Trilogi Ketika Etika Etnis di Hadapkan Pada Perubahan:Suatu Kajian Tentang Etika Jawa

Dalam tulisan sebelumnya, kita telah membahas tentang apa yang dinamakan dengan etika. Selain itu pula, kita telah berkenalan dengan keterkaitan antara etika, hukum dan agama. Untuk me-refresh tentang etika itu sendiri, etika secara etimologi berasal dari bahasa Latin, yaitu, ethice yang diturunkan dari bahasa Yunani dengan arti adat kebiasaan, watak atau kelakuan manusia. Etika adalah norma-norma yang mengatur hubungan antarmanusia (dalam ajaran Islam disebut muamalah). Dalam buku yang berjudul “Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa”, karya Franz-Magnis Suseno yang disadur penulis dari sebuah tulisan karya Ngut’z, seorang penulis muda di internet, Etika di definisikan sebagai keseluruhan norna dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana seharusnya menjalani hidupnya.

            Sistem nilai dalam hal ini sistem etika atau lebih ke etika itu sendiri dikaitkan oleh penulis dengan etika Jawa. Namun, sebelum masuk ke dalam pembahasan, perlu adanya pembatasan istilah tentang masyarakat Jawa yang notabene “melangsungkan” etika Jawa tersebut. Masyarakat Jawa ialah mereka yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan secara geografis mereka dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut Magnis, secara sosial masyarakat Jawa dibedakan menjadi tiga, yaitu: wong cilik (orang kecil) yang terdiri dari kaum petani dan mereka yang berpendapatan rendah, priyayi yakni para pegawai pemerintahan dann kaum intelektual, dan ketiga ndara atau kaum ningrat dalam arti keluarga kerajaan. Selain itu, pembahasan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung SARA atau apapun karena ini adalah murni studi literatur dan sebagai salah satu penunjang dalam mata kuliah etika sosial.

Kita masuk ke pembahasan tentang etika Jawa itu sendiri. Di dalam etika Jawa terdapat banyak konsep tentang banyak hal. Dalam diktat mata kuliah Etika Sosial oleh Aurelius Ratu, 2010, dituliskan bahwa, etika bagi masyarakat Jawa merupakan kesatuan sistem dan ilmu. Selain itu, sistem yang dimaksud adalah pandangan kosmologi dimana adanya keselarasan antara mikro, yaitu manusia itu sendiri dan makro yang merupakan unit alam semesta. Di dalamnya, etika jawa tersebut cenderung berbicara bagaimana individu harus ber-… (titiktitiktitik) dengan individu lain. Dalam arti bagaimana individu berinteraksi dengan individu lain. Berkaitan erat dengan etika jawa, terdapat satu konsep etika yang harus diperankan oleh setiap individu dalam hubungannya sebagai makhluk sosial yang dikenal dengan konsep unggah-ungguh, suba sita, boja krama (Supadjar, 19885: 192). Dalam sistem nilai budaya jawa terdapat norma hidup yang terbagi dalam perilaku ala ‘buruk’ dan bacik ‘baik’; asor ‘rendah’ dan luhur ‘mulia’. Serta perilaku yang tergolong nistha, madya, ian utama ‘buruk’, sedang, dan utama’ selain itu, masyarakat jawa selalu diharapkan berorientasi pada sesuatu yang baik atau luhur agar manusia mampu mencapai derajat luhuring budi ‘budi luhur’ selain itu harus jujur, dan bersikap rendah hati. Etika rendah hati selalu dikaitkan dengan anjuran untuk tidak berlaku sombong. Sikap ini termasuk dalam karya Ranggawarsita. (Pengaruh Islam dalam Karya-karya R. Ng. Ranggawarsita oleh Dhanu Priyo Prabowo ,2003).

Etika jawa juga mengandung prinsip repsiprositas atau timbal balik dan dalam budaya jawa dikenal dengan tepa slira. Maksudnya, etika itu bersifat sosial yang berakar pada sikap mental bagaimana memperlakukan seseorang secara baik dengan tetap mengukur semua itu dengan diri sendiri.

Dari berbagai data yang disadur dan dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari Ngut’z dan diktat Etika Sosial karya Aurelius Ratu, 2010 serta dikaitkan menurut penjelasan Magnis bahwa koordinat-koordinat umum etika Jawa dilambangkan dalam ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe dan memayu hayuning bawana. Koordinat tersebut terbagi menjadi:

1.  Sikap Batin yang Tepat

Dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah ajaran moral yang oleh Magnis disebut sebagai “sikap batin yang tepat” yakni sebuah pendirian batin untuk selalu mengendalikan hawa nafsu dan egoisme (pamrih: mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum). Dalam kepustakaan Jawa untuk menggambarkan tindakan hawa nafsu tersebut dikenal istilah malima yakni madat, minum, maling, madon dan main. Oleh karena itu, untuk menghindari dua hal yang sangat berbahaya tersebut masyarakat sering melakukan laku tapa, yakni suatu upaya untuk mengendalikan diri.

2.  Tindakan yang Tepat dalam Dunia

Dari konseps mengenai “sikap batin yang tepat” muncullah sebuah pandangan dalam masyarakat Jawa bahwa manusia jangan mengikat diri pada dunia akan tetapi membebaskan diri dari dunia, namun demikian bukan berarti menarik diri dari dunia. Dari satu pemahaman tersebut kemudian sampailah pada suatu ungkapan “rame ing gawe, sepi ing pamrih dan memayu hayuning bawana”. Yang dimaksud rame ing gawe yakni kewajiban untuk bekerja keras, sementara sepi ing pamrih berarti jauh dari sifat-sifat egois. Bila kedua ungkapan tersebut digabung melahirkan sebuah pengertian bahwa orang Jawa hendaknya selalu bekerja keras namun juga harus mengindari pamrih (imbalan). Kemudian memayu hayuning bawana ialah memperindah kehidupan dunia dalam keselarasan kosmos.

3.  Tempat yang Tepat

Pengertian tentang “tempat yang tepat” merupakan satu kesimpulan bahwa ada beberapa pertimbangan yang harus diindahkan oleh manusia, sebagai konsekuensi dari pemahaman-pemahaman di atas. Pertimbangan tersebut terkait dengan adat-istiadat, norma sosial, tata krama (unggah-ungguh) dan tradisi.

4. Pengertian yang Tepat

Pandangan Jawa mengenai sikap batin dan tidakan yang tepat didasari atas pemahaman tentang tempat yang tepat. Barang siapa yang memahami tempatnya dalam masyarakat, ia juga memiliki sikap batin yang tepat dan sengan demikian akan bertindak tepat. Dan sebaliknya, siapa yang membiarkan dirinya dikuasai oleh nafsu-nafsu dan pamrihnya menunjukkan bahwa ia belum mengerti tempatnya dalam kosmos. Artinya ia belum memiliki pengertian yang tepat. Pengertian yang tepat bagi orang Jawa dikenal dengan istilah “rasa”, harus dirasakan. Konon dalam rasa realitas yang sebenarnya (kosmos) membuka diri.

5.  Etika Wayang

Berdasarkan pemaparan Magnis, wayang merupakan sebuah pagelaran yang sarat dengan ajaran moral. Ajaran moral yang disampaikan bukan hanya mengenai keseimbangan antara baik dan jahat melainkan juga tentang pluralitas di dalamnya. Setiap penokohan dalam wayang sudah memiliki pakem-nya masing-masing, entah itu sebagai Pandawa maupun Kurawa. Dengan kata lain, Magnis menjelaskan bahwa masyarakat Jawa selalu membuka diri bukan hanya terhadap hal-hal yang baik melainkan hal-hal jahat pun memperoleh tempatnya, kedua-duanya dibutuhkan, setidaknya untuk menjaga stabilitas kosmos.

Dari kesemuanya itu, kesimpulan yang dapat ditarik dari etika Jawa adalah, sistem ini lebih menekankan pada bagaimana individu berlaku baik terhadap sesama, dan juga berlaku baik terhadap dirinya sendiri. Konsep tentang kebaikan itu tentu saja adalah standar dari masyarakat Jawa tersebut dimana mereka yang menentukan mana yang dikatakan baik dan benar serta mana yang salah dan kurang tepat. Selain itu, kebersamaan dengan sesama yang dilandasi oleh kerukunan merupakan tujuan dan dasar dari etika Jawa tersebut meskipun memang tidak terlepas dari penggolongan di dalam masyarakat itu sendiri.

Dari berbagai penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa etika jawa sangatlah saklek dalam arti sangat kental dengan berbagai budaya dan seakan menyatu dengan masyarakat Jawa itu sendiri. Namun, fakta berbicara bahwa dunia makin berkembang dan pulau Jawa tidak terlepas dari perkembangan zaman yang di dalamnya terdapat berbagai perkembangan. Salah satunya adalah globalisasi, internasionalisasi, modernisasi atau apalah istilah yang digunakan untuk menyebut term tersebut. Bagaimana etika jawa menjawab hal tersebut dan dikaitkan dengan relativisme dan berbagai perubahan?

Bersambung ke à Pembenturan Perubahan dan Etika Etnis

2 thoughts on “Trilogi Ketika Etika Etnis di Hadapkan Pada Perubahan:Suatu Kajian Tentang Etika Jawa

    1. hehe…terima kasih Mas Ngut’z

      tuh semua juga kan lahir karena referensi dari pembahasan mas juga tentang Etika Jawa…^^

      yap, memang bisa di share2 lagi…saya tunggu topik terbaru dari mas Ngut’z yaaa…

      btw, ada fb gak nih???hehe…mungkin bisa di add di

      Andhika Alexander

      siapa tahu, kita bisa saling share link tentang topik apa saja^^

      sukses selalu…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s