Ngaca Dulu Donk….^^

Pria maupun wanita, cowok maupun cewek (sama aja ya???), entah siapapun pasti pernah tahu dan kenal apa itu cermin, bukan kaca. Samakan persepsi, kaca adalah benda kayak beling gitu tapi tembus pandang, tapi cermin adalah benda kayak beling tapi di bisa tunjukkin apa yang ia “lihat”.. tapi intinya, kita semua tahulah apa yang aku maksud yaaa…hehehe…

Kita tentu saja pernah bercermin, dan bahkan bagi sebagian orang bahkan lagi didominasi oleh kaum hawa (bukan deskriminasi loh ya…^^), cermin adalah suatu benda wajib yang harus dipunya. Even, dalam buku Psikologi Abnormal karya Jeffrey S. Nevid dan kawan – kawan, edisi ke lima, penerbit Erlangga, di halaman 220, berbicara tentang salah satu gangguan dismorfik tubuh, seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin (panjang amat sumbernya…ckckck)

Yaaa, bukan cermin yang akan kita bahas, tapi bahasa bersayap dari cermin, yaitu…jeng jeng jeng…refleksi…(haduuuhhh…paan tuh???). secara awam, aku bertanya ke orang-orang, mereka definisikan refleksi adalah renungan, melihat kembali ke belakang, atau berkaca, atau apalah…tapi, paragraf di bawah ini mungkin sedikit membingungkan karena memang aku juga bingung pas buatnya…

Aku mau membahas tentang refleksi karena aku mau berfleksi tentang apa yang ada di diriku sebagai hasil refleksi aku yang lalu. Kegiatan refleksi ini sebagai usaha untuk melihat apa yang sudah aku refleksikan di hari yang lalu dengan sistem yang diajarin dosen kepada saya bagaimana berefleksi, dan melihat ke belakang. Refleksi diajari oleh dosen yang berefleksi juga terhadap mungkin di segala bidang kehidupannya, dan juga ternyata, refleksi adalah dibuat untuk menjadi bahan refleksi ke depan…lalu…lalu…enough…cukup rekkk…

Hosh…hosh…hosh…

Refleksi, adalah melihat ke belakang. Ya, mungkin konsep seperti itu masih rancu…benar…kata sampai sekarang pun, saya belum bisa menemukan apa sih konsep yang benar, teruji secara klinis,,eh, secara teori, apa yang dimaksud dengan refleksi…sedangkan mungkin, orang yang bisa mendefinisikan apa itu refleksi adalah hasil dari ia merefleksikan apa itu refleksi. Jadi, intinya, dari konsep refleksi itu sendiri, tiap kita, bisa mendefinisikannya…terserah…karena, jika ditarik garis lurus, orang yang menelurkan suatu teori merupakan hasil dari ia ber-refleksi…nahhh, tuh aku uda berefleksi tuh tentang definisi refleksi…gimana dengan kalian??

Nahhh, kita sepakat (meski ada yang tidak sepakat, tolong di komen ^^), bahwa refleksi merupakan suatu hal yang dapat kita gunakan untuk melihat apa yang telah kita kerjakan, apa yang telah kita pikirkan, apa yang telah kita ucapkan, atau apalah kita sebagai manusia dan apa sih kita???yaaa, refleksi adalah pertanyaan. Itu adalah batasan istilah yang ingin aku gunakan di sini. Refleksi adalah bertanya…tapi, mungkin beda dengan konsep filsafat ya dimana bertanya adalah filsafat…aku tidak akan menyeret bidang filsafat secara teoritis di sini, karena memang, saya pun membuat artikel ini tidak sebagai bahan acuan filsafat tapi pure, bahan refleksiku tentang apa sih itu refleksi?

Aku suka berefleksi, tapi menggunakan konsep sesuai pembatasan di atas. Bertanya. Contohnya, “apa yang uda aku lakuin hari ini?” “Apa benar ya aku uda bikin yang tepat?”, “Hmm, aku uda ucapkan apa hari ini?” dan banyak sekali pertanyaan seperti itu. Dan ya, bukan tidak mungkin kita akan menjadi Mr. Thinker, salah satu patung yang ada di film science fiction ^^. Atau gak, bukan tidak mungkin kita tiap hari seakan merenungi nasib kita. (haaa, merenungi??? It’s not my aim why i reflected…).

Berbicara hal di atas, kita akan menuju ke apa sih tujuan dari refleksi? Yaaa, tujuannya simpel, to be better. Simple saja, gak perlu ribet. Kenapa? Apa sih tujuan kita menanyakan apa yang sudah kita lalui?? Yaaa belajar dari situ…seringkali kita mendengar pernyataan, pengalaman adalah guru yang paling berharga, yap bener juga, tapi apa jembatan kita bisa tahu bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga kalo kita tidak mempertanyakan atau concern tentang yang sudah kita lewati? Refleksi, kita melihat sambil secara gak sadar, alam bawah sadar kita berproses untuk menanyakan apa saja proses yang telah kita lalui sehingga suatu pengalaman itu kita sebut sebagai pengalaman adalah guru yang paling berharga.

Tapi, kok kayaknya ribet deh??? Yap bener, karena mungkin kita terlalu kompleks dalam mikirn, gimana sih cara ideal untuk berefleksi…sampai sekarang pun aku masih sangsi apakah refleksiku adalah benar-benar refleksi yang ideal…dan aku pun mengkritisi tentang penilaian dosen tentang hasil refleksiku yang mendapat nilai (kalo gak  salah 80an), apa indikator atau adakah parameter khusus atau standar khusus tentang suatu hasil refleksi yang di transformasikan menjadi suatu nilai? Atau simplenya, kenapa kok hasil refleksiku di nilai 80? Mengapa gak 100 atau mengapa gak 50?

Kembali ke pembatasan awal, pandangan dan asumsi orang apa itu refleksi dari tiap individu adalah berbeda. Namun, dari paragraf di atas, aku mungkin mau mengkritisi bahwa 80 atau berapapun itu, adalah menurut ketajaman, kedalaman, dan kekritisanku dalam merefleksi apa yang sudah aku perankan dalam tugas tersebut. Meskipun timbul pertanyaan baru lagi, yaaa,,,apa indikator dalam itu adalah 100 dana apa dasar ketajaman dalam refleksi bisa di nilai 50???

Tapi sudahlah, tidak usah membicarakan nilai atau apapun, karena pertanyaan selanjutnya, dimana kita bisa nerapin refleksi atau hal apa aja yang bisa kita refleksiin?

Refleksi adalah bersifat holistik, totalitas, keseluruhan, semuanya…all…yaaa, semuanya. Contoh, sebagai dosen, mungkin akan bertanya, bagaimana sih cara ngajarku? Apa mahasiswa mengerti? Atau bagi direktur, “aku mau bangun cabang, tapi, bagaimana dengan cabangku yang ada?” atau juga turun level ke kita sebagai mahasiswa, “kemarin, pas ujian aku dapat jelek, kok bisa ya? Gak belajar tha?” , atau yaaa, bagi anak muda yang lagi kasmaran, “pacarku uda bahagia tha ama aku? Atau turun lagi, ke mana ke mana, dan dalam kesimpulan secara besar, semua bidang, apapun itu, siapapun kita, ya konsep holistik, all, semuanya, adalah dapat kita refleksiin, dan bisa jadi bahasn refleksi buat kita.

Pernah gak kita mendengar, “ngaca dulu donk, baru ngomong.” Atau “anda sebaiknya bercermin dulu melihat kelakukan anda.”…yaaa, memang, ketika mendengar pernyataan tersebut, kesannya adalah sarkasme baik ringan atau berat yang terlontar dari sih pembicara tersebut. Tajam. Memang, tapi, itu juga merupakan salah satu bentuk ajakan, “yukk refleksi dulu…”

Guys, aku gak ajak kita untuk merefleksi apa yang uda terjadi dalam hidup kita, karena tujuan utamaku tulis ini adalah,,,ya, bahan refleksi…refleksi tentang apa yang telah saya refleksiin…^^. Tidak ada paksaan bagi kita untuk berefleksi,,,mungkin ada yang bilang itu sangat berguna, tapi ada juga yang bilang itu habisin wakty…ya terserah…^^, the main point is, this is just an article about reflection…

Guys, kalo emang kita mau “ngaca”, yukkk kita  “ngaca”…selamat berkaca…

Selamat berefleksi, good night, have a nice sleep semuanya…

GBU

3 thoughts on “Ngaca Dulu Donk….^^

  1. pusing,… terlalu banyak kata refleksi dan letak titik pada bacaan jarang ampe ada yg buat q baca 2x,. hehe

    di sini q stuju sama pendapatmu dimana manusia perlu banget berefleksi/ngaca/apalah namanya ga terlalu penting, pokoknya artinya melihat pemaknaan yang terbentuk dari apa yang telah terjadi.

    hem,.. dosen yg ngasi nilai refleksi? heeeemm rasanya i know who is,…..
    hehe,. dulu q perna sempat bnr2 penasaran n akhernya tanya napa refleksi bisa dinilai?
    kan subjektif banget,. dalam atau ringan berbobot ato ga kan rancu?
    hehe
    dan akhere setelah dijelaskan q nangkep e ya penilaian itu didasarkan sedalam apa diri qta bisa inquiry thdp apa yg qta pikir, rasakan, dan secara objektif memberi pemaknaan subjektif terhadap suatu peristiwa,.
    dari situ q dilihatkan perbandingan beberapa refleksi dan akhere q bisa merasakan perbedaan dalam penilaian itu,.

    yg q kurang setuju dari artikel ini cuman 1: apa refleksi itu hanya pertanyaan?
    soalnya terkadang pertanyaan dari pemikiran manusia menurutku juga bisa menjadi jawaban,.

  2. hehee….itu mungkin unique giftnya ce….gaya penulisan…haha…coba deh km perhatiin kalo ada waktu, gaya penulisanku baik di blog ataupun di sms kan gt juga..banyak titik2 gak jelas…ya tentu saja sih kalo tentang artikel kuliah harus resmi dunk..hohohoho…

    hmm…perlu di tekankan, refleksi menurut subjektifku akan lahir dari sebuah pertanyaan meskipun bentuk refleksi memang tidak sekonyong-konyong cuma pertanyaan…hehehe…
    dari mana kita bisa buka topik refleksi kalo gak dari pertanyaan???hehe…

    anyway, thanks buat masukannya…heheh…
    saya tunggu komen2 pedas anda di artikel lainnya yaaa…heheh…

    keep reading, keep writing, jangan lupa saling share,.

    sukses selalu kawan…!!!

  3. haha baru nyadar ada komen ini. y smua pasti punya gaya sendiri2 la,.
    tulisan kan merepresentasikan pemikiran kita yg unik,.^^
    haha ga penting si,.pokoknya pertanyaan ataupun ngak y bukan masalah to.. yg penting refleksi itu gmn caranya kita bisa dapat makna dari sesuatu,. baik itu kita alami sendiri ato orang laen,. bentuknya si bebas,.^^
    kalau kamu lewat pertanyaan y ok kok,.

    pedas,. lombok lak an,.
    hehe q baru nulis ttg skripsi,. bacaen nanti ne km udah mau cari topik buat skripsi kelak,.^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s