Trilogi Ketika Etnis Dihadapkan Pada Perubahan: Sekelumit Tentang Etika Batak

Nusantara kita, Indonesia, menjadi suatu kepulauan yang sangat kaya akan penduduk. Dalam arti, kekayaan penduduk ini bisa dilihat dari keanekaragaman suku bangsa yang ada. Salah satunya adalah suku bangsa Batak atau kita kenal orang Batak. Untuk menjadi semakin akrab dalam saapan, tentu kita pernah mendengar, ‘Sih, Poltak, raja minyak dari Medan’. Hanya sebuah candaan ringan dari suatu kalimat tadi, tapi bisa kita koneksikan dengan suku bangsa yang akan kita bahas di dalam artikel ini.

Di tarik dari garis panjang sebuah sejarah, suku bangsa Batak termasuk dalam ras proto-Melayu, dan berdasarkan acuan darii diktat Etika Sosial, Aurelius Ratu, 2010, menyatakan bahwa suku bangsa ini belum menempati wilayah Nusantara hingga kurang lebih tahun 1300 Masehi. Begitu panjang perjalanan sejarah dari suku bangsa ini, termasuk bagaimana berbagai kebudayaan mempengaruhinya, termasuk kebudayaan Hindu.

Dari sisi kepercayaan dan agama, suku bangsa Batak umumnya bertalian dengan asal-usul mereka sendiri. Mereka sangat meyakini adanya dewa-dewi. Konsep kepercayaan mereka adalah, suku bangsa Batak meyakini adanya dewa-dewi yang memerintah atas manusia. Mereka juga kerap mengasosiasikan kejadian-kejadian alam tersebut dengan peran para dewa. (sepintas kita akan melihat bahwa kepercayaan ini mirip dengan kepercayaan bangsa Skandinavia yang juga percaya bahwa kejadian-kejadian alam disebabkan oleh peran para dewa-dewi). Berkaitan dengan roh dan jiwa, suku bangsa Batak mengenal 3 konsep tentang pemikiran, yaitu, Tondi, tentang kehidupan, jiwa, atau roh seseorang dalam hidup. Ini berarti, manusia hidup karena Tondi, jadi apabila Tondi meninggalkan tubuh, maka manusia mati. Yang kedua adalah Sahala. Sahala konsepnya hampir sama dengan Tondi yaitu “menghidupkan” manusia, namun, Sahala lebih ke potensi-potensi roh yang dimiliki oleh manusia, seperti kebijaksanaan, kualitas, kemuliaan, sehingga tidak semua orang memiliki Sahala. Lalu yang terakhir adalah Begu, yaitu konsep tentang kematian dimana ini merupakah roh juga namun sering menyusahkan manusia. Begitu kentalnya konsep-konsep dewa-dewi serta konsep hidup mati manusia sehingga melahirkan 3 struktur kehidupan yang dipecaya oleh suku bangsa ini yaitu adanya dunia para dewa, para manusia, dan para orang mati (hampir sama seperti kepercayaan dalam mitologi Yunani).

Sistem kepercayaan dari suku bangsa batak mempengaruhi juga sistem pemerintahannya. Mereka lebih cenderung membentuk sistem pemerintahan teokrasi, dimana pemimpin mereka merangkap menjadi dua yaitu kepala pemerintahan dan kepala agama, Raja-Imam. Namun, akibat adanya perpecahan, suku bangsa ini menjadi tercerai berai. Meskipun tercerai berai, sistem pemerintahannya tetap bentuk kerajaan dimana menggunakan sistem keturunan. Seperti yang tercantum dari Diktat, mereka memang menganut teokrasi, tapi dalam penerapannya, mereka memberlakukan sistem federal.

Setelah adanya pemaparan singkat dari sistem kepercayaan dan pemerintahan, nilai-nilai yang terbentuk dalam masyarakat itu pun menjadi hal yang menarik untuk lebih dikaji lagi. Tentu saja nilai-nilai itu berkaitan dengan konsep etika Batak sendiri. Konsep etika menurut mereka merupakan studi mengenai hak dan kewajiban manusia, peraturan moral yang dibuat dalam pengambilan keputusan dan sifat alami hubungan di antara manusia.

Nilai dan etika yang paling dominan adalah dari sisi agama. Agama dalam hal ini pengaruh dari Hindu adalah suatu hal yang mendominasi kehidupan masyarakat Batak termasuk kebudayaan di dalamnya. Dewa adalah pemegang kunci terhadap tiap tindak tanduk yang dilakukan manusia. Atas nama dewa dan larangannya, orang yang melakukan kesalahan akan dihukum. Dan tentu saja, akibat kebudayaan religi yang begitu kuat, tentu itu semua tidak terlepas dari berbagai macam ritual yang sangat kental di dalam masyarakat tersebut. Setiap tindak tanduk yang manusia lakukan atas kehendak para dewa juga selalu dikaitkan dengan hasil panen. Apabila hasil panen gagal itu berarti sebagai wujud konsekuensi manusia melakukan kesalahan. Tepat seperti apa yang dibahas di atas, bahwa, suku bangsa ini juga sangat mempercayai bahwa kejadian-kejadian alam berkenaan dengan kehendak para dewa.

Selain itu, di dalam kehidupannya, masyarakat Batak memiliki tata nilai kehidupan yang meliputi sikap mental (Hadirion) yang terdiri dari cara berpikir (Paniangon), cara bekerja (Parulan), logika (Ruhut, raska, risa), etika (Paradaton) dan estetika (Panimbangon) serta nilai-nilai kehidupan (Ruhut-ruhut ni parngoluon). Sistem Batak juga memiliki nama marga/fam/family yang menunjukkan garis keturunan. Orang Batak memelihara dan mengingat silsilahnya terhadap leluhur marganya dan hubungannya dengan saudara-saudara marganya. Jadi, marga adalah hal yang sangat penting bagi masyarakat Batak.

Pada umumnya orang Batak sangat kuat menjaga kekerabatan ini dan memegang adat budayanya meskipun sudah merantau jauh dari kampungnya. Sebagai contoh, sampai sekarang orang Batak masih memegang aturan tidak boleh menikah dengan saudara semarga atau bahkan satu rumpun marga. Demikian pula penyelenggaraan upacara-upacara adat, tetap dilakukan di perantauan. Masyarakat Batak sangat memegang adat karena inilah yang mencerminkan mereka bangga menjadi orang dengan suku bangsa ini. Ada pula berbagai sanksi bagi yang melanggar adat atau aturan. Namun, seperti yang dijelaskan di atas bahwa sanksi-sanksi ini memang berdasarkan dari adat itu sendiri yang dipenuhi dengan berbagai ritual. Sistem etika batak sangatlah kental terhadap adat serta sangat mempengaruhi tiap perilaku dari masyarakat Batak itu sendiri (Niken Nababan, 2011 dalam Etika Kristen Dalam Menerapkan Etika Batak)

Dihadapkan dengan itu semua, tidak juga dapat dipungkiri bahwa dunia makin lama makin berkembang dan makin mengglobalisasi. Termasuk juga masyarakat Batak dimana arus globalisasi bukan tidak mungkin masuk ke dalam diri masyarakat Batak. Dibenturkan dengan sistem etika dan segala penjelasan di atas, bagaimanakah jika hal ini dihadapkan dengan globalisasi yang makin besar?

Bersambung ke àPembenturan Perubahan dan Etika Etnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s