Lanjutkan…

Ide adalah sebuah hal yang selalu kita miliki, dan ide merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan harapan dan tujuan kita entah apa itu. Dalam bertindak atau melakukan sesuatu atau berada dalam suatu proses, ide seakan menjadi pemain utama bagi kita untuk mewujudkannya. Ide juga terkait dengan rencana.

”aku mau begini, maka aku aka begitu” atau ”di tahun ini, aku akan belajar lebih giat lagi agar dapat nilai bagus” atau bagi pengusaha ”ya, aku mau ekspansi bisnisku dengan cara begini begini begini” atau bagi mahasiswa yang akan membuat sebuah kegiatan ”aku mau membuat kelompok belajar untuk bagi ilmu dengan teman-teman, setelah itu di dalam prosesnya aku akan adain ini,,,ini,,,dan ini”

 

Yap, berbagai rencana, ide, kegiatan, tujuan, dan apalah istilahnya itu merupakan suatu kreatifitas kita untuk membuat hidup kita lebih bermakna, tidak bosan, ada aktivitas dan sebagainya.

 

Tapi pernahkah kita melihat ke belakang, apabila kita pernah akan melakukan sesuatu, kita akan merasa…”haduuuh, kok gin, kok gitu?” ”duuhh, jadi males dah ikut kegiatan ini…” atau berbagai bentuk pengeluhan sebagainya.

 

Yap, inilah kemampuan bertahan kita dalam suatu hal yang pernah, sedang dan akan kita laksanakan. Kemampuan bertahan. Dengan menggunakan kata-kata dosen saya, yaitu sustainbility, seakan menjawab semua pertanyaan itu semua.

 

Sebelum kita mengerjakan dan menjalankan ide-ide kreatif kita, berbagai rencana mutakhir, ide-ide brilian bermunculan, tapi, bagaimana saat kita melakoninya?saat kita mewujudnyatakannya?

 

Hal ini serupa terjadi pada penulis dan seirngkali terjadi pada penulis khususnya dalam menulis…yap, emang penulis sangat senang menulis dan banyak ide (just sharing yaaa^^)…banyak sekali ide yang tertuang dalam pikiran penulis, dan seakan melahirkan semangat juang 45 untuk segera menuangkannya ke dalam tulisan. Tapi, sesampainya di rumah atau sekarang di kos…”duuuh, kok malas yaaa…duhhh kok gini ya kok gitu ya.”

 

Yap, it’s all about sustainbility. Bagaiamana kita menjaga apa yang sudah ada, pertahankan itu, biarkan itu tetap berproses. Saat akan menulis artikel ini pun penulis sempat mengalami unsustain…dimana, yap, emang ide tentang topik ini telah diproses di dalam pikiran penulis, tapi ya itu, banyak defence-defence atau yaaa cari-cari alasan dari diri sendiri yang membuat semangat juang 45 itu seakan berubah menjadi saat Indo di jajah…pasrah dan malas untuk lanjutin.

 

Bagaimana dengan rekan-rekan sekalian?

 

Ada sebuah artikel bagus di Koran Tempo, edisi Rabu, 12 Januari 2011 tentang ” Mereka Pengusaha Media Termuda di Dunia”. intinya adalah mereka adalah penghasil majalah dan modal mereka hanya dari iklan yang didapat dari pengusaha lokal daerah mereka, tapi tetap sustain terhadap apa yang mereka lakukan meskipun banyak hal yang mengancam. Dan finally, they are success….artikel ini menjadi salah satu artikel yang mungkin dapat berguna bagi kita semua dimana, how to sustain, how to be passion, how to process this…and finally let us see that we will develop…

 

How about us? Wanna be sustainable? Lanjutkan…Just try it…it depend on us…^^ GBU…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s