Are You Ready for Globalization, Guys???

2 minggu sudah segala pengalaman yang tidak dapat terlupakan di Filipina telah terlewati. Banyak hal yang telah terjadi sepanjang dua minggu tersebut. Takut dan deg-degan saat on the way ke sana pake pesawat dan pesawatnya goyang-goyang, makan-makanan yang hampir semuanya “aneh” karena ada yang bilang terlalu manis, kurang pedes, ampe yang kurang rasa, terus, kenalan sama orang-orang Filipina, dapat teman baru, baik yang pake bahasa Inggris, bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia, hingga buka link ke fakultas-fakultas guna membangun kerja sama antara pihak universitas kami dengan Filipina…banyak pula kesan-kesan yang terjadi khususnya bagi kita 11 orang delegasi WM ke DLSU, baik dari kenalan sama rekan-rekan sesama mahasiswa, mendapat teman dapat sharing pengalaman masing-masing, saling berbagi tentang susah dan senang, teman minum (u knowlah kalo yang ini, urusa cowo…hahaha), sampe pas pulang ke Indonesia lagi, teman-teman di WM juga pengen tahu cerita-cerita kita disana…sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan meskipun jujur selama disana agak boring karena setiap hari hanya english class pada pagi hari…huuuaaa,,anyway, itu yang menjadi salah satu dasar topik yang akan dibahas di artikel ini…^^

Setelah menginjakkan kaki ke bumi pertiwi, nusantara tempat dimana kerajaan Majapahit dan Singasari berkuasa, dimana para penjajah bertekuk lutut saat Indonesia mengumandangkan kemerdekaan ada 17 agustus 1945,,,haduuuhhh, cukup-cukup-cukup…out of the ccontext kawan….hehehe….

Intinya, setelah tiba di Indonesia tanggal 31 Januari pagi, bukan selesai pula segala aktivitas kita dalam rangka program pertukaran pelajar Unika Widya Mandala Surabaya ke De La Salle University of Das Marinas. Banyak program lanjutan yang akan kita tempuh sebagai wujud nyata kelanjutan dari kegiatan ini. Namun, apa impact yang akan kita bawa ke kampus kita setelah kita pulang dari sana? Cukupkah hanya dengan meng-follow up kegiatan-kegiatan yang memang di agendakan oleh pihak universitas atau pihak fakultas masing-masing peserta???

Bagi saya pribadi, tidak.

Disini, saya memperkenalkan salah satu program yang dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari program pertukaran pelajar ini, yaitu, English Club.

Yap, klub inggris…(bukan klub bola, teman-teman….plisss…)…

Nah, latar belakang dibentuknya English Club ini adalah (ceile, kayak skripsi uuuy,,,) kita bisa mengglobal dalam hal pikiran, perkataan, perbuatan dan tingkah laku kita (serius mode: on).

Ya, memang globalisasi adalah hal yang melatarbelakangi mengapa English Club ini terbentuk. Mengutip pernyataan salah seorang dosen kami, Pak James (lagi…piiisss pak kalo membacanya…^^), bahwa di tahun-tahun berikutnya akan terjadi persaingan internasional dan pasar bebas. Dalam arti, semua orang lulusan luar negeri dan dalam negeri dapat bekerja di Indonesia (minimal) tanpa harus dipusingkan dengan segala urusan administrasi. Nha, menindak lanjut dari pernyataan ini, dalam pengertian, kita sebagai lulusan universitas, nantinya pada saat akan mencari kerja, tidak hanya akan bersaing dengan mereka, lulusan dari Indonesia, tapi juga bersaing dengan mereka yang merupakan lulusand dari luar negeri. Pertanyaannya, siapkah kita?

Hal ini merupakan bentuk nyata dari apa yang dimaksud dengan globalisasi apabila kita bertanya apa sih contoh nyata dari globalisasi. Selain itu, dalam mendukung proses ke arah sana, kita juga memerlukan medium komunikasi yang global (bukan handphone atau gadget canggih kita loh ya). Medium tersebut adalah bahasa inggris. Namun, bagaimana pendapat dan paling tidak, apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata tersebut? Takut, males, ngeri karena grammar, susah, bosenin, atau apa? Berbagai pandangan negatif kalo kita mau secara jujur merefleksikan di dalam diri kita masing-masing bahwa ungkapan-ungkapan seperti itulah yang seringkali muncul di dalam diri kita. namun, secara tidak sadar, ketika kita melihat ada orang yang berhasil untuk pergi ke luar atau berkompetisi di tingkat internasional, apa yang pertama kali kita pikirkan?

“duh, enak banget sih mereka. Kok bisa ampe ke luar negeri?”

Nah, kita bisa berkata demikian, tapi apakah kita sudah melihat bagaimana proses di balik mereka sehingga mereka bisa go internasional? Hal di atas juga seringkali meliputi pikiranku

Sharing pengalaman, di Sekolah Menengah Pertama, saya memiliki seorang teman. Ia memiliki mimpi yang sangat kuat untuk pergi bersekolah di Perancis. Nah, kami selaku teman-temannya memang mendukung, tapi kami juga mempertanyakan, “emang kamu bisa kesana? Gimana dengan bahasanya?” dia juga menjawab, “’lihat saja, tunggu hasilnya.” Dan memang hasilnya ia benar-benar konsentrasi di situ, dan akhirnya sekarang dia sudah berada di negeri bekas King Philip itu.

Itu menjadi batu loncatan bagi saya untuk memulai bermimpi, termasuk bermimpi ke Filipina, lanjutkan mimpi dari Sekolah Menengah Pertama. Tapi satu hal yang paling saya sadari, itu semua tidak akan terjadi apabila kita tidak mulai mencintai globalisasi beserta komponen yang ada di dalamnya termasuk bahasa Inggris.

Oleh sebab itulah, English Club dilaksanakan dengan pertemuan perdana pada tanggal 11 Februari 2011. Saya mengajak bagi semua rekan-rekan yang tertarik dengan English Club tersebut untuk join bersama kita dalam bersama-sama bersiap menghadapi globalisasi yang sesungguhnya. Tidak akan ada kerugian jika kita mengembangkan perbendaharaan English kita, malahan kita akan mendapat untung karenanya.

Sejauh ini, memang banyak yang tertarik dengan adanya English Club. Banyak rekan-rekan yang menyatakan bahwa, memang ingin adanya media yang dapat berfungsi untuk mengembangkan kemampuan English di segala bidang baik grammar, speaking dan listening. Namun, tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa tidak bisa Inggris.

Satu hal yang harus kita tanam, dulu pun apabila kita masih ingat, pada saat kita masih kecil, kita seringkali berkata kepada ibu kita, “mam, aku gak mau belajar, aku gak tau berhitung…” tapi appa hasilnya sekarang? Bisa kan?

Ataupun ada yang bilang, aku gak ngerti bahasa Inggris…tapi saat saya bertanya,”coba kamu menghitung dalam bahasa inggris atau kenalkan identitasmu pake bahasa inggris.” Dan apa hasilnya? Mereka bisa…

Yaaa, memang benar, kita seringkali menduga apa yang kita tidak bisa karena kita telah berpikir tinggi di atas apa yang telah kita bisa,kita lupa bahwa itu semua adalah proses belajar, dan tentu sebagai orang psikologi kita juga tahu, proses belajar adalah sesuatu yang membutuhkan waktu.

Dan atau, ada pula yang menyatakan, bosen atau waktunya yang tidak pas. Bagaimana kita bisa tahu kegiatan itu membosankan kalau kita tidak pernah mencobanya? Atau tentang masalah waktu, bagaimana kita bisa dirikan English Club kalo kita harus saling tunggu-tungguan atau saling nyocokin waktu?

Dasar atau filosofi dari English Club itu sendiri adalah Alvinism. Alvinism is about learning, fun, and love. Alvinism lahir dari salah seorang lecture kami yang bernama Alvin (akan dibahas di artikel selanjutnya). Namun intinya, di dalam English Club tersebut, kita tidak hanya saklek membahas tentang grammar-grammar-dan grammar karena sekali lagi, ini bukan jam kuliah atau pelajaran formal. Yang kita perlukan disini adalah speak up. Dan tidak perlu khawatir apabila kita tidak terlalu fasih bahasa inggris. Karena disini kita boleh gado-gado dan tidak akan ada nilai akademis yang masuk disini…bahkan, apabila kita sustain disini, bukan tidak mungkin, kita yang mengsharingkan dengan dosen kita tentang Inggris juga, dan sapatau dosen-dosen kita malahan ingin ikut kegiatan kita ini.

Di dalam English Club ini pula, apabila kehadirannya sudah sustain (bertahan), bukan tidak mungkin kita akan menghadirkan bintang tamu, native speaker asli, minimal orang dari Filipina. Seperti yang saya katakan di atas, pengalaman 2 minggu disana, membawa kami ke link-link atau jaringan yang dapat kita gunakan guna kepentingan perkembangan bersama yaitu kerja sama. Dan bukan tidak mungkin kita juga dapat mengglobalisasi, melanglang buana ke seluruh dunia karena kita telah mengglobalisasi baik dari perkataan, perbuatan, tingkah laku dan pemikiran kita semua…

Teman-teman, suatu rencana tidak akan terwujud apabila kita hanya merencanakannya. Perlu ada pengorbanan untuk membuat suatu rencana tersebut. Tapi percaya aja, kalo perencanaan kita matang, dapat masukkan dari orang lain, dengan persiapan yang komplit, pengorbanan baik itu waktu ataupun tenaga akan kembali dengan sendirinya…

Selamat beraktivitas, salam sukses,dan jangan lupa…Prepare for Globalization…^^

GBU

7 thoughts on “Are You Ready for Globalization, Guys???

  1. Untuk konteks Indonesia, aku lebih prefer istilah internationalisasi. Itu karena globalisasi sudah terjadi sejak 1990an. Blog yang kamu tulis ini misalnya, sudah globally accessible. Pengaruh ekonomi global sudah merasuk ke dalam kehidupana kita.

    Masalahnya satu, mayoritas orang Indonesia tidak siap untuk bersaing setara di tingkat global. Kenapa? Ya karena tidak pernah serius menginternasionalisasikan dirinya. Makanya, supaya bisa setara di globalisasi, ya harus internasionalisasi dulu.

    Di sinilah masuk kemampuan bahasa Inggris sebagai salah satu pilarnya. Tapi tidak kalah penting adalah kemampuan menunjukkan prestasi nyata yang diakui oleh negara lain. Contoh kecil misalnya, apakah blogmu ini dibaca orang-orang asing yang profesi dan minatnya sama denganmu? Itu menunjukkan bagaimana internasionalisasimu sudah berjalan belum.

    Jadi, internasionalisasi adalah menyiapkan diri kita untuk menjadi kompetitif di arena global. Selain bahasa Inggris, kemajuan cara berpikir, keberanian bereksplorasi dan keluasan wawasan menjadi penentunya.

    1. hehe,,,iya, saya setuju…tapi mungkin kita harus samain konsep tentang globalisasi dan internasionalisasi pak… soalnya konsepku, bahkan jujur aku tidak terpikirkan istilah internasionalisasi, karena bagiku, globalisasi adalah hal yang mendunia, yang setidaknya melibatkan seluruh dunia…sama halnya dengan konsep internasionalisasi stelah saya baca comment bapak…

      tapi, memang benarm apa yang kita butuhkan sekrang setidaknya adalah bahasa inggris sih, untuk paling tidak menginternasionalisasikan diri kita dan sekitar kita sebelum lanjut ke lebih tinggi…preparing the sword before the war is very important than praying all the time withour sharping our sword…^^

      1. Hehehe….ya memang istilah internasionalisasi digunakan untuk lebih menekankan bahwa kita yang menginternasionalisikan diri, bukan kita ditelan oleh globalisasi.

        Ada beda dalam menggambarkan prosesnya. Ini karena selama ini globalisasi ternyata membuat anak muda di Indonesia hanya bergaya kayak orang luar negeri (korban mode global), dan bukannya bikin batik menjadi trend global misalnya.

  2. great Kan! Sebagai insan Indonesia yang “melek” kita emang harus menggalakkan penggunaan bahasa global , bahasa inggris. and dalam hal itu kita punya seikit nilai plus, karena anak muda perancis jarang bisa bahasa inggris!
    LANJUTKAN…!!

    1. @ Pak James:
      Thanks seblumnya pak. masukkan buat saya terlebih perbendaharaan konsep-konsep saya…hehehe

      yaa emang itu pak, tapi setidaknya, (sebagai pengaplikasian konsep Skinner dalam reward) kita harus mengapresiasi juga kaum anak muda yang mulai mempopulerkan batik…lihat saja komunitas-komunitas batik di jejaring sosial inisial fb…ternyata adminnya kaum muda…great….

      @verdiyan:
      haha,,,yaaa, memang gitu bro sekarang…ternyata asumsiku salah…asumsi gw pertama, orang Eropa paling tidak bisa lebih familiar dengan Bahasa Inggris…tapi ternyata, sama halnya dengan di Filipina, bahkan denga di Indonesia…apa sih sebenarnya akar permasalahan sehingga terjadi fenomena “kurang meleknya” para warga kita khususnya anak muda? katayna mau saingan sama negara lain, tapi kok gini…???(gak semua sih…hehe)..keep reading…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s