Diantara Kata “Panas” dan Kata “Persahabatan”

Mungkin artikel ini akan terkesan kontroversial. Tapi, ini adalah salah satu fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia. 3 daerah yang uda aku kunjungi selalu ada hal yang sama terjadi.

Apabila artikel ini kurang berkenan karena berisi hal-hal yang sensitiv, aku mohon maaf sebesar-besarnya sebelumnya…!!!^^hehe

Guys, tau dengan kata “umpatan”, “meso”, dan “mumake?”…atau, tentang (maaf seribu kali maaf) “Goblok!”, “Jancok!”, dan “Pendo!” ???…yaaa, kesan pertama ketika kita mendengar kata-kata tersebut adalah, “Duh, kata-katanya kasar amat!”…atau, ketika kita mendengar kata-kata tersebut ada yang langsung panas telinganya. Nah, yang menarik adalah, ada juga yang tertarik menggunakan kata-kata ini yang mungkin secara tidak sadar mengendap ke alam bawah sadar dan mengeluarkan kata-kata seperti ini secara spontan.

Semakin menarik untuk dibahas bahwa beberapa kata ini menjadi trademark tersendiri di atau seringkali disebut sebagai “budaya”…Haaa??? Budaya??? Kok bisa???…yaaa, berdasar dari definisi (ciela, teoritis banget), budaya merupakan hasil dari pola pikir dan pola perilaku yang mengendap dalam keseharian suatu masyarakat (sumber: Perkuliahan Antropologi yang tanggalnya lupa dengan pasti, namun, pada tahun 2009). Secara turun temurun, kata-kata yang dianggap kasar dan memang senyatanya kasar ini hampir selalu digunakan oleh para masyarakat dari berbagai lapisan usia. Di Manado, terkenal dengan kata-kata seperti di atas, dan ada pula kata-kata lain seperti “pendo”, “pemai” dan lain sebagainya. Di Jakarta seperti “Goblok!!!”, “Setan lw!!!”, “Cib**” dan sebagainya. Ataupun di Surabaya yang terkenal dengan “Jancok”, “Asu” dan sebagainya.

*oke…kita netral disini…jangan ada yang panas atau apapun disini…pembahasan kali ini bertujuan hanya untuk sharing pengalaman dan fenomena yang terjadi*

Muncul fenomena dan menjadi masalah disini dan terdapat gap disini. Seharusnya, kata-kata umpatan seperti itu tidak boleh diucapkan. Itu adalah kata-kata yang dapat menyakiti orang lain, serta kata-kata yang tidak sopan. Tapi senyatanya, banyak yang menggunakan kata-kata seperti itu, bahkan kata-kata tersebut dapat mendekatkan hubungan antar individu di dalam pergaulan…(Haaa??? Masa???Swt…ckckck)…ya, itulah yang terjadi…

“apa kabar cuk?”, “jancok, ada tugas cak. Kamu uda kerjain ta?”, atau “Pendo le, saki kita pe kapala ini”, “Tuangala, cuki mai, kita so lupa beking kita pe tugas kawan. Ngoni so beking?”, atau “Setan lw, kagetin gw aja. Tapi thank you ya uda bikin surprise, kawan”, “eh, cuy, hari ini ada kelas gak? Goblok, gw gak tau cuy!”

Aku bertanya ke beberapa teman dari berbagai daerah tersebut mereka menyatakan, ya memang sih, kata-kata tersebut itu kata yang kasar. Tapi, tidak ada alasan yang jelas, apalagi jawaban yang ilmiah kenapa kok bisa kata-kata tersebut bisa makin mendekatkan mereka. Dalam bercanda pun hingga menjadi obrolan formal, kata-kata tersebut kerap kali digunakan dalam percakapan mereka.

Secara pengalaman, aku pun mencoba seperti itu. Masuk ke budaya yang tidak biasa membuatku harus menyesuaikan diri dengan yang ada, termasuk dengan bahasanya. Pada awalnya, aku merasa “jauh” dengan teman-teman karena masalah bahasa. Tapi, aku coba untuk “terjun” ke dalam “grammar” mereka. Ehh, wow, kok bisa ya, karena ungkapan umpatan itu kita bisa menjadi lebh terbuka satu sama lain dan yaaa lebih akrab. Itu pun sama seperti rekanku yang juga berasal dari luar daerah dimana mereka merasa lebih dekat apabila berkata dalam ungkapan seperti itu dalam pergaulan mereka.

Yaaa, memang sih, secara normatif itu memang tidak baik, ada yang menganggap itu kasar, atau juga ada yang menyatakan itu tidak sopan. Apalagi orang tua – orang tua yang biasanya tidak mau anaknya berkata-kata seperti itu karena bisa saja di cap sebagai anak yang kasar, dan tidak sopan.

Nah, guys, menarik banget hal ini untuk di dalami lebih dalam. Apakah semua daerah seperti itu? 3 daerah yang telah aku tempati selama lebih dari 1.5 tahun seperti itu, bagaimana dengan daerah lain?

Indonesia sebagai negara mulitikultural semakin menyatakan bahwa bahasa pun menjadi salah satu budaya yang multi…yang banyak, tapi bagaimana dengan istilah-istilah seperti di atas???apakah semua daerah juga seperti itu? Akan sangat menarik memang apabila per daerah juga memiliki “bahasa atau ungkapan khas”,

Apabila artikel ini kurang berkenan karena berisi hal-hal yang sensitiv, aku mohon maaf sebesar-besarnya…!!!^^

Nahhh, rekan-rekan, bagaimana dengan di daerah kalian masing-masing???

Selamat Beraktivitas…

Salam Brilian…!!!

GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s