Ketika Kau Sadar “What is Your Talents, Buddies?!”

Terlalu melankolis ketika aku bilang bahwa aku terhenyap (ceileee, terhenyap…kayak apaan aja dah…) pas aku mendengar dentingan tuts (yang tombol-tombol di piano itu tuts kan namanya?) piano yang berdenting lembut mengiringi lagu Vierra yang liriknya gini …”ku suka dirinya, mungkin aku sayang. Namun apa dayaku…” apa sih judulnya???

Ternyata, lagu tersebut dimainkan oleh seorang anak Panti. Dicky Immanuel. Yaaa, percaya atau tidak, dan sebaiknya percaya karena ada video ketika Dicky maenin lagu-lagu indah dari piano yang ada di panti asuhan Immanuel tersebut hampir sama permainannya dengan pencipta lagu Vierra tersebut, Kevin. Wow, keren. Itu satu kata yang aku ucapin buat dia pas dia melihatku.

Hmm, rolliing back…rolling back…artinya, alur mundur beberapa waktu sebelum ia “pentas” kecil-kecilan di hadapan kami…

Jeng-jeng-jeng…

Setelah makan malam (jujur, bihunnya enak banget cak…!!!), aku cangrukan (tuh bahasa jawa ya???) ama anak-anak panti yang uda gede-gede alias ABG (Anak Baru Gede) yang berusia sekitar usia SMP dan SMA. Kita ngobrol-ngobrol tentang banyak hal. Salah satunya tentang apa sih yang jadi kesukaan mereka. Apa aj a yang mereka sukai. Apa aja yang mereka sering kerjain saat waktu luang. Nahh, sampai pada akhirnya ada salah seorang anak yang bercerita bahwa ia sangat senang terhadap musik. Di panti, pada saat tidak ada kegiatan , dia biasanya ke aula untuk bermain piano.

Dialah sih Dicky Immanuel…(kok pengenalannya kayak apa ya…jeng jeng jeng…)

Sekarang sih SMA dia. Duduk di kelas dua. Tapi, dari hasil wawancara (haiaaa, ini bukan laporan tugas kuliah loh…hoho), dia berumur sama denganku, bahkan dia lebih tua…jadi malu nih dipanggil kakak padahal dia yang lebih tueee…(ceile, kakak???)…

Dia cerita ke aku kalo dia suka banget bermain piano. Dia biasanya bermain lagu rohani. Di sekolah pun dia bermain. Tapi, dia selalu bilang ke aku,

“aku gak mahir kak. Di sekolah, masih banyak banget yang lebih jago dari aku.”

Behhh, aku mikir, ya emang sih dia normatif karena gak mau nyombongin diri. Tapi, it’s okaylah…Tapi, aku (serius mode: ON) terpaku saat dia bilang,

“sebenarnya, aku pengen banget bermain dan aktif gitu di sekolah. Tapi aku gak bisa kayak mereka. Mereka lebih jago dari aku. Ya, jujur sih kak, aku emang iri dengan mereka. Mereka bisa les piano. Tapi aku mikir, ngapaen aku iri. Aku bisa piano karena belajar sendiri. Sedangkan mereka karena les.”

Aku pun bertanya, “jadi, gimana kamu belajarnya?”.

Dicky menjawab, “Yaaa, gimana ya kak. Aku sih cuma ngeliatin orang-orang yang main piano. Kayak di Gereja gitu, terus, aku tanya, itu kunci apa? Atau, gimana sih kunci D itu?”

SANGAR…BRILIAN…!!!

Dengan kemampuan ortodidak dan tanpa latihan dari pihak ahli, dia dapat membuat setidaknya para pengunjung panti dari UKWMS menjadi terpukau saat dia membawakan 3 lagu yang populer di Indonesia.

Kawan, contoh yang baik buat kita bukan? Ini kisah nyata. Dia sadar dengan kemampuannya bahwa ia memiliki potensi di bidang musik. Tapi, meskipun telah membuktikan dirinya mahir di bidang itu, apa yang ia refleksiin? “Aku masih payah”, “Mereka lebih hebat dari mereka”, “Aku gak mahir”. Kerendahan hati memang hal yang sangat normatif. Tapi, aku setidaknya setelah berpikir lagi, tidak terlalu normatif ketika ia mengatakan hal itu. Itu menjadi “ungkapan hati” dari seorang Dicky setelah ia pun menyadari segala kelemahan dan kekurangan yang ia miliki terlebih dari sisi pengembangan ke arah porfesionalitas dari segi les.

Ini bukan suatu artikel renungan yang bertujuan untuk menjadikan artikel ini sebagai bahan renungan. Aku hanya ingin meng-sharingkan kepada kita semua bahwa semua orang, tak terkecuali pasti memiliki talent. Pasti memiliki potensi. Kadang kita sadar betul bahwa kita punya talent tersebut, tapi, kadang juga, kita tidak sadar bersikap iri terhadap orang lain, terhadap talenta yang mereka punya. Sebagai contoh, kita sadar bahwa potensi kita adalah di bidang seni patung, tapi, karena kita seringkali melihat orang yang mahir di bidang tarik suara, secara tidak sadar kita iri dengan potensi menyanyi yang mereka miliki. Itupun tidak terlepas dari bayangan prestasi hasil capaian orang yang kita irikan. Semua orang mengalami itu, baik sadar dan tidak sadar, termasuk Dcky dan aku. ..(curhat nih ye…hahaha)

Aku salut ketika nanya, “kira-kira, untuk ke depannya, dengan keahlian yang kamu miliki ini, apa yang ingin kamu lakuin?”

“Aku sih gak mau muluk-muluk, kak. Aku cuma pengen berkarya dan itu semua demi kemuliaan Tuhan”

WOOOW…BRILIAN…

Potensi yang telah diberikan di atas kepada kita tidak akan berguna apabila sepanjang kita hanya menyadarinya. “oh, suaraku bagus.”, “Ohhh, tembakan basketku ajib ajib”, “Ohh, otakku pintar, IQ ku mantap. Soal matematika yang sulit mah lewat…”, atau apapunlah yang dapat menjadikan bentuk sebatas kita hanya menyadarinya. Tanpa pengembangan tidak akan mungkin tercapai kawan. Aku percaya itu, (hehehe,,,copyright dari salah satu merk susu), “Trust Me, It’s work!!!”

Mengutip pernyataan om Thorndike, dia bilang kalo misalnya kita latihan kita pasti akan lebih berkembang (Law of Excersie, sebelum 1930). Dan juga perumpaan dalam Kitab Suci, “kamu diberi lima talenta, kembangkan itu menjadi 10 talenta.”, atau apapun filosofi, kepercayaan, atau apapun yang kita punya…

Teman-teman, apa yang kita rasakan ketika sadar “What is our talent?” apa yang kita langsung bayangkan ketika talent itu kita kembangkan?…nama, kesuksesan, segala pun cita-cita kita dapat tercapai karena kita sukses…yaaa, mungkin itu di angan-angan kita ketika tahu dan kembangkan itu semua…

Tapi, sudahkah itu terjadi???hehehe…

Tenang, life must go on. Guys,

What is your talent??? When will you develope them?

Selamat Beraktivitas dan salam Brilian!!! GBU

2 thoughts on “Ketika Kau Sadar “What is Your Talents, Buddies?!”

    1. yap,,,tapi kenyataannya, banyak yang melakukan hanya untuk duniawi…it’s okay…just be the best from ourselves first…^^…

      what is your talent???…kita semua perlu berefleksi^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s