Renungan singkat di Pesta Pembabtisan Tuhan 9 Januari 2011

Berbicara soal agama adalah berbicara tentang keyakinan seseorang tentang apa yang ia yakini. Ya, itu tentu saja. Sangat dalam dan luas apabila kita mengkaji agama secara penuh, mendalam, luas dan yaaa, komplit. Tapi, sejauh manakah kita dalam menyelami agama tersebut…haiiizzz, gak usah dibahas deh yang gitu-gitu. Agama memang yaaa, complicated tapi bagiku agama itu simple, karena di dalam keyakinanku sendiri, Allah sendiri simple kok mencintai kita…cukup ngasi napas yaaa,itu uda simple. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas disini.

Tentu saja kita semua tahu dan kenal bahwa agam identik dengan tata cara atau perayaan atau yaaa ritualitaslah…saya adalah seorang Katolik tapi disini saya tidak memasukkan unsur-unsur SARA atau apapun yang mungkin tidak berkenan. Jadi, sebelumnya, saya mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Tulisan ini hanya ide, sharing ide saja…

Suatu ketika saya mengikuti misa di sebuah gereja Katolik. Saya sangat terkesan setelah misa bukan karena misanya yang membuat saya terkesan tapi apa yang terjadi di dalam misa. Saya tidak tahu apa istilahnya apakah saya penganut Katolik Konvensional (menurut definisi saya sendiri) atau apa, yang jelas saya tidak terlalu merasakan kehadiran Tuhan disitu, kenapa? Misa dipimpin oleh seorang pemimpin, ya tentu saja seorang Romo. Tapi menurut pendapat saya, Romo bertugas hanya di gereja atau mungkin pelayanan-pelayanan lainnnya, bukan sebagai (maaf) rapper atau pendengkur. Pada saat menyambut para umut kok seperti bergumam ya? Dan membaca Kitab Suci seakan ingin melatih lirik rap yang akan di battle kan di dance floor…hmm, gak salah sih, namanya juga style orang beda-beda, romo juga kan manusia. He he he…tapi, apa yang saya rasakan sangat berbeda. Bukannya naif atau apa ya, sedangkan menurut asumsi saya (berasumsi disini diperbolehkan loh ya…) orang yang tidak niat pun akan tergelitik hatinya untuk menaruh perhatian ke sih Romo yang sedang membawakan misa…hmmm, saat konsekrasi…astagaaa….itu tubuh Tuhan atau cuma roti biasa yang mau diubah? Helloooowww…

Secara jujur memang, ada keuntungannya juga sih yaa secepat itu, karena misa bisa selesai dalam waktu yang cepat dan memang saya harus buru-buru balik ke habitat karena lupa mencabut listrik kipas angin. Tapi, setidaknya misa adalah perayaan bertemu dengan Tuhan dan apapun itu, mengapa kok pemimpinnya saja tidak ”bisa” memimpin. Bicara idealisme disini tentu saja tidak ada ukuran atau standar yang pas bagi seorang romo atau pemimpin atau siapapun ketika mempimpin misa. Tapi sekali lagi ini hanya sharing bukan curhat.

Saya hanya ingin mengajak kita semua merefleksi apa yang terjadi sekarang dan bagaimana tanggapan anda. Hmm… Lanjut…tidak hanya itu. Saat homili atau renungan. Apa yang terlintas di benak Anda ketika kita akan memasuki sesi renungan? Seru, mungkin ada yang wahhh, saatnya tidur (jujur, penulis juga tidur saat renungan dan paling memalukan lagi saat bertugas menjadi putra Altar), waaahh,,, waktu membosankan tuh…ya ya ya…Anda semua benar karena kembali lagi ke tadi, Tuhan sendiri kan tidak menuliskan di Kitab Suci saat misa kamu harus duduk tenang mendengarkan, diam, dan apapun itu (tapi kalo emang ada, tolong diberitahu demi perkembangan kita bersama ya…^^).

Naaah, suatu hal yang menarik disini adalah renungan pada saat itu menarik…dimananya? ya, saat renungan dijadikan saranan untuk meminta sumbangan bagi suatu yayasan sosial. Great. Tuhan memang mengajarkan kita tentang kasih dan wujud nyatanya juga adalah bantu sesama. Tapi, rajutan kata-kata Romo saat itu sangat menggelitik hati saya ketika ia dapat mengkaitkan dari bacaan menjadi sarana untuk persuasi. Saya tidak mengatakan hal ini negatif atau positif karena memang ya terserah dari si selebran misa. Tapi pointnya adalah, apakah boleh seperti itu? Saat misa lalu diadakan persuasi? Hmm…kalo dilihat dari berbagai sisi sih bisa. Karena saya sendiri pun baru melihat dari satu sisi saja…hehe…mungkin lewat ini kita bisa merenungkan tentang tata cara di agama kita masing-masing. Kok kayaknya kalo kita menilik ke waktu-waktu yang lampau, tata caranya sedikit bergeser…aneh sih.,. bagi saya ya aneh…tapi, sudahlah, ini hanya sharing saja Tapi intinya, apapun itu apapun tata cara ibadah kita, yakin aja, Tuhan akan berkenan selalu…

Selamat Pesta Pembabtisan Tuhan bagi kita yang merayakan dan Selamat hari persatuan untuk setiap hari yang kita lalui…Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s