Etika, Hukum, dan Agama (Part – 1)

 

Tulisan dengan topik etika dan hukum telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan baik dari yang tingkat expert sampai di dalam perkuliahan. Begitu pula dengan pembahasan dibawah ini, dimana akan dijabarkan apa kaitan etika dengan hukum (serta kaitan etika dengan agama pada bagian kedua). Sebenarnya hal ini dibahas di dalam pertemuan perkuliahan mata kuliah etika sosial, namun, sebelum membahas kaitan keduanya, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan etika dan apa yang dimaksud dengan hukum.

Etika secara etimologi berasal dari bahasa Latin, yaitu, ethice yang diturunkan dari bahasa Yunani dengan arti adat kebiasaan, watak atau kelakuan manusia. Namun, di dalam praktek kehidupan sekarang, etika lebih cenderung diartikan dan dipahami sebagai sistem nilai atau peraturan yang tumbuh berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dimaksud adalah suatu penilaian tentang perilaku manusia baik atau buruk dimana dengan adanya nilai-nilai tersebut dapat sebagai landasan bagaimana manusia berperilaku. Dalam arti praktis, orang yang melanggar nilai dalam masyarakat adalah orang yang melanggar etika. Contoh yang sederhana adalah batuk dihadapan orang lain tanpa menutup mulut seringkali dianggap sekelompok masyarakat adalah tindakan yang tidak beretika dalam arti tidak sopan karena aturan yang berlaku adalah apabila batuk, orang harus menutup mulutnya. Baik buruk perilaku manusia ini tentu ada tolak ukurnya mana dikatakan baik dan mana yang dikatakan tidak baik. Hal inilah yang disebut dengan norma. Dan tentu saja, tolak ukur ini akan berbeda satu negara-negara yang lain. Dalam artian, perilaku A adalah sesuatu yang dilarang oleh negara A namun belum tentu perilaku A dilarang di negara B.

Lalu, bagaimana dengan hukum?

Hukum itu sendiri merupakan suatu kata kompleks akan definisi dalam arti banyak yang mendefinisikan apa definisi dari hukum. Dari zaman Aristoteles sampai Santo Thomas Aquino hingga Emmanuel Kant, dari definisi menurut sejarah hingga dari sudut pandang antropologi, hukum pada intinya didefinisikan sebagai seperangkat aturan atau kaidah yang tersusun dalam suatu sistem. Tujuan hukum itu sendiri adalah mengatur kehidupan manusia baik secara pribadi maupun tentang hubungan antar manusia. Hukum itu sendiri cenderung berawal dari lingkungan yang paling dekat dengan individu, yaitu keluarga, hingga yang bersifat melembaga seperti hukum di dalam pemerintahan terhadap negara serta sebaliknya. Hukum antar negara pun berbeda, dan yang paling hangat untuk dibicarakan sekarang adalah hukum tentang pornografi dimana di negara Indonesia, hukum ini menjadi salah satu undang-undang dan di negara lain seperti negara barata agak “membebaskan” hal yang menyangkut pornografi tersebut.

Lalu apa kaitannya dengan etika?

Di dalam diklat mata kuliah Etika Sosial dijelaskan bahwa hukum mengandalkan etika, dan tanpa sebuah etika akan menjadi sebuah produk hukum yang buta, kasar, dan naif. Produk hukum juga didasarkan pada sebuah pertimbangan logis, etis dan memiliki rasa keadilan yang sama. Dari penjelasan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, etika adalah yang menjadi dasar dari hukum.

Kembali ke etika itu sendiri, yang merupakan sistem nilai antara baik dan buruk namun disini perlu diingat bahwa etika adalah soal prinsip dasar penilaian baik-buruknya perbuatan dan tingkah laku manusia dalam hidup bersama.

Dalam masalah hukum, sesuatu yang melanggar hukum adalah salah, namun, jika itu dihadapkan ke etika, belum tentu sepenuhnya salah sehingga perlu peninjauan lagi (apabila dari segi etika). Sebagai contoh, membunuh adalah tindakan melanggar hukum, dan memang orang yang membunuh akan diproses secara hukum apapun latar belakang pembunuhan tersebut sekalipun untuk membela diri. Namun, jika dihadapkan dengan etika, membunuh memang salah, tapi, apa alasan seseorang membunuh? Apabila untuk membela diri, apakah tetap salah? Berdasar pada kasus tersebut, orang membunuh adalah salah dihadapan hukum, tapi di sisi lain ia membela dirinya, hasilnya adalah ia tetap menjalani hukuman penjara, tapi hukumannya dapat diperingan karena ada alasan membela diri bukan untuk disengaja.

Sebagai contoh lain yang dekat dengan kehidupan kita adalah misalnya di suatu perusahaan X, ada dua orang manager yang bersahabat. Yang satunya adalah manager HRD (Human Resources Management) dan yang satunya manager operasional. Di suatu ketika, manager operasional melakukan kesalahan yaitu memakai uang perusahaan secara ilegal dan menurut hukum serta tata tertib perusahaan, pelaku tersebut harus dikeluarkan. Menjadi suatu pilihan yang sulit bagi manager HRD untuk mengeluarkan pelaku tersebut, namun, hukum tetaplah harus dilaksanakan, namun, setelah ia melakukan pemutusan hubungan kerja dengan manager operasional tersebut, manager HRD tetap menyemangati dan memberikan bantuan moril kepada manager operasional tersebut. Itu merupakan salah satu contoh nyata dimana hukum tetap dilaksanakan namun tetap memperhatikan etika dalam kehidupan bersama dalam interaksi antar manusia.

Oleh sebab itu, dalam praktiknya, hukum harus selalu disesuaikan dengan etika, termasuk juga pemberian hukuman bagi para pelanggar hukum. Nah, yang menarik terjadi di Indonesia adalah dalam contoh konkrit seperti dibawah ini bahwa perlu dipertimbangkan pula, manakah yang lebih berat untuk dihukum, orang yang mencuri uang rakyat demi kepentingan pribadi, atau orang yang mencuri obat di apotik karena tidak memiliki uang untuk membeli obat bagi keluarganya yang sakit. Disinilah terlihat jelas, apa beda dan kaitan etika serta hukum dan bagaimanan keduanya dikolaborasikan dalam pelaksanaanya.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s