Menyikapi Antara “Aku butuh kamu” dan “Aku Butuh Itu”

“aku gak butuh apa-apa. Aku hanya perlu kamu. Tanpa kamu aku tidak bisa hidup.” Yaaa, ungkapan kayak gini seringkali kita dengar baik di telenovela meksiko, drama Korea, ataupun sinetronnya Indonesia. Kira-kira, topik di atas ngomongin tentang apa? Hmm, yap,bener. Tentang jawaban seorang cewe ketika pasangannya bertanya kepadanya apakah materi itu penting.

Terjadi perdebatan antara para pihak (tapi biasanya terjadi debat kusir) apakah materi itu penting atau tidak. Tapi, secara logika kita pun akan menyatakan ya pentinglah. Tapi, yang jadi pertanyaan, pentingnya itu seberapa sih???”… Nah, coba deh kita liat…

Rasa, cinta, perasaan gak bisa dibeli. Itu murni adalah gelombang (keingat gelombang, mari kita hening sejenak buat para korban gelombang tsunami di negeri Paman Samurai…Hening Cipta…dimulai…)

Selesai…

Gelombang emosi yang terpancar di tiap diri manusia sebagai individu. Itu murni adalah aliran rasa yang tidak akan pernah mungkin terbeli oleh apapun, baik harta ataupun nyawa sekalipun. Dalam arti, meskipun ada yang bilang bunuh diri segala macam, tapi yaaa, mungkin akan lebih dilandasari rasa kasihan. Tapi bukan itu yang dibahas. Bener, tidak akan pernah terbeli.

Kita akan bahagia bahkan dengan materi yang sedikit. Banyak saksi hidup yang emang mengalami itu semua. Bahkan, ada yang bergelimpangan harta dan tiap malam harus tidur dengan tongkat bisbol karena takut kemalingan. Aku setuju bahwa materi gak begitu penting sebagai dasar pencari kebahagiaan dan cinta. Sebagai anak kos, makan dengan harga 4000 rupiah dan ditambah 1000 untuk es teh sudah bisa memberikan kepuasan biologis tersendiri dan aku pun bahagia. Kenapa? Yap, makan bareng teman-teman ditemani dengan suasana canda. Aku pun begitu menikmati cinta beberapa tahun lalu dimana materi bukan penentu kebahagiaan cinta itu sendiri ketika kita bertemu dan berjalan di tengah-tengah danau (no curhat session…hehe) dengan apa adanya lalu mampir ke tukang lontong sayur ama nasi uduk untuk sarapan. Semua kebahagiaan itu pun dan cinta yang dirasa akan begitu hebatnya tanpa materi yang bergelimpangan…

Tapi…hmm, aku pun berefleksi…iya ta materi itu gak terlalu penting??? Benarkah pernyataanku di atas bahwa aku setuju materi itu gak begitu penting sebagai dasar pencari kebahagiaan dan cinta???

Makan tuh cinta…hehehe. hari ini, 12 Maret 2011, aku pergi ke sebuah toko swalayan untuk membeli perlengkapan mandi. Gileee, shampoo yang ukuran kecil harganya, Rp. 9.900,-. Apakah materi itu gak penting???…wew, itu kayak makan 2 porsi di warung Asih (tempat makan favoritku di WM)…ckckck…yap, kebahagiaan dan cinta itu emang suatu hal yang sangat berpengaruh dalam hidup kita. dalam humanistik juga dijelasin kalo yaaa, dasar dari eksistensi manusia itu sendiri yaaa aktualisasi diri, ingin dimengerti, dan ingin dicintai. Tapi, bagaimana kalo kita berpikir realistik…oke kita bisa temukan cinta dan kebahagiaan dari tiap momen indah yang kita lewatkan, tapi, apakah kita tidak perlu makan? Gak perlu kebutuhan dasarlah minimal, sandang, pangan, dan papan? Untuk yang berpacaran atau berkeluarga mungkin akan berpikir, “yaaa, kan bisa aja makan tahu tempe, yang penting bahagia. Materi itu gak penting kok. Yang penting kebersamaan.” Yap, makan tuh kebersamaan. Apakah pendidikan itu gak perlu? Apakah peningkatan taraf hidup gak penting???…

Dunia yang makin sulit dan mengglobal sekarang menuntut kita untuk menuju ke sebuah kata yang dinamakan keseimbangan. Kedua hal di atas dapat aku definisikan sebagai suatu hal penting yang tidak dapat terpisahkan. Kebahagiaan diperlukan oleh tiap individu,d an salah dua jalannya lewat kedua hal tersebut, cinta dan materi. Tapi, kembali ke konsep awal, dua hal tersebut adalah sesuatu yang berbeda namun sama-sama penting dan asalkan…seimbang…bagaikan yin dan yang, begitu pula setidaknya kita bersikap menanggapi hal tersebut. Hal ini seringkali menjadi fenomena dalam hidup modern manusia zaman sekarang. Emang sih, di daerah pedalaman materi tidak begitu dianggap, tapi, siapa yang tahu sebenarnya? Emang gitu ta nyatanya atau kita hanya sekedar asumsi mereka gak terlalu butuh materi? Ataupun orang kota yang karena hidup kota itu sulit harus berlomba-lomba perbanyak materi sampai-sampai korbankan kebahagiaan pasangan???

All about balancing…tapi, itu normatif, kawan. Tidak ada ukuran yang pas untuk tentukan gimana sih sesuatu hal abstrak itu seimbang…

Nah, kembali ke diri kita masing-masing, aku percaya kita semua punya strategi-strategi jitu dalam menilai masalah lama yang seringkali dibahas ini…semuanya ada di tangan kita, bagaimana kita menyeimbangkan kesemuanya itu dengan konsep dan prinsip keseimbangan kita sendiri…

Ya sudah kawan, uda hujan gede ini. Tapi sebelumnya, aku turut berduka cita buat korban di Jepang dan sekitarnya. Semoga kita semua selalu dikuatkan ketika alami bencana…

Met Lanjutin Aktivitas Kawan!!!

SALAM BRILIAN!!!

GBU…

12 thoughts on “Menyikapi Antara “Aku butuh kamu” dan “Aku Butuh Itu”

  1. ‎​Haнaɑº°˚˘˚°º≈•=Dнaнaɑº°˚˘˚°º≈•=)).. Kalau begitu.. Intinya bila materi dan cinta mau sejalan.. Belajarlah yang baik.. Bekerjalah yang benar.. Kumpulakan semua gajimu.. Lalu.. Ketika kau menemukan seseorang yang pantas untuk mu.. Maka dapatkan dia.
    Bukankah bila kita mempunyai pacar yang “mapan” dalam artian apa-apa bukan uang orang tua. Pacar kita juga bangga? ‎​Haнaɑº°˚˘˚°º≈•=Dнaнaɑº°˚˘˚°º≈•=)).dan ingat, orang tua kita juga bangga karena anakny sudah dewasa dan mengerti arti penting dari sebuah perjalanan hidup. ^_^

  2. hai kandy..
    aku setuju tuh kalau cinta butuh materi…hahaha…

    sharing sedikit ttg yang aku ketahui ttg “ketertarikan cewek terhadap duit cowok”

    ak pernah nntn video edukatif ttg teori Freud, ingat kalau manusia terdiri dari bio, psiko dan sosial?
    karena manusia adalah makhluk biologis, maka dalam hal ini manusia memiliki insting mencari kenikmatan dan menjauhi ketidaksenangan…

    dalam percintaan, cewek memiliki insting untuk mencari cowok yang memiliki “harta”..kenapa?….karena cewek memiliki insting keibuan…insting tsb membuat cewek mencari cowok yang kira2 suatu saat nanti bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan keturunan mereka..
    maka cewek secara tidak sadar (karena insting berada dialam bawah sadar) memilih cowok yang jadi pacarnya juga mempertimbangkan sisi ekonomi..
    bukan hanya perasaan…
    hehe…

    nggak sesederhana itu juga sih, misalnya, seorang cowok yang bukan berasal dari orang kaya, bukan brarti dia nggak akan dipilih cewek,
    cowok yang cerdas juga jadi pertimbangan cewek walaupun nggak kaya, klo cowok cerdas kan suatu hari akan mengusahakan kesejahteraan keluarganya..

    hmmm..
    apalagi dizaman sekarang, butuh uang, untuk fashion, gaya hidup..
    wow….para cowok harus bekerja lebih keras…
    tapi cewek juga mau berusaha lho….

    banyak jugakan cewek yang bekerja…

    1. @ Yohana:
      hahaha,,,jangan kasitau di forum terbuka untuk kerja2 itu yoh…wkwkwkw…tapi aku setuju dengan pendapatmu bahwa emang idealnya seorang cowo belajar dulu dgn rajin kerja dengan benar n kumpulin duit…baru deh nyari cewe…supaya gak dari duit ortu “biayai” cewenya..hoho…tapi, kita juga harus mikirin buat yang ga kuliah…nahhh, mereka juga tentu punya cara tersendiri untuk dapetin itu…

      tapi dari topik ini intinya aku mau ngmgn ttg keseimbangan…dan juga terkait dengan komen dari Ce Yani…

    2. Hai Ce Yan…
      hmm, menarik sekali berarti tuh film Freud yaaa..aku jadi pengen nntn, nntn dimana???

      hmm. tepat sekali. manusia emang terdiri dari itu semua. tapi ada yang kelupaan…bio psiko sosio spiritual…hehehe
      ingat Psi. Klinis dasar???hehehe…

      tapi aku sangat setuju kalo emang apa-apa sekarang perlu materi dalam hal ini uang dan bahkan muncul pepatah…

      “Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh…Uang…”

      yang penting, jangan dewakan mamon (materi), tapi juga jangan gak mencari mamon…

      nah, dalam point ini, tujuan utamaku adalah balancing…bagaimana kita membuat seimbang antara dua kebutuhan antara happyness and material…tapi, jadi bahan masukan juga buat aku bahwa, perlu adanya keseimbangan bahkan sekarang balancing dalam bidang

      bio psiko sosio spritual

      Salam Brilian teman-teman…keep reading…!!!

      1. hahahaha…jadi skrg uda ga ada kan org yang nggak money oriented…
        semua orang suka dan mau uang…
        tinggal skrg,
        apa yang kamu tawarkan supaya uang datang..

  3. Hmmmm. Saya setuju dengan pendapat ce yani. lalu bagaimana dengan sebutan cewe matre? Bukankah pengertian cewe matre di mata cewe yang lainnya bahkan juga para cowo sama halnya seperti yang di katakan ce yani?apa yang membedakan cewe matre dengan cewe yang memikirkan masa depanny?

    1. haha…aku kebetulan belum pernah ketemu dengan cewe matre. dalam arti berkomunikasi…jadi, seperti yang tadi aku blg via bbm, jangan pake asumsi kawan, bisa aja kita terjebak dengan asumsi sndri…

      tapi, disini, biarkan kita bebaskan kata asumsi…pergilah asumsi untuk smntra..hehe
      kita free untuk berpendapat…

      hey, The Brilliers, menrutku aku lebih cenderung menggunakan kata material oriented. soalnya sekarang orientasinya bukan ke uang semata. barang (meskipun tentunya dilatarbelakangi oleh uang sih) juga salah satu daya tarik perubahan orientasi orang…properti, furniture dan sebagainya kan bentuk dari orientasi beberapa orang yang sangat cencern ke hal2 demikian,

      hehe, apa yang bisa aku tawarkan supaya material datang???
      secara pribadi, apa yang material kehendaki supaya aku boleh menjemput dia…(njelimet ya) tapi intinya, kayak kata Yohana, kita sbgai pelajar, belajar dengan rajin, fokus ke tugas perkuliahan, kembangin softskill dan turun lapangan…hehehe…nih gak omdo, tapi emang bener, pas turun di lapangan, teori dan keadaan akan collapse…hehehe

      nti di pembahasan selanjtnya ttg Collapsenya Teori di Lapangan…hehehe

      @Yohana: cewe matre yaaa..hmmm, bisa kah km beri aku data kayak apa c cewe matre itu dari pandangan cewe ndri??hehe

    2. karena boleh berasumsi,
      menurut kamus besar bahasa indonesia yang dikarang Moelyanie, diterbitkan 12 Maret 2011:

      cewek matre tuh yang memanfaatkan cowoknya…misalnya slalu minta dibelikan ini itu…
      yang spt yg ak blg td kita punya insting keibuan itu, tp klo cewek matre mah berlebihan…
      normalnya, cewek seneng ngeliat cowok mapan, berpenghasilan ato cerdas (menjanjikan),.
      tapi bukan brarti lgsg minta dibelikan ini itu, menbobol bank pacar dan menguras habis harta bendanya..
      hahaha…

      hmmm…disisi lain cewek seneng dapat hadiah/kejutan…
      bukan krn dia matre lho…itukan dikasih!!!

      1. wahhh..haha,,aku melihat subjektivitas yang sangat tinggi dari pernyataan Anda, cece..hehehe…yapyap…aku juga setuju dengan kamus besar tersebut. at least, gambaran umumnya yang ada di asumsiku jga yaaa,,not so far from it lah..cincaylah..hehehe

        yap, kesemuanya itu adalah perlu adanya keseimbangan dan dimana konsep keseimbangan itu sndri sangat susah diwujudkan sekarang…

        mxdnya dsini antara dimana cowo jg hrs manjain cewe dan cewe jg kadang mengerti dgn sikon pcrnya..hehe…

        Salam Brilian!!!

  4. Kadang aku ngerasa, lama2 cowo tu jadi masochist, kerjaannya menderita demi cewe. Mereka ngumpulin harta, terus kalo cewenya dah gak punya perasaan ama si cowo, ditinggal gitu aja. Ckckck…

    1. hehehe…disini kita lebih realistik….dunia sekarang gimana? kebuthan hidup sekarang gimana???setelah kita menjawab itu, mngkin br bisa kita jawab apakah uang atau materi itu penting atau tidak???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s