Sebuah Bahan Refleksi Awal Dalam Memulai Penyelaman di Dunia Psikologi Konseling

Sebuah Bahan Refleksi Awal Dalam Memulai Penyelaman di Dunia Psikologi Konseling

Oleh: Andhika Alexander (7103009027)

Konseling memiliki beberapa definisi dari yang paling kompleks yang didasarkan pada berbagai teori tentang konseling hingga yang paling simpel. Secara umum, orang mengenal konseling sebagai suatu aktivitas mengungkapkan sesuatu kepada orang lain yang biasanya dalam bentuk cerita. Pengungkapan yang dilakukan ini adalah tentang suatu permasalahan yang dihadapi oleh seorang individu. Konseling, dalam ilmu psikologi didefinisikan sebagai bekerja dengan banyak orang dan hubungan yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah. Disini terdapat tugas dari konseling itu sendiri, yaitu, beri kesempatan pada klien untuk eksplorasi dan temukan cara untuk menghadapi masalah. Inti dari konseling itu sendiri adalah komunikasi.

Bertolak dari definisi serta tugas dari konseling itu sendiri, dapat dipetakan berbagai ruang lingkup dari kegiatan konseling itu sendiri. Ruang lingkup konseling yang paling sederhana adalah keluarga. Dimana interaksi antar anggota keluarga atau ada anggota keluarga yang mengungkapkan masalah dan anggota keluarga lain mendengarkan serta mencoba memberi masukan merupakan bentuk ruang lingkup sederhana dari konseling. Selain itu, konseling dapat digunakan sebagai pembinaan terhadap keluarga. Sehingga dalam hal ini menjelaskan bahwa konseling tidak hanya dapat dilakukan oleh antara dua orang saja yang meliputi satu klien dan satu konselor tapi juga dapat berkelompok, seperti satu pasangan suami istri dan satu konselor. Setelah keluarga, ruang lingkup konseling juga dapat diaplikasikan ke dalam dunia pendidikan dimana seringkali disebut dengan bimbingan penyuluhan atau BP. Lewat BP ini, siswa atau pelajar dapat menggunakannya untuk bercerita atau berkomunikasi tentang permasalahan yang ia hadapi atau sebaliknya pihak sekolah dapat menangani siswa yang bermasalah, dengan salah satunya menggunakan BP. Antar sesama rekan pelajar pun atau bahkan sesama rekan kerja di sekolah atau di kantor, praktik konseling juga seringkali dipraktekkan. Namun, praktik konseling tersebut lebih dikenal dengan sebutan curhat atau curahan hati. Selain itu pula, konseling juga dapat digunakan untuk menangani berbagai kasus dalam hal penyakit seperti penyembuhan penyakit, kecanduan, serta berbagai hal permasalahan lainnya. Sehingga disini diartikan bahwa konseling adalah suatu kegiatan yang tidak terbatas oleh satu disiplin tertentu. Konseling dalam praktiknya menggunakan berbagai pendekatan psikologi antara lain psikoanalisis, kognitif-behavioral, dan humanistik.

Tidak ada batasan khusus siapa yang paling sering menggunakan konseling karena didasarkan hasil diskusi kuliah pada tanggal 1 Februari pertemuan ke-2 kelas Psikologi Konseling, dibahas bahwa dari anak kecil pun dapat terlibat dalam proses konseling, karena salah satu tujuan konseling adalah pemecahan masalah dan komponen yang penting adalah komunikasi. Sehingga, dari sini pula muncul pernyataan bahwa, tidak ada batasan usia konseling itu dipraktekkan sejauh ia dapat berkomunikasi. Apabila suatu individu telah dapat berkomunikasi, ia dapat melaksanakan konseling. Bagaimana dengan orang dewasa yang tidak dapat berkomunikasi verbal? Konselornya yang harus mempelajari dan mengetahui “bahasa” dari kliennya tersebut.

Untuk kelas sosial sendiri, dalam penanganan suatu masalah memang juga berpengaruh kepada bidang ekonomi dalam artian, secara asumsi, orang yang memiliki masalah dan ia ingin konseling dengan para ahli harus membutuhkan dana yang besar, karena secara asumsi makin ahli seseorang di bidangnya makin besar pula biaya yang harus dikeluarkan oleh klien untuk dapat melakukan konseling. Namun, memang tidak semuanya begitu karena mungkin ada juga yang ahli tapi berkecimpung di dalam kelas sosial yang ”rendah”.  Yang menarik disini khususnya di Indonesia adalah persepsi tentang kualitas dari konselor itu sendiri oleh para klien. Banyak yang mempersepsikan bahwa kualitas konselor dari Pulau Jawa akan lebih baik daripada kualitas konselor yang mengenyam pendidikan di daerah selain Pulau Jawa. Mungkin hal ini akan memunculkan hubungan konseling dengan etnik ataupun dengan tempat seorang konselor itu mengenyam pendidikannya.

Tapi, kembali ke tujuan dan fungsi dari konseling itu sendiri yaitu untuk memecahkan masalah. Sehingga, saya secara pribadi, apabila saya menghadapi masalah dan butuh bantuan dari konselor harapan saya mutlak, siapapun dan apapun label dari konseling (baik konseling, psikoterapi, penyembuhan spiritual, dan sebagainya), saya berharap bahwa masalah saya dapat teratasi karena kesan saya tentan label konseling adalah mereka merupakan suatu lembaga yang khusus bergerak di bidang penyelesaian masalah baik secara mental maupun fisik (meskipun dalam hal fisik, tidak sama halnya dengan mereka yang dari bidang kedokteran.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s