Berkenalan Lebih Dekat dengan Behavioristik Skinner

Salah satu perspektif dalam dunia psikologi adalah behaviorisme. Behaviorisme merupakan suatu aliran psikologi yang menekankan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan proses belajar. Disadur dari jurnal Aplikasi dan Implikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran (Analisis Strategis Inovasi Pembelajaran) oleh Muh. Hizbul Muflihin menyatakan bahwa aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan, 1997: 7). Masalah belajar dalam pandangan behaviorisme, secara umum, memiliki beberapa teori, antara lain teori Connectionism, Classical Conditioning, Contiguous Conditioning, serta Descriptive Behaviorisme atau yang lebih dikenal dengan nama Operant Conditioning.

Salah satu teori yang terkenal dalam aliran behaviorisme adalah Operant Conditioning yang dikembangkan oleh Burrhus Frederick Skinner. Skinner membedakan antara perilaku responden dan perilaku operan. Ia menyatakan dalam jurnal yang berjudul The Behavior of Organism As Works in Progress oleh Charles Catania, 1988, bahwa pengkondisian tipe respondent classical, stimulus yang ada di dalamnya sudah jelas dan dipelajari dari penguatan primer. Dalam artian, pada saat pengkondisian, akan dipasangkan stimulus netral. Sedangkan perilaku operan dimana individu akan belajar dari respon atau konsekuensi.

Berdasarkan jurnal yang berjudul Kompetensi Pembelajaran Terhadap Kinerja Individual (Penelitian pada Perusahaan-Perusahaan Privat di Kalimantan Timur) oleh Tedja Susadya, 2007, pengkondisian operan merupakan suatu tipe dalam pengkondisian dimana perilaku sukarela yang diinginkan menghantar ke suatu ganjaran atau mencegah suatu hukuman. Sedangkan menurut Jon Erwin dalam Teori Pembelajaran Matematika menurut Aliran Psikologi Behaviorisme, 2009, menyatakan bahwa pengkondisian operan merupakan suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.

Sebagai tindak lanjut dari teori tersebut, Skinner pun mengembangkan teori tentang reward and punishment dimana konsep utamanya adalah ketika individu melakukan suatu perilaku, ia akan dihadapkan pada suatu konsekuensi. Skinner menganggap reward dan punishment merupakan faktor penting dalam belajar. Apabila seorang individu melakukan hal yang diharapkan maka ia akan mendapatkan reward sebagai penguat untuk menguatkan perilakunya. Sedangkan apabila perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka ia akan mendapatkan punishment. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dimana hal itu sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dan sebagainya), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dan sebagainya). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain, menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dan lain lain).

Di suatu surat kabar elektronik, yaitu, VivaNews.com, Kamis, 2 April 2009, dengan judul “Polri Dapat Penghargaan dari Perusahaan AC”, merupakan salah satu contoh dari pengaplikasian teori Skinner tentang reward. Pada artikel tersebut, dijelaskan bahwa pihak Polri (Polisi Republik Indonesia) berhasil menangkap pelaku pemalsu AC. Pelaku pencurian telah melakukan pencurian sebanyak 53 unit AC serta melakukan pemalsuan kompresor AC merk 507 dan 508 sejak beberapa tahun silam. Hal ini menyababkan kerugian bagi pihak produsen maupun masyarakat. Namun, pihak Polri berhasil menangkap pelaku. Sebagai bentuk apresiasi pihak perusahaan AC, Polri menerima penghargaan berupa plakat.

Dari artikel di atas, dapat dilihat bahwa terjadi proses pengkondisian operan. Sesuai dengan konsep dasar pengkondisian operan yang disederhanakan, individu melakukan perilaku terlebih dahulu baru ia mendapatkan konsekuensinya. Di dalam konsep psikologinya, stimulus hadir terlebih dahulu lalu respon mengikutinya dan dihadapkan pada konsekuensi dari adanya stimulus tadi. Sama halnya dengan artikel yang di atas, karena pihak polri berhasil menangkap pelaku pencurian, maka sebagai konsekuensinya, pihak polri mendapatkan penghargaan dari pihak perusahaan AC.

Contoh konkrit dalam penerapan konsep Skinner adalah lewat punishment untuk suatu perilaku. Hukuman penjara adalah contoh dari punsihment. Apabila orang melakukan kesalahan, aau perilaku yang tidak sesuai serta hal itu menyangkut suatu pidana hukum, ia akan diberikan punishment sesuai hukum juga. Kasus korupsi adalah bentuk dari perilaku yang melanggar hukum. Korupsi di anggap bahwa itu adalah bentuk pencurian. Tapi, di bahasan ini, kita tidak membahas tentang proses korupsi dan apa saja tentang korupsi secara men-detail. Dalam bahasan ini, dibatasi bahwa korupsi adalah melanggar hukum dan karenanya ada konsekuensi yang menyertainya ketika seseorang berperilaku korupsi. Di sini, konsep Skinner tentang punishment berlaku bahwa, ketika seseorang di hukum penjara karena melakukan korupsi, hukuman penjara ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku korupsi dari si pelaku. Namun, secara pengkondisian operan juga berlaku bahwa, ada tindakan dari individu dalam bentuk perilaku, lalu ada konsekuensi yang mengikutinya. Namun, di dalam kasus korupsi ini pengkondisian operannya, lebih ke konsep punishment positif, yaitu, memberikan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk mengurangi perilaku. Seharusnya seperti yang dijabarkan oleh teori Skinner, dengan adanya punishment yang diberikan, orang pelaku korupsi akan mengurangi atau bahkan menghilangkan perilaku korupsinya. Tidak begitu dengan apa yang senyatanya terjadi.

Berlandaskan pada berita dari Media Republika, edisi 15 Januari 2010, dengan judul “Enam Vonis MA Tidak Membuat Jera Koruptor”, dijelaskan bahwa, punishment berupa hukuman penjara bagi yang melakukan tindakan korupsi tidak membuat efek pengurangan perilaku bahkan perilaku korupsinya tetap dilakukan. Dari sini, kita dapat melihat adanya kesenjangan antara teori serta konsep yang ada, dengan yang ada senyatanya.

Dari berbagai penjelasan di atas, menarik untuk dikaji selanjutnya, bahwa, seberapa jauh teori yang ada, dipelajari dan diaplikasikan dapat sesuai dengan yang ada di lapangan. Dalam arti, ketika kita berhadapan dengan suatu teori, dan kita memegang kuat konsep teori tersebut, bukan tidak mungkin bahwa apa yang terjadi di lapangan akan berbeda dari konsep serta teori yang kita pegang.

5 thoughts on “Berkenalan Lebih Dekat dengan Behavioristik Skinner

  1. Nah, ini yang terjadi ya…tp di bagian akhir Kandy ternyata juga menemukan bahwa pada kenyataannya semuanya tidak sejalan dengan apa yang ada dalam teori. lalu kenapa seperti itu Kandy?

    Oh ya, mengenai teori skinner dapat diterapkan atau tidak. Kandy bisa membaca reflective writing yang saya tulis dalam blog punyaku. coba aja cek di nielsenprambudi.blogspot.com🙂

    1. kenapa seperti itu pun menjadi suatu hal yang menarik untuk di teliti, tapi berdasarkan kasus yang uda Kandy bahas di artikel akan sangat ribet karena kita maen kasus korupsi yang saya anggap ranah yang sangat sensitiv…mendingan jangan deh di utak atik kalo tentang korupsi…serem..kan maen pemerintahan..banyak pesilat-pesilat sejati disitu,,,kalo mereka tau nih blog kupas ttg itu sehabis-habisnya, wahhh,,,bisa dikupas saya..hehehe…

      ko, share lnknya donk, mungkin bisa jadi masukan buat kita yang masih mahasiswa nih..ghehehe,,,tp pas aku buka, kok gak bisa ya ko>??

    1. hehehe…it’s okay ko…sama aja nih, saya juga masih gaptek..haha..masa masukin foto aja gak masuk2…astaga…hehehe..tp gpp, berkembang seiring waktu berjalan…hoohoh…
      hmm

      membahas kasus korupsi memang sangat sensi ko..tapi, seringkali kita sering di pakein kaca mata kuda bahwa korupsi hanya sekelumit tentang korupsi uang…
      bagaimana dengan korupsi waktu, tenaga, dan apalah, yang notabene dilaksanakan secara gak langsung oleh kita…^^

      sebgai mahasiswa pun jujur ya pernah lah lakuin korupsi waktu. misalnya harus kerjain tugas, eh malah tidur…atau sebagai anak kos, mau bershin kamar ehh waktunya di tunda-tunda…dan masih banyak deh contoh lain yang lebih simple tentang korupsi…^^

      gimana kita bisa ubah negara kalo gak bisa ubah diri sendiri yang in other case juga lakuin korupsi..hehehe

      oke ko, aku coba cek yaaa blogmu…keep wrtiing n reading bro…^^

      suskes di kerjaan ko…hehe,.GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s