Suara Hati: Suatu Kajian Mendasar dari Sudut Pandang Etika Sosial (Part 2 – Rasionalitas Suara Hati serta berkenalan lebih dalam dengan Emotivisme)

Dari penjelasan sebelumnya, suara hati adalah sesuatu yang kompleks. Ya, itu benar. Kekompleksan itu pula ditambahkan oleh hadirnya suatu aliran yang menolak rasionalitas dari suara hati. Emotivisme. Aliran ini kerap asing di telinga kita.Disadur dari Diklat Etika Sosial, Aurelius Ratu, 2011, Emotivisme merupakan suatu aliran yang berpendapat bahwa penilaian moral pada hakikatnya hanya merupakan masalah perasaan (emosi) belaka, dan karena perasaan selalu bersifat subjektif, maka penilaian moral juga tidak mungkin ditentukan benar-salahnya secara objektif. David Hume juga mengatakan hal yang senada bahwa ia menolak adanya rasionalitas dan tidak ada hubungan kausalitas dalam peristiwa sehari-hari. Apa yang kita lihat sebagai relasi tersebut, hanyalah perasaan kita belaka.

Sebagai contoh sederhana adalah pada saat kita terkena api, kita kepanasan. Namun ternyata, menurut pandangan ini, kepanasan yang kita rasakan itu bukan karena api, melainkan karena perasaan kita saja. Ataupun, saat kita melihat jalanan yang basah karena hujan. Mereka akan berpendapat bahwa, jalanan basah itu hanya perasaan kita saja bukan karena hujan. Hujan dan jalanan basah adalah dua hal yang berbeda dan tidak dapat disamakan. Jadi, intinya, kaum ini menjelaskan tentang tidak adanya hubungan kausalitas yang ada di dunia ini. A ada karena B ada itu adalah salah, karena adanya A hanyalah perasaan kita bukan karena adanya B.

Menanggapi hal tersebut, apabila itu semua hanyalah perasaan belaka,mengapa banyak muncul perdebatan tentang perasaan? Lalu, bukankah perasaan adalah hal yang amat sangat subjektif? Contoh gampangnya adalah, A menyukai apel karena apel jenis X manis, menurut A. Tapi B, tidak menyukai apel jenis X karena menurutnya apel tersebut kecut. Muncullah perdebatan disini. Sedangkan, perasaan tidak dapat diperdebatkan karena menyangkut penilaian subjektif dari tiap diri individu. Bagaimana dengan moral? Apakah juga perasaan dapat diperdebatkan? Bagaimana dengan kasus pengguguran kandungan atau aborsi?

Disini, penekanan moral yang ada, aborsi tidak dapat dilakukan. Tapi, banyak orang yang melakukannya karena alasan aib dan malu atau apapunlah alasan yang bila diperhadapkan secara moral tidak dapat dibenarkan. Dari pernyataan ini mengandung tidak hanya sekedar perasaan bahwa, “ahh, aku akan aborsi biarpun berhadapan dengan moral aku salah. Mendingan aku pilih tidak bermoral daripada ini jadi aib keluarga yang merugikan seluruh keluargaku.”namun, disini juga mengandung proses pengolahan keputusan yang dimana didalamnya mengandung berbagai penilaian serta pertimbangan yang tidak hanya menggunakan perasaan namun juga rasionalitas serta hubungan kausalitas. “jika saya gugurkan kandungan, secara moral saya salah, tapi aib keluarga tertutupi.” Atau “jika saya tidak gugurkan kandungan, saya secara moral benar karena tidak membunuh, tapi saya korbankan nama keluarga.” Ada hubungan timbal balik, sebab akibat dan pertimbangan menggunakan akal budi, dan tidak hanya melibatkan perasaan belaka.

Aliran Emotivisme juga berpendapat tentang rasionalitas, namun, tidak sama halnya dengan rasionalitas penggunaan akal budi, karena menurut mereka, hal yang rasional adalah hal yang dapat dibuktikan secara ilmiah (scientific rationality), secara empiris, dan atau menggunakan bahasa orang awam, dapat dilihat secara nyata ataupun sesuatu dikatakan obejektif apabila kalau kebenarannya dapat dibuktikan secara ilmiah dan diamati secara impersonal atau tidak hanya dari satu pribadi saja. Dari sini, jika diperhadapkan dengan rasionalitas moral, mereka berpendapat bahwa rasionalitas atau penilaian moral yang menggunakan penilaian akal budi hanyalah perasaan belaka karena ia tidak dapat dilihat dan dibuktikan secara ilmiah. Penilaian moral hanyalah subjektifitas dari yang mengalami.

            Konsep objektivitas kaum ini dalam melihat objektivitas dari penilaian moral terlalu sempit. Mereka hanya selalu melihat apa yang dapat dibuktikan secara science. Perkembangan science tidak akan terlalu berkembang apabila juga tidak diperhadapkan dengan penilaian moral. Penilaian moral menjadi suatu komponen penting pula dalam usaha perkembangan dunia science, karena pada dasarnya, manusia juga berkarya atas dasar akal budi dan perasaanya. Inilah yang disebut sebagai gabungan antara objektivitas-subjektivitas keterlibatan subjek.

Jadi, pendapat kaum emotivisme tentang penilaian moral adalah hanya subjektif belaka ditolak, dikarenakan, teori utama mereka yang pada intinya menyatakan bahwa, segala sesuatu yang objektif hanyalah yang dapat dibuktikan secara ilmiah dan impersonal ternyata berasal selalu dari gabungan antara penilaian objektif-subjektif dari seorang pribadi yang mengembangkan keilmuanalam tersebut.

Di sini, suara hati jauh melanglang buana dari suatu penilaian tentang baik dan buruk dan dianggap sebagai suara Tuhan, lalu munculnya kontroversi tentang penilaian moral yang dianggap subjektif oleh aliran emotivisme namun ternyata mengandung penilaian obejektif pula, dan sampai pada akhirnya, suara  hati di dalam kaitannya dengan penilaian moral dalam situasi konkrit mengandugn obyektivitas, karena dalam situasi konkrit tersebut, individu, dengan bekal akal budi yang ia miliki, akan memadukan antara permasalahan yang ia hadapi dengan pemikiran akal budi yang dikaruniai kepadanya dan mengambil keputusan tentang permasalahan tersebut dari suatu rangkaian proses yang begitu panjang.

6 thoughts on “Suara Hati: Suatu Kajian Mendasar dari Sudut Pandang Etika Sosial (Part 2 – Rasionalitas Suara Hati serta berkenalan lebih dalam dengan Emotivisme)

  1. Suara hati adalah sesuatu yang dimiliki oleh semua orang secara hakiki. Paling peka dan dianggap sebagai “fungsi saran” terakhir untuk menentukan pilihan. Kadang orang “mengucilkan” suara hati karena banyak penyebab dan alasan. Tetapi alangkah lebih baik jika Kandy bisa menemukan unsur sejalan antara suara hati dan teori emotivasi tersebut sehingga fungsi emosional (baca :perasaan) pada akhirnya (dalam kasus) dapat mengawal “suara hati” dalam memberikan keputusan yang sifatnya obyektif bukan karena “menurut pandangan orang lain” tetapi “menurut pandangan si subjek” yang fungsi kontrolnya dilakukan oleh orang lain dan ternyata sesuai dengan pendapat (baca :suara hati) sendiri. Semoga sukses………

  2. wew.. koq aku lbh paham bca d sni dr pd di diktat y?
    ckckckckck –‘ stdkny kalimatny gag mbulleti….
    tapi aku mw tanya.. trs kelemahanny pendapat hume sndri mnrt anda apa?
    *(soal no 2) :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s