Trilogi Ketika Etnis di Hadapkan pada Perubahan: Pembenturan Perubahan dan Etika Etnis

Trilogi Ketika Etnis di Hadapkan pada Perubahan:

Pembenturan Perubahan dan Etika Etnis

Dunia dewasa ini memang benar sedang mengalami pergerakan. Ada yang menyebut bahwa dunia mengalami perubahan ataupun berbagai istilah klasik seperti globalisasi, modernisasi dan apalah yang menjadi lambang dari perubahan dan pergerakan dunia. Telah banyak juga artikel yang membahas tentang hal-hal ini baik secara penelitian ataupun dilahirkan ke dalam suatu tulisan artikel.  Dalam artikel ini dibahas tentang globalisasi, modernisasi atau apalah istilah yang sering kita gunakan dalam mendefinisikan perubahan yang terjadi, dan juga dibenturkan dengan etika dari etnis atau suku bangsa Batak dan Jawa (secara umum dan tidak bertujuan untuk mendeskritkan suatu pihak tertentu).

Menurut bapak sosiolog Indonesia, Selo Soemardjan, globalisasi merupakan terbentuknya organisasi dan komunikasi antara masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah yang sama. Emanuel richter, guru besar pada ilmu politik Universtas Aashen, Jerman, berpendapat, bahwa globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan yang menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia (http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2004730-pengertian-globalisasi/).

Dari kedua definisi, kita dapat melihat suatu benang merah yaitu, “persatuan” dalam bukan hanya dalam arti kebersamaan tapi lebih condong ke menjadi satu. Menyatukan, itulah kata kunci dari konsep dari globalisasi. Globalisasi bagaikan arus yang mengalir ke seluruh dunia. Perkembangannya begitu kuat hingga hampir semua negara dan wilayah di dunia ini terkena arus dari globalisasi. Bagaimana dengan Indonesia???

Dari jurnal Kesiapan Masyarakat (Wisudawan) Indonesia dalam Menghadapi Globalisasi, oleh Drs. Dadang Daradjatun, 2008, ia menyatakan bahwa globalisasi ternyata membawa dampak baik positif maupun negatif. Globalisasi berdampak pada berbagai bidang kehidupan dan segala aspek di dalamnya. Menurut jurnal, dampak ini dijelaskan dengan menggunakan istilah sisi terang dan sisi gelap dari globalisasi.

Dari sisi terang, kelebihan dari globalisasi adalah di bidang pertukaran komunikasi yang lebih gampang dan cepat, di bidang ekonomi dimana SDA dapat dimanfaatkan dengan baik serta membangun kerja sama dengan negara lain sehingga mendukung pertuumbuhan ekonomi, serta di bidang SDM dapat meningkatkan kualitas dari SDM itu sendiri akibat adanya pertukaran informasi dan pengetahuan dengan negara lain, meskipun perlu di kritisi lagi mengenai perkembangan SDM di Indonesia.

Hadir pula sisi gelap dari globalisasi dimana sangat berpengaruh di bidang ekonomi. Sangat perlu untuk di kritisi bahwa salah satu sisi terang dari globalisasi adalah perkembangan di bidang ekonomi, namun senyatanya begitu banyak pengangguran dan kemiskinan yang ada di Indonesia serta utang negara yang makin bertambah. Selain itu, lingkungan alam secara fisik juga seringkali di eksploitasi dengan alibi “menuju arah globalisasi”.

Berkaca dari segala sisi terang dan gelap itu, produk utama yang seringkali digaungkan dari globalisasi adalah, modernisasi. Modernisasi dari pandangan Widjojo Nitisastro, modernisasi adalah suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi serta organisasi sosial, ke arah pola-pola ekonomis dan politis.

Berdasarkan diktat Etika Sosial karya Aurelius Ratu, 2010, menyatakan bahwa ada tiga macam karakteristik dari modernisasi, yaitu, Teosentrisme dimana segala sesuatu dapat dicari sebabnya pada Alla, dan telah mengalami peralihan radikal menjadi Subjektivisme, yaitu, sekarang sebab segala sesuatu itu dicari dalam diri manusia itu sendiri, yaitu kesadarannya. Agama demikian berusah dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-sehari. Karakteristik yang kedua adalah berhubungan dengan dogma-dogma agama yang dulunya seringkali mempengaruhi tiap tindak laku manusia namun sekarang, manusia lebih bebas untuk berekspresi. Mengutip konsep singkat perspektif Humanistik, bahwa, manusia memang pada dasarnya memiliki kehendak bebas. Dan yang terakhir adalah peralihan dari dasar tindak perilaku manusia dimana tidak terlalu lagi disesuaikan dengan ajaran agama seperti kitab suci, namun lebih ke penelitian ilmiah. Memang, ketika kita membaca ini, tentu saja ada yang setuju dan tidak setuju. Memang seperti itu, karena dari tulisan ini, kita tidak bisa menggeneralisasikan bahwa bentuk dan karakteristik dari modernisasi adalah seperti ini.

Beranjak dari pembahasan singkat tentang konsep awal modernisasi, kita akan coba melihat contoh konkrit hasil modernisasi dalam hidup kita. internet, yang pada awalnya di gunakan dan di aktifkan hanya di kota-kota besar, kini kian masuk ke daerah-daerah dan perkembangannya lumayan pesat. Tidak hanya di Indonesia saja namun juga di luar negeri yang notabene menjadikan internet salah satu dari kebutuhan mereka. Internet yang fungsi utamanya menjadikan ruang tanpa batas menjadi salah satu produk modernisasi yang kian berkembang, dan tentu saja sifatnya mengglobal. Selain itu, bidang telekomunikasi juga kian marak berkembang, bahkan begitu banyak persaingan dan berbagai invensi dari perkembangan teknologi yang dapat menghubungkan manusia dari belahan dunia dan selatan dalam satu waktu ini. Begitu banyak bentuk modernisasi hingga di taraf kehidupan seperti di bidang pertanian ataupun kelautan. Teknologi yang kian berkembang menjadikan berbagai bidang kehidupan menjadi semakin terbantu. Lihat saja berbagai teknologi yang digunakan para nelayan Jepang untuk menangkap ikan. Ataupun perkebunan teh di Indonesia (memang tidak semuanya), telah berkembang menjadi lebih modern.

Menyambut hal tersebut, kita tidak bisa menutup mata, bahwa globalisasi dan modernisasi akan dibenturkan ke pluralitas Indonesia yang multikultural. Dalam diskusi kelas Etika Sosial, Senin, 21 Februari 2011, globalisasi dan modernisasi menyebabkan pergeseran nilai, budaya, dan etika. Globalisasi dan modernisasi yang kita singkat menjadi glodernisasi (hanya untuk mempersingkat istilah saja), menyangkut nilai dan identitas dari Indonesia sebagai kesatuan. Hal ini menimbulkan krisis. Mengapa? Karena adanya kesenjangan antara perkembangan glodernisasi itu sendiri dengan budaya serta moral yang ada di Indonesia. Krisi ini memunculkan apa yang disebut sebagai relativisme. Relativisme kita batasi sebagai persamaan suatu dasar. Dalam arti, jika kita menyebut relativisme budaya, maka semua budaya disamaratakan.

Relativisme???

Ya, pertanyaan lain yang akan muncul adalah apa yang akan terjadi apabila relativisme budaya terjadi? Lalu konsep budaya sebagai dasar tingkah laku dan dibentuk dari kumpulan perilaku apakah akan hilang? Dan dari dasar apakah manusia itu berperilaku apabila semuanya di samakan? Budaya itu sendiri di dalamnya mengandung nilai, norma, dan yang paling penting adalah identitas dan sistem. Berkaca dari trilogi lainnya yaitu Batak dan Jawa, apa yang akan terjadi apabila kedua etnis tersebut di satukan padahal di dalamnya mengandung berbagai norma, aturan, nilai, sistem dan tentu saja identitas yang sangat berbeda. “Aku orang Jawa, aku orang Batak identitasku adalah sebagai orang Batak, bagaimana mungkin aku ganti identitasku menjadi Jawa?” begitu sebaliknya.

Tantangan yang hadir di depan mata menurut Etika Jawa dan Batak adalah lunturnya sistem dan identitas Sistem Etika itu sendiri. Perlu di batasi di sini, menurut penulis, sistem etika yang dimaksud adalah keseluruhan sistem terdiri dari nilai, etika, moral, dan apapun yang berhubungan dengan Jawa dan Batak tersebut. Apabila para pelaku “tidak mampu” untuk “melestarikannya” bukan tidak mungkin arus glodernisasi akan menghanyutkan kedua sistem ini bahkan berbagai sistem yang ada di Indonesia, karena balik ke sebelumnya bahwa Indonesia adalah multikulturalisme. Selain itu, alibi untuk mengakulturasikan sistem tersebut dengan glodernisasi adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, karena mengasumsikan arus yang kuat itulah yang menang, takutnya, menggunakan dasar menyesuaikan sistem dengan arus akan membuat identitas asli dari sistem tersebut menjadi makin tenggelam, karena biar bagaimanapun, batu apabila tidak sekeras karang akan terkikis oleh air.

Hal ini menjadi semakin menarik dibahas apabila kita menghadirkan relativisme moral yang tentunya di dalam moral tersebut ada yang dinamakan prinsip, kebenaran dan ideologi. Mengacu pada ide utama yaitu ideologi, di dalamnya terkandung visi dan misi dan merupakan dasar. Namun, berkaitan dengan relativisme moral dan budaya yang dihadapkan denga ideologi, hadir unsur yang paling utama, yaitu pemaksaan. Segala budaya dan sistem yang ada di suatu negara contohnya di Indonesia akan “dipaksa” untuk menyamakan framework mereka ke ideologi negara sehingga hasilnya adalah, tidak adanya pluralitas dan multikultural.

Berbicara tentang ideologi dan globalisasi, muncul diskusi, apa ideologi dari globalisasi. Seperti halnya Indonesia yang menganut ideologi Pancasila, biar berbeda tapi tetap satu juga, lalu bagaimana dengan globalisasi? Yaaa, menurut pendapat penulis, ideologi dari globalisasi itu sendiri adalah minimalis. Ideologi minimalis dalam arti, semuanya di jadikan dekat, kecil dan gampang terjangkau. Selain itu pula globalisasi menjadi dunia yaaa mendunia. Dalam arti, menjadi satu, dunia menjadi suatu persatuan di segala bidang kehidupan. Tapi, yang menjadi pertanyaan, sejauh mana dunia dikatakn bersatu? Dan apa indikator dunia itu menjadi minimalis terlebih bila kita kesampingkan segala aspek multikultural dan berbagai multi lainnya. Kita harus sadar, dunia adalah sesuatu yang besar. Indonesia pun yang notabene hanya merupakan 1 negara adalah sulit untuk dipersatukan akibat multinya yang begitu banyak. Apalagi dunia?

Dari kesemuanya itu, kita bisa memetakan apa yang terjadi sekarang menurut Trilogi ini. Kita bisa melihat bahwa memang pada dasarnya individu adalah unik, dan tiap kesatuan juga adalah unik. Memang ada kalanya persatuan itu sangat penting, namun, kita juga harus melihat bahwa perbedaan adalah suatu hal yang penting. Kita bisa saling belajar dari segala perbedaan itu. Dan berhadapan dengan arus glodernisasi yang begitu marak, sikap kita adalah hal yang paling utama dalam menyikapinya. Tentu saja ini sangat subjektif karena memang arus ini mempengaruhi tiap individu per individu.

Lalu, apa tindakan kita selanjutnya???…

Selamat beraktivitas…

GBU

5 thoughts on “Trilogi Ketika Etnis di Hadapkan pada Perubahan: Pembenturan Perubahan dan Etika Etnis

  1. Yap, pertanyaan bagus dari Bro Afandi…apa selanjutnya???

    tapi, perlu diperjelas bahwa ini adalah semata-mata pandangan objektif saya tanpa mengdeskritkan suatu hal atau bahas SARA…hehehe…keep reading^^

  2. Dalam globalisasi tiada unsur paksaan untuk memilih budaya apa yg akan dianut/diadopsi.

    Karena sifatnya yang mencakup luas, manusia dari berbagai budaya dapat bertemu dalam komunikasi dalam internet. Hal itu menjadikan manusia seakan-akan tidak berbudaya (cultureless), karena media internet sanggup membahasakan pemikiran seseorang tanpa terikat budaya tertentu, dan selain itu, internet mengajak kita berkomunikasi dengan cara menyajikan fakta ketimbang opini.

    Ambil contoh, seseorang mengatakan terjadi peristiwa A, yang prosesnya berlangssung secara X, lalu Y dan kemudian Z. Berkat google, kita dapat meng-cross check-kan kebenaran peristiwanya dengan cepat. Keunggulan dalam hal ini tentunya akan kalah apabila akhirnya antara media cetak dan elektronik harus diperbandingkan.

    Internet, menurut saya adalah esensi komunikasi itu sendiri, komunikasi yang tidak partisipannya tidak harus menyandang label tertentu, karena siapapun dapat menjadi apapun, dan pembicaraan jadi tidak terikat ruang dan waktu.

  3. Kand, kamu harus paham kalau manusia sendirilah yang memilih untuk tidak berbudaya, dan tiada unsur pemaksaan dalam hal ini.

    Kenyataannya, manusia sendirilah yang menginginkan untuk menjadi makhluk tanpa budaya. Dengan komunikasi yang meluas seperti sekarang ini, sangat mudah untuk membandingkan suatu praktek budaya dalam suatu masyarakat dengan suatu praktek budaya lain dalam masyarakat lain. Kemudian, dengan pemahaman manusia yang semakin meluas di bidang sains,kita dapat menilai apakah praktek itu bertindak sebagai pendukung (support) atau penghambat (detriment) bagi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri.

    Dan manusia pasti, kapanpun dan dimanapun, memilih yang meningkatkan kehidupannya dan menjauhi yang menurunkan kehidupannya.

    Dengan globalisasi, proses ini dipermudah.

    So, ini yang kumaksud dengan manusia menjadi tanpa budaya (cultureless).

    Dan, mengenai apakah relativisme tu bagus ato gak, kembali ke apa itu makna relativisme.

    Kalo yg kamu maksud relativisme sebagai hal2 yg aku sebutkan, berarti kamu salah besar.

    Kenapa?

    1) Seperti yg aku bilang tadi, manusia (dari budaya tertentu) sendirilah yg memutuskan utk jadi tanpa budaya. Tiada pemaksaan disini.

    2) Manusia akan berhadapan dengan kebenaran yang lebih benar apabila dia membandingkan dan mempelajari lebih banyak pemahaman diluar pemahaman yang sehari2 dia dengar.

    Pada akhirnya, istilah relativisme kurang pas, karena ada yg miss antara pemahaman antara pembanding2an untuk memilih yg terbaik dengan (yang sangat aku anjurkan utk terus dilakukan) dan penyamarataan antar budaya.

    Paham? Jadi bukan merelatifkan setiap budaya, namun mengkomparasikan dan kemudian memutuskan pilihan terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s