Menulis dengan Emosi dan Hati: Sebuah inspirasi dari Mr. Gabriel

Bagaimana mungkin menulis pake emosi apalagi pake hati???…bukannya menulis hanya menggunakan pikiran dalam merangkai kata-kata agar menjadi suatu pertalian yang ada arti dan makna atau yaaa hanya sekedar menulis apabila ada tugas yang memang ditutuntut untuk menulis…Lagipula, menulis kan intinya cuma rangkai kata-kata saja. Ada arti, ada makna  dan ada input ada output. Tidak usah pakai emosi apalagi pakai hati.

Yaaa, itulah yang memang dulu ada di pikiran saya yang memang tidak kepikiran menulis adalah salah satu ungkapan emosi, perasaan, emosi yang tidak lain menggunakan hati.

Saya terlibat menulis dimulai semenjak duduk di tahun ketiga sekolah dasar dimana pada saat itu, kami disuruh untuk membuat suatu karangan mau menjadi apa nantinya dan apa tujuan kita (kalau kita pikir, astaga, anak SD aja sudah diajak untuk berpikir ke depan bahkan jauh ke depan, tapi, anyway, bukan itu topik kali ini alias intermezzzooo…^^). Pada saat itu, ya, saya hanya menuliskan secara formal saja, saya ingin jadi ini, saya ingin jadi itu, dan tujuan saya, saya ingin besar (tujuan yang menurut asumsi saya mendominasi anak SD…^^).

Namun, ternyata, karya dan bakti saya di bidang penulisan tidak berhenti di situ saja. Di Sekolah Menengah Pertama yang saya tempuh di Manado, salah satu kote yang berkembang di Indonesia, pun terlibat di dalam dunia penulisan, seperti menulis di majalah sekolah “D’Pax” atau pun membuat beberapa karya tulis baik secara pribadi maupun dengan rekan saya, Gabriel Ranti.

Karena mungkin usia makin beranjak dan mulai menyadari salah satu yang saya senangi adalah dunia menulis, saya pun mencoba untuk tetap berkarya dalam penulisan baik secara sederhana, seperti puisi, membuat cerpen (meskipun tidak pernah dipublikasikan) ataupun hal-hal lain yang berkenaan dengan bahasa serta bidang penulisan.

Waktu makin beranjak juga ketika saya memasuki masa Sekolah Menengah Atas di Tangerang yang memang saya terlibat aktif dalam pembuatan majalah sekolah baik sebagai editor ataupun penulis di majalah sekolah “Outlook”. Hingga sekarang, saya tetap mengadakan kontek dengan pihak almamater saya untuk tetap berkarya meskipun kami telah terpisah daratan. Di Surabaya hingga artikel ini diturunkan, kesukaan saya di dunia menulis tetap lumayan bertahan karena memang kadang kala sebagai manusia normal (saya akui saya normal kok, pure manusia…hehehe…) kadang perasaan malas, tidak termotivasi atau jenuh menghadang saya, yap, dan memang benar termasuk pada saat saya merencanakan topik ini.

Mengutip dari pernyataan salah satu dosen saya, Pak James (tidak ditulis lengkap ya namanya…^^), tersirat dalam kata-katanya bahwa yang diperlukan setelah kita membuat suatu karya adalah sustainbility….oleh sebab itulah saya mencoba untuk bertahan dan tetap berkarya di dunia menulis.

Nah, yang menjadi masalah sekarang, apakah karya-karya yang telah dibuat adalah dari hati? Kalau secara explisit kita langsung dapat menjawab, ya tentu saja, karena tidak mungkin kita bekerja tidak menggunakan hati? Apakah benar demikian?

Meniliki jauh ke dalam diri, ternyata saya merefleksikan kadangkala penulisan yang saya lakukan memang hanya sebatas rangkaian kata-kata, yang diolah oleh pikiran, menyatu dalam logika, dan melahirkan suatu untaian kata-kata yang kesannya indah, dan memang indah bila dibaca namun tidak dari hati. Bukan itulah ungkapan hati, tapi itu hanyalah sebagai ungkapan ide pemikiran. Contoh yang paling konkrit agar supaya tidak membuat rancuh jenis tulisan apa yang saya maksudkan adalah, pada saat menulis blog ini. Kadangkala, motivasi yang muncul dari dalam diri seakan membakar semangat saya dalam menulis. Setelah terpikir suatu tema, semangat itu muncul, tapi pada saat saya menulis…”ahhh, biasa aja. Cepetan selesai karena yang penting yaaa, sudah ditulis sih.” Akhirnya, hanya sebagai formalitas belaka.

Mr. Gabriel adalah salah satu lecture kami pada saat kami menjadi delegasi duta Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dalam rangka program exchange student ke De La Salle University of Cavitae. Selama dua minggu kami berinteraksi dengan dia, melakukan kegiatan bersama, termasuk bagimana cara menulis. Bukan sekedar bagaimana menulis dengan content yang baik, tapi yang paling penting, tulisan adalah medium yang dapat digunakan untuk pencurahan emosi kita, perasaan kita, dan itulah hati kita aktif. (tapi bukan berarti disapu rata ada yang menulis tapi tidak pakai hati).

Gimana sih cara nulis pake hati? Simple, tulis apa yang pengen kamu tulis. Mengapa kok sesimpel itu? Bukannya memang sudah sewayanya kita tulis yang ingin ditulis? Ya, memang benar demikian, tapi kadang apabila kita merefleksikan lagi, pada saat kita akan menulis sesuatu, kita akan berpikir dulu, kita terlalu mandek dengan “apa yang akan aku tulis selanjutnya” dan hasilnya tulisan kita tidak akan pernah jadi, atapun kita tidak pernah puas dengan tulisan yang telah kita tulis. Ini terjadi juga beberapa waktu lalu, kala saya ingin menulis sesuatu. Idenya sudah sangat matang, dan tinggal di ketik di dalam komputer, tapi pada saat akan mulai, saya mulai merasa malas untuk melanjutkannya. Secara pribadi, apabila terjadi hal demikian, saya akan berhenti menulis sejenak, menenangkan diri (karena asumsi saya adalah perasaan malas adalah wujud dari bergejolaknya emosi kita) lalu melanjutkan lagi.

Mr. Gabriel menyatakan bahwa, lewat tulisan kita dapat bercerita, tulisan dapat menjadi sahabat kita, dapat menjadi semuanya untuk kita, karena didalamnya yang ada adalah kita dan rangkaian kata-kata yang notabene dibuat oleh kita. sehingga, tulislah apa yang ingin kita tulis. Tentu saja apabila tujuan membuat penulisan adalah untuk dipublikasikan perlu juga diperhatikan karena saat tulisan kita dipublikasikan, tidak lagi menjadi dua pihak yaitu tulisan dan diri sendiri tapi ada juga pihak ketiga dimana ada orang lain yang akan membacanya. Namun, lebih jauh dari itu, menulis dengan hati adalah salah satu cara pengungkapan emosi kita dan bukan tidak mungkin, di kemudian hari, di dunia psikologi, menulis dapat menjadi salah satu terapi yang dapat digunakan untuk mengelolah emosi baik itu perasaan senang maupun perasaan sedih.

Thanks Mr. Gabriel, because of you, I, personally, also with our friends, then all the readers can be aware that, writing is another way to reveal our emotion…^^

God Bless You and have nice day guys…

2 thoughts on “Menulis dengan Emosi dan Hati: Sebuah inspirasi dari Mr. Gabriel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s