Arti Sebuah Clique: Part II – ABR2, Terlahir Dari Segala Perbedaan

Berbagai hal sudah terjadi selepas tahun-tahun di Saint John’s School. Begitu banyak cerita yang tidak mungkin dibuat dalam satu buku karena meskipun Freedom Writer adalah satu buku yang bisa menggambarkan bagaimana banyak kisah dapat dimasukkan ke dalam suatu buku.

Tapi, tidak perlu menunggu terlalu lama seperti para penulis bebas tersebut untuk menjadikan segala pengalaman hebat yang telah saya alami menjadi suatu buku tebal, yang mungkin bagi sebagian orang membosankan.

Hehehe…

Kadang, saya seringkali tertawa sendiri (bukannya gila yaaa…) pas ingat masa-masa SMA. Dimana banyak banget rekan-rekan yang begitu hebat dengan segala kelebihan dan kekurangan dan keunikan mereka kini kita sudah menjalani hidup masing-masing.

UKWMS…Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Tempat terakhirku dalam menimba ilmu sebelum memasuki dunia kerja ataupun melanjutkan ke pendidikan yang lebih expert. (amin). Di sinilah khususnya di Fakultas Psikologi, saya menemukan dan mengenal 3 sosok manusia yang memang punya keunikan tersendiri dari berbagai kelebihan dan kelemahan mereka. Ketiga manusia itu (emang mereka manusia yaaa??? #joking lagi kawan) adalah salah satu dari rekan-rekan saya selama kuliah ini dan menjadi rekan saya untuk ke depan juga dalam berbagai hal. Tapi, melanjutkan topik di part 1 tentang clique, mereka adalah sosok-sosok yang menjadi clique buat kita semua. Hmm…Budi, Robert Raymond, and ada satu lagi, Ceng…(Ceng rekan clique ku juga, namun, saya menyoroti sih 3 orang ini dulu).

Kehidupan kuliah ternyata hampir tidak sama dengan kehidupan SMA, SMP, atau SD. Tidak hanya nilai yang hanya diperlukan untuk mendongkrak kehidupan dalam arti di masa depan. Softskill juga diperlukan namun bukanlah itu point yang ingin saya bahas. Dari berbagai rekan-rekan saya ini, berbagai pelajaran dapat saya ambil.

Budi, biasa dipanggil Probo (tidak bisa dijelaskan mengapa karena akan mengandung SARA ), atau sih pendek, dan kami sangat senang apabila ada mata kuliah tentang tinggi badan, karena begitu menyebutkan tinggi, tentu saja perhatian langsung tertuju pada manusia yang bertubuh mungil ini. Mungkin hanya 150 cm saja (becanda kawan, no hard feeling yaaa). Tidak, tidak. Bukan itu…hehe, Seorang sanguin yang sangat aktif dan sangat suka bercanda. Dan tentu saja sangat senang mengejek orang lain. Kemampuannya yang aktif terutama dalam beradaptasi menjadi pelajaran tersendiri bagi saya pribadi karena dia mengajarkan saya bagaimana dalam menempatkan diri atau dalam bertutur kata dalam pergaulan. Kemampuannya membawa diri dalam tiap pergaulan baik itu formal maupun dalam pergaulan sehari-hari memberi contoh bagi saya bahwa meskipun dimanapun kita berada selalu menempatkan diri pada posisi yang benar namun tetap menjadi diri sendiri. Analisis yang menarik dan kritikannya begitu pedas dalam arti begitu kritis sehingga sekecil apapun itu pasti akan di kritisi dan sangat senang menggunakan istilah “dari artikel yang saya baca” sehingga kita pun menjulukinya sih artikel yang pernah saya baca. Namun, tetaplah ia adalah seorang anak kos sama seperti saya dan Robert. Kami pun tetap merasakan pahit getirnya nge-kos apalagi tentang kebanjiran…haiaaa…

Robert biasa dipanggil Beti mengajarkan banyak hal tentang apa yang dinamakan impian. Seperti Verdiyan, dia sangat getol dengan apa yang dinamakan impian dan impian harus tercapai. Man lives because of dream and they can stand by their dream. Dengan kemampuan mempersuasi orang, seorang koleris melankolis ini menjadi salah satu rekan saya yang sangat hebat. Kegetolannya dalam bekarya di bidangnya menjadi salah satu pemacu saya untuk tetap juga memelihara mimpi yang saya punya dan tetap mencoba membuat itu nyata.  Darinya saya belajar juga untuk tidak berhenti berusaha denga yang namanya berusaha. Sekecil apapun itu tetap adalah usaha. Teringat saat kekalahan kami pada lomba debat, sebegitu kecewanya hingga mungkin yaaa, saya hampir tidak bisa berkata-kata dengan sistematis. Namun, ia menyarankan, ini adalah sebuah proses dimana manusia tidak akan berhenti berproses. Di dalamnya terkandung dengan apa yang dinamakan usaha dan waktu. Meskipun usaha ada mungkin ini bukan dan belum waktu bagi kita untuk cicipi kemenangan.

Raymond, hmm, rekan yang pas untuk curhat ataupun bertukar pikiran. Pandangannya tentang filosofi hidup membuat saya semakin tertarik dengan apa yang dinamakan berproses dalam pola pikir dan intuisi. Pengalamannya mengjarakan kepada saya untuk memainkan intuisi dalam berproses dan tetap berpikir kritis dalam setiap persoalan yang ada. Ideologi kebebasan yang ia resapi memang terkadang menjadi benturan bagi kami dalam tiap diskusi yang kami adakan. Karena memang meskipun kebebasan adalah hal yang penting, tidak semuanya dapat secara bebas. Terkesan agak berbeda dengan yang lain, namun ketika kita mengenal lebih dekat, ia adalah rekan yang baik.

Mereka bertiga adalah rekan sekaligu partner dan bahkan penasihat saya ketika masalah silih berganti datang dalam hal apapun, entah itu masalah kuliah, pribadi, ataupun masalah lainnya. Saran-saran dan masukkan yang diberikan amat sangat berarti. Kedewasaan dan cara pandang pemikiran ke depan membuat saya makin belajar betapa pentingnya orang lain dan betapa tidak bisanya kita hidup tanpa rekan-rekan. But, just like I said before, life must go on. Kita berempat telah duduk di semester 4, dan sebentar lagi adalah penjurusan. memang kita tetap menjadi rekan tapi, kita telah memilih juga bidang minat yang dipilih…hmmm, dan itu semua berbeda beda. Budi klinis, Roberti PIO bersamaku dan Raymond sosial.

Clique yang tercipta di antara kita tidak hanya karena kecocokan dalam bidang akademik atau pola pikir. Berbagai pengalaman yang di alami bersama telah membuat kita semakin mengenal dan mengerti akan filsafah hidup. Ya mungkin memang tidak sekompleks itu. Tapi, pada dasarnya, percampuran akibat dari perbedaan kami, membuat kami menjadi satu tim yang bisa dikatakn solid meskipun memang banyak kendala yang dihadapi, karena biar bagaimanapun, kita tetap kembali ke inidividu per individu yang memiliki ruang masing-masing…

Tapi, dari 2 bagian yang saya jelaskan tentang clique tersebut, pada dasarnya saya ingin memberikan contoh nyata bagaimana manusia itu hidup dan bertindak dalam dunianya. Yang juga dapat membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dengan sesamanya. Hidup dalam kebersamaan yang akhirnya dapat membentuk suatu ke-sinergis-an yang utuh sebagai makhluk sosial…

Kawan, thanks for all of your “gift” to me…Life is never flat…

Selamat beraktivitas

GBU

2 thoughts on “Arti Sebuah Clique: Part II – ABR2, Terlahir Dari Segala Perbedaan

  1. Saya satu2nya yg gak ngekos brarti. Mungkin saya harus meluangkan sebagian rumah saya untuk penampungan (just kidding)…😛

    Keep fighting bro. Sukses bukan tujuan, tapi proses, seperti gunung yg tidak pernah dan tidak akan pernah selesai didaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s