Suara Hati: Suatu Kajian Mendasar dari Sudut Pandang Etika Sosial (Part 1 – Pengenalan Lebih Lanjut tentang Suara Hati)

Pada suatu hari, ada seorang anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan sambil melihat orang-orang lalu lalang. Ia tetap memperhatikan keadaan di sekelilingnya hingga penglihatannya tertuju pada seorang  wanita yang sedang duduk di sebuah kursi dengan dompet yang hampir jatuh. Anak yang telah menginjak remaja tersebut dalam keadaan sangat lapar, dan ia melihat ada kesempatan untuk memperoleh makanan secara gratis karena di tepat di hadapannya ada sebuah dompet yang hampir jatuh. Namun, ia mengurungkan niatnya karena tampaknya ada sebuah suara yang berbisik kepadanya, bahwa ia tidak boleh melakukan tindakan itu karena itu adalah mencuri, dan mencuri adalah dosa.

Pernahkah kita mengalami seperti contoh di atas? Pernahkah pada saat kita akan melakukan sesuatu, tampaknya ada suara yang seakan berbisik kepada diri kita, agar tidak melakukan suatu perbuatan tertentu karena memang perbuatan itu salah? Pernahkah kita mendengar tentang suara hati?

Ya, suara hati merupakan suatu hal yang tidak terlalu asing di telinga kita, meskipun pada akhirnya memang apabila ditanya apa yang dimaksud dengan suara hati, banyak definisi yang akan muncul atau bahkan tidak terdefinisikan. Namun, disini, saya akan membatasi pengertian tentang suara hati, yaitu, suara yang berasal dari kedalaman hati atau pusat kedirian seseorang dan yang menegaskan benar-salahnya suatu tindakan atau baik-buruknya suatu kelakuan tertentu berdasarkan suatu prinsip atau norma moral (Aurelis, 2010 dalam Etika Sosial: Dasar-Dasar Perilaku Manusia dalam Masyarakat). Suatu definisi yang kompleks namun saya akan mencoba menyederhanakannya menjadi beberapa beberapa komponen penting.

Suara hati itu terdiri dari, penegasan dan suatu prinisp / norma moral. Penegasan disini yang dimaksudkan adalah suara hati itu punya tuntutan dimana di dalamnya mengandung penilaian baik atau buruk tindakan manusia dan tidak bisa ditawar. Tentu kita akan bertanya, seperti apa dan apa tolak ukur dari penilaian baik buruk dari suatu tindakan manusia? Para ahli moral etika sepakat bahwa, hal tersebut merupakan hukum moral yang digoreskan Tuhan dalam hati manusia. Menanggapi pernyataan tersebut, kita juga akan melihat hal kedua yang penting, yaitu, tentang prinsip atau norma sosial. Hal inilah yang menegaskan bahwa suara hati sama dengan suara Tuhan. Hal senada juga disampaikan oleh seorang ahli yang bernama John Henry Newman, (1801 – 1890) dimana ia menyatakan bahwa suara hati merupakan suara Tuhan.

Muncul pertanyaan refleksi, mengapa suara hati adalah suara Tuhan? Hal ini dikarenakan sifat kemutlakan tuntutannya, suara hati punya tuntutan moral yang mutlak. Kemutlakkan suara hati ini dikarenakan, manusia terbatas dimana penilaian baik-buruk dapat mengatasi kelemahan manusia, dan merupakan sebuah kewajiban, dimana munculnya suara hati pasti sumbernya dari Tuhan. Selain itu pula, menunjuk pada realitas yang mengatasi manusia, yaitu, Tuhan sendiri.

Di dalam komponen dari suara hati, terkait juga dengan situasi konkrit. Situasi konkrit yang dimaksud disini adalah situasi nyata yang di alami oleh seseorang dan memiliki ciri atau sifat yang mutlak dan personal. Disini muncul kesadaran akan kewajiban moral dalam situasi konkrit dan oleh karena itu suara hati dapat menegur atau mencela perbuatan manusia yang tidak sesuai dengan kewajiban moral.

Dalam menghadapi suatu permasalahan atau pengambilan keputusan pun, suara hati tetap mengindahkan pertimbangan akal budi dan bukan sekedar perasaan belaka. Hal inilah yang didekatkan dengan istilah karakter rasionalitas. Manusia, dalam bertindak dan dalam menghadapi suatu masalahm tidak hanya akan menggunakan suara hati seperti awam mengenalnya, dan sering dikatakan, “dengarlah suara hatimu, suara hatimu selalu tepat.” Tidak. Suara hatipun pasti bisa saja salah, karena memang suara hati itu juga sangat subjektif. Namun, untuk menghindari hal itu, manusia juga dibekali dengan adanya akal budi serta pemikiran, sehingga untuk menghadapi permasalahan, manusia dapat memilih secara rasional, tindakan atau pilihan apa yang harus ia tentukan.

Berkenaan dengan hal ini, tentu saja kita akan bertanya, “lalu, meskipun manusia memiliki karakter rasionalitas, pada saat menghadapi masalah, kan manusia kadang tidak bisa rasional? Itu bagaimana dong?” ya, kekeliruan akan rasionalitas suara hati memang mungkin saja terjadi, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu, kurang informasi dan memang si orang tersebut adalah peragu. Namun, ahli moral sepakat, bahwa apabila ia dalam mengambil keputusan telah melakukan prosedur dengan benar sesuai faktor-faktor di atas, ia tidak dapat dipersalahkan atas keputusannya. Namun, untuk ke depannya, ia juga harus berusaha untuk memperbaiki kesalahannya tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa suara hati memiliki tuntutan mutlak dan karakter rasionalitas.  Di bagian kedua dari pemaparan tentang bahasan ini, kita akan berkenalan dengan kaum yang berbicara tentang rasionalitas suara hati, dan dikenal dengan aliran emotivisme dimana salah satu tokohnya yang terkenal adalah David Hume, seorang ahli yang mengemukakan tentang Tabula Rasa, dimana, manusia bagaikan kertas putih sejak ia lahir, dan selama ia bertumbuh dan berkembang, kertas putih tersebut akan terisikan oleh berbagai macam tulisan, warna, dan berbagai paduan lainnya.

Bersambung…

2 thoughts on “Suara Hati: Suatu Kajian Mendasar dari Sudut Pandang Etika Sosial (Part 1 – Pengenalan Lebih Lanjut tentang Suara Hati)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s