Reflection, Resolution and Ready

Reflection, Resolution and Ready

5 hari berselang kita telah tiba di lihir tahun 2011 yang baru datang. Begitu banyak yang telah kita alami pada tahun yang lalu bahkan tidak hanya di tahun 2010 yang barusan lewat melainkan juga di tahun-tahun sebelumnya.

Di berbagai jaringan sosial terpapar secara gambling berbagai tulisan-tulisan tentang semangat awal tahun dengan berbagai impian-impian baru yang muncul atau pun berbagai pengalaman-pengalaman yang telah dilalui sebelumnya. Begitu banyak pula dihadirkan di berbagai media massa perjalanan atau pengalaman-pengalaman orang-orang akan tahun-tahun sebelumnya lalu dilanjutkan dengan apa yang akan dilakukan untuk tahun berikutnya…

Bagaiamana dengan kita? Apakah kita juga terlibat dalam aktivitas yang sama? Secara alur dapat digambarkan bahwa pengalaman akan memberikan pegangan bagi kita untuk membentuk impian, lalu dari impian itu akan membentuk strategi-strategi guna mencapai impian tersebut.

Saya pun demikian. Saya sangat menyukai menggunakan kata-kata reflection. Refleksi. Filosofi refleksi bagi diriku tanpa dipengaruhi oleh asumsi pribadi ataupun pengaruh sekitar tentang makan refleksi itu sendiri adalah melihat ke belakang. Apapun itu saya melihat ke belakang. Melihat apa yang telah saya lakukan, apa yang telah saya kerjakan, apa yang telah tercapai, apa yang telah terucap, apa yang telah terpikirkan. Segala kebaikan dan kesalahan, segala yang baik dan buruk hasil pengalaman masa lalu bercampur aduk menjadi satu menjadi suatu refleksi. Tapi tidak dapat dikatakan bahwa refleksi tidak sekedar melihat ke belakang karena esensi refleksi itu sendiri bagi saya adalah melihat ke belakang sebagai pegangan untuk menatap kaki saya yang tengah berpijak lalu memalingkan wajah ke depan menatap lurus ke dapan. Refleksi tidak seperti halnya dalam suatu kisah di Kitab Suci (bukan SARA) yang menceritakan tentang seorang wanita yang menatap kembali Sodom Gomora yang dibakar oleh sang Khalik dan akhirnya ia menjadi tiang garam.

Secara sadar maupun tidak sadar, kita pun seringkali menjadi seperti itu, namun tidak secara harafiah kita pun menjadi tiang garam saat menatap ke belakang. Tapi, coba kita lihat dan kita ingat, seberapa besar hasil refleksi kita, hasil kita melihat ke belakang menjadikan diri kita tiang garam yang tetap terpaku pada masa lalu atau dengan apa yang telah terjadi?

Kesuksesan besar yang dicapai tahun lalu menjadi semangat bagi kita untuk memulai tahun ini dengan lebih semangat, tapi karena eforia akan kesuksesan itu yang berlebihan membuat kita menjadi tiang garam yang hanya terpaku pada kesuksesan sehingga membutakan hingga melumpuhkan kita saat roda kehidupan berada di bawah. Ataupun, kegagalan besar menjadikan kita seakan ”Aku adalah orang yang terlemah, tersial, dan ter….” dan ter ter ter lainnya yang bernuansa negatif sehingga mengerogoti hidup kita selama tahun yang baru ini.

Tapi kembali ke topik sehingga muncul pertanyaan, kalo begitu, apa esensi dari refleksi? Yaaa, kita sendirilah yang mendefinisikan refleksi itu sendiri sehingga dari refleksi itu dapat membentuk suatu resolusi.

Resolusi?suatu kata yang terdengar tak asing bagi kita karena mungkin kita akan mengaitkan resolusi dengan kamera. Tapi ya, tidak ada kaitan dengan apa yang ditulis sih…hehehe…

Tapi mendengar kata resolusi, pasti akan langsung teringat dengan rencana masa depan, rencana yang akan dicapai dan berbagai hal lainnya yang menyangkut dengan perencanaan. Resolusi jika kita pisahkan padanan katanya akan membentuk kata re- dan solusi…yang secara harafiah dapat di artikan solusi baru. Solusi terhadap apa? Solusi terhadap hasil refleksi kita yang telah dijalani sebelumnya. Begitu banyak orang telah membuat resolusi di tahun baru ini…saya akan belajar rajin, saya akan lebih hemat, saya akan lebih menyayangi pasangan dan berbagai hal lainnya yang bernuansa positif.

Tapi, by the way, saat saya menulis ini, terbesit, kok resolusi tidak ada yang negatif ya???yaaa pertanyaan bodoh sih, namanya juga resolusi, cita-cita, masa cita-cita itu negatif? Tapi tetap saja menggelitik saya untuk terus bertanya kenapa harus selalu yang bernuansa positif dan normatif?

Tapi sudahlah, bukan itu pembicaraan yang akan dibahas…hehehe….resolusi juga seringkali dikaitkan dengan revolusi. Tapi jujur, penulis tidak mengerti apa perbedaan kedua kata tersebut meskipun keduanya bermakna sama bagi penulis yaitu, perencanaan. Yaaa, perencanaan untuk apa saja yang akan dicapai tahun ini yang baru. Tidak perlu permasalahkan kata-kata, atau istilah untuk perencanaan cita-cita atau yang ingin dicapai. Namun, sudahkah kita membuat perencanaan apa yang akan dicapai tersebut?

Setelahnya, yaaa, tentu saja, siapkah kita???

Are We Ready???

Happy New Year all, and Happy Reflect, Resolve, and Prepare to be ready…GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s