Etika, Hukum, dan Agama (Part – 2)

Etika dan hukum adalah hal berbeda namun berkaitan. Begitu pula dengan etika dan agama. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa etika adalah suatu sistem nilai, suatu penilaian tentang baik buruknya perilaku manusia, dan tentang manusia dalam hidup bersama dengan manusia lainnya. Sedangkan, disini, agama merupakan suatu sistem juga dimana menyangkut kepercayaan individu atau komunitas akan sesuatu yang dipercayainya atau biasa disebut Tuhan. Agama juga merupakan prinsip dalam artian sebagai pegangan, pegangan akan kehidupan yang dijalani oleh seorang individu. Di Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam agama dan aliran kepercayaan. Namun yang diakui secara nasional adalah enam agama yang terdiri dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu.

Sebagai tindak lanjut dari keterkaitan etika – hukum – agama, agama dan etika juga memiliki ikatan terutama dalam hidup manusia. Didasarkan pada diklat Etika Sosial mata kuliah Etika Sosial Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya edisi tahun 2010, agama dan etika seringkali dipertentangkan. Hal ini dikarenakan agama lebih bersandar pada Tuhan, sedangkan etika pada rasionalitas manusia. Sehingga, secara explisit dapat disimpulkan bahwa agama memiliki posisi lebih tinggi daripada etika.

Namun kesimpulan tersebut perlu dikaji lagi terutama dalam jika diperhadapkan kepada berbagai perkembangan yang terjadi dewasa ini termasuk perkembangan isu-isu terbaru. Isu-isu terbaru tersebut seperti bayi tabung, konsep rekayasa genetika, dan kloning merupakan hal yang ditentang agama, karena pada dasarnya agama meyakini tiap kehidupan berasal dari karunia Sang Ilahi. Namun, ketika dihadapkan kepada etika dalam hal ini dibicarakan tentang rasionalitas manusia itu sendiri, dimana yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin, tinjauan agama dalam melarang isu-isu tersebut perlu dikaji lagi.

Sehingga, dari berbagai persoalan pelik yang terjadi dewasa ini terhadap isu-isu tersebut, manusia sebagai pelaku utama dalam pengadaan isu-isu tersebut harus secara bijak dan bertanggungjawab dalam menangani isu-isu tersebut dan tetap harus mempertimbangkan dari sudut pandang agama maupun etika dalam hal ini rasionalitas manusia.

Agama dan etika kurang bisa berdiri sendiri. Jika secara eksplisit kita hanya mengandalkan etika dalam hal rasionalitas, tentu saja semua hal dapat dirasionalisasikan dan tentu saja bisa melanggar berbagai nilai yang ada dan turun temurun dipraktekkan. Begitu pula, jika agama terlalu saklek dengan ajaran-ajarannya tanpa mempertimbangkan sudut pandang etika terutama dalam memberikan penilaian terhadap berbagai persoalan modern yang semakin hari semakin berkembang. Oleh sebab itu, meskipun keduanya adalah sesuatu yang berbeda, dalam prakteknya, agama dan etika adalah dua hal yang saling membutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s