengenal dalam buku tersebut.

Semuanya berjalan dengan demikian lambat sehingga waktu-waktu kebersamaan itu terasa makin hari makin berbunga seperti bunga Sakura yang mulai mekar saat waktu itu. Jembatan pun yang ditempuh tidak segampang melewati Golden Bridge yang dengan lapangnya dapat dilewati. Bertujuan sama dalam visi yang terkait satu sama lain, saling menopang untuk sebrangi jembatan itu, sehingga mereka sampai bersama…

Tidak pelik pula saat mereka berjalan di suatu pagi yang cerah mengelilingi danau kecil yang yaaa, tidak sebagus Danau Toba atau Black Lake. Tapi, sinar mentari yang menyinari para plankton di danau sehingga bercahaya, dan sehamparan ladang tomat dan kubis menyertai perjalanan singkat itu sebagai wujud manifestasi tidak bertemunya mereka oleh karena suatu alasan.

Now, it has been a year…it’s all over…yeeey…^^

Buku itu katanya sih, uda di-publish…tapi, gak tau kalo uda di publish dimana. It was a secret. Dia pula menceritakan bagaimana 14 itu menjadi Superstisious Behavior baginya, karena yaaa, emang, angka yang dianggap sebagai perwujudan Bintang itu tetap hadir selalu menghadirkan keberuntungan dalam duka serta kebahagiaan dalam kegagalan…^^

That’s why 14 is very important for him…aku aja gak ngerti kenapa kok sampe sebegitunya…yaaa, emang menarik untuk di-inquiry kenapa harus 14…hehehe…

Tapi, sudahlah. The main point is…is just a sharing…it will not a lesson from my article now…let the time flow and let’s past the past, although it takes time and it will be very very strongly difficult…^^

The important things…that’s why, 14 is importany for him, that’s why 14 important for me…B’coz, the book can’t be published, without the “SeaStar”…it can’t be published without you…

This day is more than a white day. This day the day was he found his Star…but, he said to me that “Sorry for all that I has done to you…But Good Luck then…”

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s