Force Learning, Suatu Refleksi tentang Psikologi Belajar :(Percobaan Pembuatan Postulat I)

Force Learning, Suatu Refleksi tentang Psikologi Belajar

(Percobaan Pembuatan Postulat I Kandy)

Pada suatu kesempatan, saya kembali merefleksikan tentang materi-materi perkuliahan yang telah dipelajari khususnya tentang belajar. Salah satu aliran dari psikologi yaitu behavioristik menyatakan bahwa individu berperilaku karena disebabkan oleh lingkungan dan di dalamnya terdapat proses belajar.

Salah tiga dari tokoh behavioristik yang terkenal adalah Thorndike, Skinner dan Hull. Ya, mereka secara singkat saya bahas karena untuk sementara kita dalam proses pendalaman tentang ketiga tokoh tersebut dalam mata kuliah Psikologi Belajar. ^^

Thorndike sendiri menyatakan bahwa belajar merupakan proses dari koneksi antara stimulus dengan impuls untuk munculkan respon. Terlalu teoritis, namun, yang dapat saya tangkap, Thorndike menyatakan bahwa individu belajar karena ada proses trial-error. Salah coba lagi, coba, ehh salah, ya coba lagi. Tidak cepat suatu proses pembelajaran tersebut. Itu memakan waktu. Tapi, itulah proses belajar.

Sedangkan, Skinner, ia menyatakan tentang bagaimana individu berperilaku karena ada konsekuensi yang mengikutinya. Ya, ketika kita berperilaku ada konsekuensi yang sudah menunggu kita. nah, konsekuensi itulah yang bisa kita pelajari lalu. Konsep pengkondisian operan ini lebih lazim diterangkan sebagai reward – punishment, meskipun ada berbagai unsur di dalamnya seperti extinction, superstisious, dan sebagainya. Ketika kita ditanya, “Sebutkan konsep Skinner?” cenderung kita akan menjawab, “Reward – punishment buuu…” itulah yang biasanya tertanam di kita bahwa setiap kita melakukan sesuatu, akan ada konsekuensinya dan kita akan belajar dar konsekuensi tersebut. Gimana kalo gak belajar dari situ??? Masa sih gak belajar???hehehe…

Lalu muncul Hull dengan 16 postulat yang secara jujur buat saya pribadi, sangat banyak. Dari hasil diskusi kelas Psikologi Abnormal, 16 Februari 2011, kita menarik suatu kesimpulan bahwa ke-16 postulat Hull berbicara tentang kira-kira, kita itu berperilaku seperti apa. Dalam artian di dalam kita berperilaku akan ada stimulus, respon, kebutuhan, pemenuhan dorongan, bahkan hambatan serta ambang batas sebelum kita berperilaku tertentu.

Memang, ketiga teori ini telah teruji dan telah dipakai selama bertahun-tahun. Namun, suatu pemikiran untuk saya muncul sebagai wujud dari pengalaman saya. Pola pikir sangat menentukan bagaimana kita berperilaku. Okelah, ada aliran psikoanalisa yang menyatakan bahwa kita belajar melalui masa lalu kita karena past was influence. Itu memang, atau pula sang humanistik menyatakan, kita adalah manusia dengan kehendak bebas, atau interaksionisme bahwa orang lain adalah penyebab mengapa kita bertindak dalam kehidupan interaksi dengan mereka. Namun, juga pola pikir adalah salah satu aspek kita belajar. Dan tidak tahu apakah postulat saya ini telah terbukti dengan teori lain atau apa, saya ingin menyatakan bahwa, salah satu dari mengapa kita belajar adalah force learning. Pembelajaran di paksa. Jadi, adanya pembelajaran karena adanya proses pemaksaan.

Seringkali paksaan memang sering di anggap suatu hal yang negatif bagi kita. secara normatif apalagi di hadapkan pada konsep free will humanistik, force learning tidak dapat diterima. Sehingga, saya tidak membicarakan tentang apa keuntungan dan kerugian force learning, tapi lebih ke latar belakang dan proses di dalamnya. Karena apabila berbicara hasil, saya setuju dengan aliran humanistik bahwa ujung-ujungnya, diri kita lah yang menentukan atau pada Hull, meskipun ada hambata dan ambang batas, ujung-ujungnnya adalah sEr (reaksi potensi) kitalah yang akan menentukan.

Pada saat akan pergi ke kampus, hujan tiba-tiba turun. Deras sekali sehingga membuat daerah kos saya banjir. Udara begitu dingin membuat saya yang pada saat itu mengantuk berat seakan tidak mau ke kampus. Namun, ada suatu dorongan (drive) dalam diri bahwa harus berangkat apapun yang terjadi karena apabila tidak, secara kuantitatif absen saya akan rugi apalagi secara materi mata kuliah. Saya tetap berangkat meskipun banjir dan memang, menggunakan sandal jepit serta celana pendek adalah jalan satu-satunya bagi saya menerobos banjir.

Disinilah saya bisa katakan Force Learning berlaku. Saya dipaksa dari dalam diri untuk melakukan sesuatu. Memang, jika kita berkaca pada postulat Hull, hujan dan banjir adalah kategori dari hambatan (postulat nomor 10). Tapi, di Hull, ia lupa menjabarkan tentang proses pola pikir yang berperan di dalam diri kita. saya berlaku begini karena saya memikirkan begini. Jadi, tidak semata-mata karena Drive Reduction Theory. Bukan semata-mata ada deprivasi dalam diri kita. tapi, pola pikirlah yang berpengaruh saat kita belajar secara dipaksa.

Sebagai contoh lainnya, suatu hari yang melelahkan, ya malam hari, saya pulang dari kuliah. Mati lampu…(jujur, mati lampu adalah hal yang paling menyebalkan bagi anak kos Dinoyo Tangsi 14…Nyamukna minta ampun!!!) ya sudah, saya naik ke kamar dan memang mati lampu. Badan sudah cape dan penuh dengan bulir keringat. Saya dihadapkan ke dua pilihan, tidur atau mandi. Secara pengkondisian klasik, saya setelah pulang, langsung mandi. Lalu bagaimana dengan sekarang? Mati lampu, kamar mandi sempit, tidak ada tempat untuk meletakkan lilin. Coba dikaji dari pengkondisian operan yang memang, apabila saya tidak mandi, saya akan kegerahan ditambah para nyamuk yang berkeliaran. Sedangkan apabila saya mandi…hmmm, tidak ada pemikiran untuk mandi. Tapi, saya terpaksa mandi dengan segala cara dan unsur nekat, saya mandi dengan tidak menggunakan apa-apa (dalam arti penerangannya loh ya…). mengapa? Karena di dalam diri yang terbantu oleh proses kognitf, menyatakan saya harus mandi. Dari mana dapat diketahui itu adalah proses kognitif? Ya, sering kita melakukan self-talk. Dan dalam hal ini, saya batasi bahwa self-talk adalah manigestasi dari proses kognitif yang kita seringkali lakukan.

Force learning disini berlaku lagi, dimana dalam suatu kondisi, individu akan belajar terhadap lingkungannya dan dari dirinya sendiri. Sehingga, force learning di sini dibedakan menjadi dua yaitu internal force dan external force. Internal force dimana paksaan itu datang dari dalam diri kita dan external dimana lingkungan seakan menuntut kita untuk melakukannya, meskipun harus di garis bawahi pada akhirnya individu lewat pola pikirnya membuat suatu keputusan yang saya sebut sebagai eksekusi. Terlepas dari segala keunggulan dan kelemahan postulat ini, dalam dunia kita pun seringkali dipaksa.

Orang tua, saat kita kecil, sering dipaksa untuk belajar membaca. Memang, dari diri sendiri ada penolakan. Namun, dalam prosesnya, kita dengan sendirinya belajar. Atau dalam hubungan pacaran, pacar yang suka memaksakan kehendaknya. Memang, dalam diri pasangan ada suatu perasaan sebal, kecewa atau negatif lainnya yang muncul karena ia tidak mau dipaksa. Tapi, dari situ, muncul pembelajaran bahwa, “ohh, dia ternyata begini”, “ohh, dia gitu ya rupanya” atau “oh iya ya, aku harusnya seperti ini atau dia seharusnya begitu.”. Atau, mahasiswa yang terpaksa mengerjakan tugas dari dosen, tapi tetap mengerjakannya, tentu saja ada unsur keterpaksaan dari dalam diri mahasiswa apabila ia tidak mau mengerjakan tapi ia harus mengerjakannya karena alasan nilai. Namun, di dalamnya tetap ada proses pembelajaran entah hasil proses akhirnya sesuai dengan tujuan paksaan itu atau tidak.

Secara scientist, Force Learning sebagai salah satu aliran psikologi belajar belum tentu juga diterima atau dilaksanakan meskipun begitu banyak fenomena pembelajaran muncul dari pembelajaran ini. Masih banyak kajian-kajian ilmiah untuk dapat menentukan apakah ini memang dapat di aplikasikan dan dapat dimaksudkan ke dalam salah satu pendekatan psikologi belajar atau tidak. Tapi, dapat disimpulkan bahwa, Force Learning merupakan proses pembelajaran bagi individu yang menekankan pada pemaksaan terhadap individu tersebut, yang dipengaruhi oleh faktor internal dan external, yang juga didalamnya terdapat proses kognitf, namun, pada akhirnya individu itu lah yang akan menentukan apakah ia akan melakukan potensi atau tidak.

Wahhh, hasil refleksi kali ini siapa tahu bisa jadi postulat beneran bahkan teori…hehe..hanya hasil refleksi dari Kandy saja, apabila ada komen atau tanggapan yang membangun, sangat ditunggu sehingga mungkin apabila terjadi kesalahan konsep disini bisa diperbaiki…

Selamat Beraktivitas Kawan,

Selamat sore

GBU

4 thoughts on “Force Learning, Suatu Refleksi tentang Psikologi Belajar :(Percobaan Pembuatan Postulat I)

  1. Bro🙂, Awal kali saya juga menemukan bahwa pembelajaran adalah suatu paksaan. Toh, pada contohnya adalah kita harus mulai belajar banyak dan banyak membaca dikarenakan dunia yang sudah merupakan jaman globalisasi atau perkembangan IT. Tetapi bila saya pikir kembali lebih lanjut, bila kita belajar karena ada paksaan lalu apakah yang nantinya kita dapat?
    Manusia kan seperti itu, selalu belajar bila dikarenakan adanya kompensasi (persis teorinya Skinner ya?).
    Lalu kemudian, berdasarkan pengalaman pribadi. pada kelanjutannya manusia itu akan belajar bukan karena paksaan, tapi tujuan jangka panjang dalam diri sendiri. jadi pada dasarnya, Force Learning itu menurut saya sangatlah kompleks

    Hehehehe…kita ini benar2 seperti filsuf benaran ya? :))

    1. hehe…makanya aku belum berani mengatakan bhwa bagaimana hasil dari Force Learning itu sendiri, karena aku pengen jabarin dulu, latar belakang dan proses di dalamnya..hehehe…Force Learning disini memang belum aku batasi…ruang lingkupnya amat sangat luas…
      tapi, aku lebih ke, lingkungan juga dapat memaksa kita. situasi kondisi kita juga dapat memaksa kita, diri kita juga, bisa memaksa kita…hmm, tentang apa yang akan kita dapat nanti? ya kita akan dapat proses pembelajaran…apapn itu, kita pasti akan mendapatnya…berdasar hukum sebab akibat, ketika kita bertindak, kita akan mendapatkan sesuatu, apa itu, who knows???heheh….

      hmm, iya c ko..hehe..tapi gpp, kan lebih baik bertuka pikiran begini, biar kebanyakan asumsi dan logika pribadi, bukan debat kusir..hehe..sapatau kan bisa saling share n bisa kritisi tuh teori2 yang uda bertahan beberapa lama…hehe

      1. Ah…begitu ya. jadi menurutmu apa yang menjadikan pembelajaran menjadi force Learning ada dalam dua faktor yaitu lingkungan dan individu yang bersangkutan. Nah, ini mungkin bisa jadi terkait dengan manusia itu selalu memiliki Espoused Theory dan Theory in action. kalau dihubungkan dengan kedua teori di atas, saya malahan menangkap pembelajaran bisa terganggu akibat kedua teori di atas. apakah seperti itu ya?

        Bro, kamu coba buka wordpress punyaku yang baru aku buat🙂. ini udah aku link-an kok.

      2. wahh…ko, sori baru balas…aku baru buka comment2nya..plus inetnya error…alangkah bahagianya kalo wifi uda ada di seluruh pelosok yaa..heheheh…

        hmm, Espoused Thery dan Theory in Action belum pernah aku baca, tapi nanti aku coba bahas itu yaaa…hehehe…

        ko2 link aja ke fb ko…oh ya, buat nge-follow di blogmu di wordpress gimana???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s